Jakarta, InfoPublik — Di tengah derasnya arus informasi dan pesatnya perkembangan teknologi digital, komunikasi publik tidak cukup hanya menyampaikan pesan kepada masyarakat. Informasi yang disampaikan juga harus benar, bermanfaat, dan dapat dipercaya untuk menjaga kepercayaan publik serta menciptakan ruang informasi yang sehat.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Viada Hafid, menegaskan hal tersebut dalam pesan yang disampaikan pada peluncuran buku Menata Arus, Menjaga Pesan: Dari Penerangan ke Komunikasi Publik dan gelar wicara bertajuk Jejak dalam Komunikasi: Dari Masa Lalu untuk Generasi Masa Kini di Museum Penerangan, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Meutya mengapresiasi penerbitan buku tersebut sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan perjalanan komunikasi publik Indonesia yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Menurut dia, media dan teknologi boleh berkembang, tetapi tanggung jawab untuk menghadirkan informasi berkualitas harus tetap menjadi prinsip utama.
“Komunikasi publik bukan hanya soal menyampaikan informasi, tapi juga membangun kepercayaan dan menjaga ruang publik yang sehat,” demikian pesan Meutya dalam kesempatan tersebut.
Ia menegaskan bahwa kualitas komunikasi publik tidak hanya diukur dari seberapa cepat informasi disampaikan atau seberapa luas jangkauannya. Ketepatan pesan, manfaat bagi masyarakat, dan kredibilitas informasi juga menjadi unsur penting dalam membangun kepercayaan.
Meutya juga menambahkan, perkembangan teknologi digital membuat informasi dapat menyebar dalam hitungan detik melalui berbagai platform. Kondisi ini membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi dengan lebih mudah, tetapi sekaligus menuntut pengelolaan komunikasi yang semakin cermat.
"Dalam situasi tersebut, komunikasi publik perlu disampaikan secara jelas, relevan, dan bertanggung jawab. Informasi yang akurat membantu masyarakat memahami kebijakan maupun perkembangan isu publik, sedangkan pesan yang tidak dikelola dengan baik berpotensi memunculkan kesalahpahaman," ujarnya.
Buku Menata Arus, Menjaga Pesan: Dari Penerangan ke Komunikasi Publik mengangkat perjalanan komunikasi publik Indonesia dari masa penerangan hingga perkembangan komunikasi publik saat ini.
Dokumentasi sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan saluran komunikasi harus diikuti kemampuan menyesuaikan cara penyampaian pesan tanpa meninggalkan prinsip kebenaran dan tanggung jawab kepada masyarakat.
Peluncuran buku tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026. Meutya berharap momentum tersebut dapat mengingatkan masyarakat mengenai kekuatan komunikasi dalam menyatukan berbagai latar belakang dan mendorong generasi muda berkontribusi membangun ekosistem informasi Indonesia yang lebih baik.
"Semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 tetap relevan dalam menghadapi tantangan komunikasi masa kini. Di ruang digital, pesan yang disampaikan secara bertanggung jawab dapat memperkuat pemahaman bersama, sementara informasi yang tidak akurat berisiko memicu perpecahan," paparnya.
Karena itu, pembangunan ekosistem informasi yang sehat membutuhkan peran berbagai pihak, mulai dari pemerintah dan media hingga masyarakat sebagai pengguna sekaligus penyebar informasi.
Melalui peluncuran buku ini, perjalanan komunikasi publik Indonesia tidak hanya dipandang sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai bahan refleksi untuk memperkuat praktik komunikasi pada masa kini. Tantangannya adalah memastikan perkembangan teknologi berjalan seiring dengan tanggung jawab menghadirkan informasi yang benar, bermanfaat, dan tepercaya bagi masyarakat.