Jakarta, Infopublik – Perkembangan teknologi mengubah cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi. Televisi dan radio yang dahulu menjadi sumber berita utama kini berdampingan dengan media sosial dan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Namun, di tengah perubahan tersebut, akurasi informasi, kemampuan berpikir kritis, dan hubungan antarmanusia tetap menjadi unsur penting dalam komunikasi.
Communication trainer Patricia Rani dalam gelar wicara Jejak dalam Komunikasi: Dari Masa Lalu untuk Generasi Masa Kini, bagian dari peluncuran buku Menata Arus, Menjaga Pesan: Dari Penerangan ke Komunikasi Publik yang diselenggarakan Museum Penerangan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (28/10/2026),mengungkapkan, perubahan lanskap media berlangsung sangat cepat.
Dijelaskan, jika pada 2014 televisi dan radio masih menjadi rujukan utama masyarakat untuk mencari berita, beberapa tahun kemudian media sosial berkembang menjadi salah satu kanal utama untuk memperoleh informasi.
"Perubahan tersebut turut menggeser cara komunikator berinteraksi dengan audiens. Penyiar radio, misalnya, kini tidak cukup hanya mengandalkan suara, tetapi juga dituntut hadir secara visual melalui siaran langsung dan konten digital," ungkap Patricia.
Menurut Patricia, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru bagi generasi muda. Di tengah maraknya konten digital dan penggunaan AI, kemampuan membangun hubungan antarmanusia serta menyampaikan pesan yang terasa dekat dengan audiens tetap memiliki nilai penting.
"Konten yang menarik, bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan juga membangun kedekatan melalui bahasa, gestur, dan penyampaian yang relevan dengan pengalaman audiens," ucapnya.
Selain itu, Patricia menekankan pentingnya critical thinking atau berpikir kritis, terutama bagi pelajar SMA dan SMK yang tengah mengembangkan kemampuan analisis dan penalaran. Kemampuan tersebut diperlukan agar generasi muda tidak sekadar mengikuti tren teknologi, tetapi mampu menghasilkan informasi yang berkualitas. Konten yang viral, menurut dia, seharusnya tetap ditopang pengetahuan dan pemikiran orisinal.
Perspektif historis disampaikan pemerhati museum dan praktisi komunikasi Wahyunigrat. Ia menilai buku Menata Arus, Menjaga Pesan: Dari Penerangan ke Komunikasi Publik menarik karena merangkum perjalanan komunikasi pemerintah sejak era Kementerian Penerangan hingga perkembangan komunikasi publik saat ini.
Menurut Wahyunigrat, perubahan teknologi komunikasi semakin cepat dari waktu ke waktu. Perkembangan telepon seluler, televisi, telepon pintar, hingga AI menunjukkan bahwa cara masyarakat berkomunikasi terus berubah dalam rentang waktu yang semakin singkat.
Namun, kemudahan teknologi juga membawa risiko apabila tidak diimbangi kemampuan berpikir mandiri. Ia mengingatkan generasi muda agar tidak sepenuhnya menyerahkan proses berpikir, analisis, dan pengambilan kesimpulan kepada teknologi.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika AI dapat membantu menyusun teks, mencari informasi, hingga menghasilkan konten dalam waktu singkat. Kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap informasi yang dihasilkan dan tanggung jawab atas penggunaannya.
Wahyunigrat juga mengingatkan pentingnya memeriksa sumber sebelum membagikan informasi. Kebiasaan meneruskan pesan tanpa memastikan kebenarannya dapat mempercepat penyebaran informasi keliru, terutama di media sosial dan aplikasi percakapan.
Ia membandingkan kebiasaan tersebut dengan praktik komunikasi dan jurnalistik pada masa sebelumnya, ketika akurasi menjadi perhatian utama sebelum informasi disampaikan kepada publik.
Dalam praktik jurnalistik, seorang presenter tidak cukup hanya membacakan naskah. Ia perlu memahami substansi berita, memeriksa fakta, dan memastikan informasi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan.
Kesalahan informasi bukan persoalan sepele karena dapat memengaruhi pemahaman dan kepercayaan masyarakat. Karena itu, koreksi setelah berita tersebar tidak seharusnya menggantikan proses verifikasi sejak awal.
Pembahasan dalam gelar wicara tersebut memperlihatkan bahwa prinsip komunikasi yang bertanggung jawab tetap relevan meskipun medianya berubah. Pada masa awal kemerdekaan, penerangan berperan menyampaikan informasi kepada masyarakat hingga ke wilayah yang sulit dijangkau. Kini, tantangan komunikasi publik meluas ke ruang digital yang memungkinkan informasi tersebar dalam hitungan detik.
Perubahan medium itu menuntut masyarakat untuk semakin cermat memilah informasi, memahami konteks, dan memeriksa sumber. Bagi generasi muda, literasi digital tidak cukup sebatas keterampilan menggunakan perangkat atau membuat konten, tetapi juga mencakup kemampuan menilai kebenaran informasi dan memahami dampaknya.
Melalui peluncuran buku dan gelar wicara dalam rangka Hari Sumpah Pemuda ke-98, Museum Penerangan menghadirkan sejarah komunikasi sebagai bahan pembelajaran bagi generasi masa kini. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang dialog untuk melihat hubungan antara pengalaman masa lalu dan tantangan komunikasi di era teknologi.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi bukan hanya soal seberapa cepat informasi dapat diproduksi dan disebarkan. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan informasi tersebut akurat, bermanfaat, dan disampaikan dengan tanggung jawab.