Banda Aceh, InfoPublik – “Hari ini menunya apa, Bu?” Pertanyaan itu kerap terdengar dari siswa SLB B YPAC Banda Aceh ketika tiba di sekolah. Sebelum pelajaran dimulai, mereka sudah penasaran dengan hidangan yang akan disantap melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bagi para siswa, makanan yang tersedia di sekolah bukan sekadar pengisi perut. Kehadiran MBG menjadi bagian dari keseharian yang dinanti, terutama bagi anak-anak yang berangkat pagi tanpa sempat sarapan di rumah.
Nurhasanah, guru Bahasa Indonesia tingkat SMP dan SMA di SLB B YPAC Banda Aceh, menyaksikan langsung antusiasme tersebut. Sejak mulai mengajar pada 2013, ia mendampingi para siswa dalam kegiatan pembelajaran sekaligus memahami beragam kebutuhan mereka selama berada di sekolah.
Menurut Nurhasanah, sebelum program MBG hadir, sebagian siswa mengandalkan uang jajan dari orang tua untuk membeli makanan di kantin. Namun, uang tersebut tidak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan makan selama mengikuti kegiatan belajar.
Ada pula siswa yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Kondisi itu terutama dialami anak-anak yang tinggal cukup jauh dari sekolah, termasuk yang berasal dari wilayah Aceh Besar. “Kadang-kadang rumahnya yang jauh, di Aceh Besar belum sarapan,” ujar Nurhasanah pada Senin (19/10/2026).
Para siswa umumnya sudah tiba di sekolah sekitar pukul 07.15 WIB. Dengan waktu keberangkatan yang cukup pagi, kesempatan untuk sarapan sebelum berangkat tidak selalu tersedia. Karena itu, makanan yang disediakan melalui MBG disambut dengan antusias oleh siswa maupun guru.
Makanan yang Dinanti, Kebersamaan yang Dipelajari
Keceriaan siswa semakin terlihat ketika hidangan tiba. Mereka antusias menyambut makanan, terlebih jika menu yang disajikan sesuai dengan selera atau dilengkapi buah-buahan.
Bagi sebagian siswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, kesempatan menikmati makanan yang beragam menjadi pengalaman yang berharga. Nurhasanah menuturkan, tidak semua keluarga mudah menyediakan aneka hidangan setiap hari, termasuk makanan seperti daging dan buah-buahan.
Melalui MBG, siswa memperoleh kesempatan menikmati makanan selama berada di sekolah. Program ini juga membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan makan anak ketika mereka mengikuti pembelajaran.
Waktu makan pun menjadi bagian dari proses pendidikan. Siswa tingkat SMP dan SMA berkumpul di aula sekolah untuk menikmati hidangan bersama. Para guru mendampingi mereka, mulai dari membaca doa sebelum makan hingga membiasakan tata cara makan yang baik sesuai nilai-nilai Islam.
Di ruang tersebut, anak-anak tidak hanya belajar menikmati makanan, tetapi juga mengikuti arahan, membangun kebiasaan baik, dan menjalani kebersamaan dengan teman-teman mereka.
Bagi sekolah luar biasa, pendampingan semacam ini menjadi penting karena setiap siswa memiliki kebutuhan dan kondisi yang berbeda. Perhatian terhadap makanan yang dikonsumsi perlu dilakukan dengan melibatkan pihak sekolah dan orang tua agar kebutuhan masing-masing anak tetap diperhatikan.
Menjaga Kualitas dan Memperhatikan Kebutuhan Siswa
Nurhasanah menilai menu MBG yang diterima sekolah sejauh ini cukup sesuai dengan kebutuhan para siswa. Meski demikian, ia memahami bahwa selera makan setiap anak tidak selalu sama.
Sebagian siswa, misalnya, masih kurang menyukai sayuran hijau. Sebaliknya, hidangan yang sesuai dengan selera mereka biasanya disambut dengan semangat lebih besar.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan keberagaman selera dan kebutuhan siswa dalam penyediaan makanan. Selain memenuhi kebutuhan gizi, makanan yang disajikan perlu mendorong anak untuk membiasakan pola makan yang baik.
Antusiasme siswa juga menjadi hal yang menggembirakan bagi para guru. Nurhasanah menuturkan, anak-anak umumnya tetap datang ke sekolah selama program berlangsung, kecuali ketika sedang sakit.
Bagi para pendidik yang setiap hari mendampingi mereka, semangat anak-anak saat menanyakan menu dan menyambut waktu makan menjadi kebahagiaan tersendiri.
Setelah lebih dari satu dekade mengabdikan diri sebagai guru, Nurhasanah berharap program MBG dapat terus berlanjut dengan kualitas makanan yang tetap terjaga.
“Harapan kami ya untuk ke depan, apabila MBG dilanjutkan kualitas tetap dijaga, itu harapan kami,” katanya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah atas pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, tersedianya makanan di sekolah membantu siswa memenuhi kebutuhan makan selama mengikuti pembelajaran, terutama bagi anak-anak yang belum sempat sarapan sebelum berangkat.
Dari Menu Harian, Tumbuh Harapan
Bagi Nurhasanah, makna MBG tidak berhenti pada hidangan yang tersaji setiap hari. Ada rasa penasaran ketika anak-anak menanyakan menu, keceriaan saat makanan datang, dan kebersamaan ketika mereka duduk menikmati hidangan di aula sekolah.
Di SLB B YPAC Banda Aceh, hal-hal sederhana tersebut menjadi bagian dari pengalaman belajar para siswa. Makanan yang tersedia di sekolah membantu memenuhi kebutuhan dasar mereka sekaligus menjadi kesempatan untuk membiasakan perilaku positif dalam keseharian.
Kisah para siswa ini memperlihatkan bahwa pelaksanaan program pemenuhan gizi di lingkungan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan tersedianya makanan. Kualitas hidangan, kesesuaian dengan kebutuhan siswa, serta pendampingan dari guru dan orang tua juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Upaya tersebut sejalan dengan agenda pembangunan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas, sebagaimana arah Asta Cita dalam memperkuat pembangunan manusia serta meningkatkan kualitas pendidikan.
Dari pertanyaan sederhana, “Hari ini menunya apa, Bu?”, tersimpan cerita tentang kebutuhan, perhatian, dan harapan. Bagi siswa SLB B YPAC Banda Aceh, MBG menjadi bagian dari keseharian yang dinanti. Sementara bagi Nurhasanah dan para guru lainnya, keceriaan itu menjadi pengingat bahwa pemenuhan kebutuhan dasar anak merupakan salah satu unsur penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik.