Jakarta, InfoPublik - Arah investasi sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia dinilai menunjukkan perkembangan positif selama dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Capaian tersebut berkat perbaikan tata kelola, fleksibilitas kontrak, serta insentif hasil yang menarik bagi investor.
Founder & Advisor ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, menyampaikan keberlanjutan pengembangan lapangan dan kemajuan proyek gas berskala besar oleh investor global menjadi kunci utama dalam menjaga iklim investasi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
"Jadi, berbagai upaya sudah dilakukan, trennya naik. Itu artinya kemudian yang beroperasi di sini itu memang masih melanjutkan investasinya di Indonesia," ujar Pri Agung dalam keterangan resmi, Kamis (22/10/2026).
Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), realisasi investasi unaudited sektor hulu migas hingga 31 Agustus 2026 telah mencapai USD10,4 miliar atau setara Rp179,2 triliun.
Capaian itu melanjutkan tren pertumbuhan berkelanjutan pascapandemi, di mana realisasi investasi meningkat dari USD10,5 miliar pada 2020 menjadi USD14,9 miliar (Rp245,5 triliun) pada 2025, dan ditargetkan menyentuh USD17,9 miliar pada akhir 2026.
Daya tarik investasi migas Indonesia di tingkat global juga tercermin dari daya saing pada kategori Activity & Success, di mana Indonesia menempati peringkat ke-4 dari 15 negara pada 2026. Penilaian positif ini didorong oleh sejumlah penemuan besar, termasuk proyek North Hub di lepas pantai Kalimantan Timur bernilai USD11,8 miliar oleh perusahaan migas asal Italia, Eni, serta komitmen pasti bernilai USD141,5 juta dari enam pemenang lelang wilayah kerja pada September 2026.