Jakarta, InfoPublik – Pemerintah mencatat sejumlah capaian di sektor kesehatan selama dua tahun pemerintahan Kabinet Merah Putih, mulai dari perluasan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG), peningkatan fasilitas rumah sakit di daerah tertinggal, hingga penurunan estimasi angka insiden tuberkulosis (TB) untuk pertama kalinya.
Ketiga program tersebut merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang diarahkan untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat. Program CKG, sebanyak 109.300.240 orang telah menjalani pemeriksaan kesehatan gratis dari total target 130.344.650 sasaran.
Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 88 juta peserta CKG tahunan dan 21 juta peserta CKG sekolah. Sementara itu, jumlah warga yang mendaftar mencapai 116.313.018 orang. Layanan CKG telah berjalan di 10.319 Puskesmas atau 99,8 persen dari total Puskesmas yang teregistrasi. Program ini juga telah menjangkau seluruh 514 kabupaten/kota di 38 provinsi.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin “2 Tahun Pemerintahan Bidang Kesehatan” pada Kamis (22/10/2026) menjelaskan CKG dirancang untuk menaikkan rata-rata angka harapan hidup orang Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun.
Caranya dengan menemukan sedini mungkin empat faktor risiko yang paling banyak menyebabkan kematian dini: hipertensi, diabetes, dislipidemia atau kolesterol tinggi, dan obesitas. Keempatnya merupakan pemicu utama stroke, serangan jantung, dan gagal ginjal.
"Kalau kita bisa mengukur keempat faktor risiko tadi, obesitas, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, sama kolesterol tinggi kita bisa menurunkan sampai 80 persen dari kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular seperi penyakit jantung, pembuluh darah, stroke, serangan jantung, dan masalah ginjal," ujar Menkes Budi seperti keterangan resminya Jumat (23/10/2026).
Temuan dari pemeriksaan itu selanjutnya ditindaklanjuti di lapangan. Warga yang terdeteksi berisiko mendapat tata laksana dan pengobatan gratis di Puskesmas agar indikator kesehatannya kembali normal atau masuk kategori hijau.
Pada pilar kedua, pemerintah telah membangun 66 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di daerah tertinggal yang sebelumnya berstatus Kelas D.
“Pembangunannya dibagi dalam beberapa tahap: 22 RSUD masuk batch 1 dan 2 tahun 2025, dengan 21 unit di antaranya sudah rampung 100 persen dan beroperasi penuh. Sebanyak 20 RSUD lain tergabung dalam batch 3 dan 4 tahun 2026, sedangkan 24 RSUD pada batch 5 dan 6 tahun 2027 masih dalam tahap perencanaan” tandas Menkes Budi.
Menkes Budi melanjutkan, Rumah sakit di Kabupaten Kepulauan Anambas, Buru, Bengkulu Tengah, hingga Kab. Keerom di Prov.Papua kini dilengkapi alat kesehatan setara rumah sakit di Pulau Jawa. Meliputi mammografi untuk deteksi dini kanker payudara, CT scan, serta cath lab untuk tindakan jantung dan stroke.
Meski begitu, pemenuhan tenaga medis masih menjadi pekerjaan rumah. Kemenkes mencatat, dari 66 RSUD tersebut baru 34 unit atau 51 persen yang memiliki tujuh jenis dokter spesialis dasar secara lengkap.
Pada pilar ketiga, Menkes Budi menerangkan bahwa Indonesia mencatat hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mengacu pada estimasi WHO Global TB Report, angka insiden tuberkulosis menurun secara berkelanjutan untuk pertama kalinya, dengan estimasi kasus pada 2026 turun menjadi 1.080.000 dari 1.092.000 pada 2024.
Hingga Oktober 2026, sebanyak 666.985 kasus telah ditemukan dan dilaporkan atau 61 persen dari target 972.000 kasus. Dari jumlah itu, 599.425 pasien atau 90 persen dari target sudah memulai pengobatan. Penemuan kasus ini ditopang penyediaan portable X-ray dan mesin tes molekuler Near Point of Care (NPOC) di ribuan Puskesmas.
Skrining TB juga diintegrasikan dengan layanan CKG dan dibawa langsung ke tempat warga berkumpul. Sebanyak 40.910 warga binaan di lapas dan rutan serta 24.623 santri di pondok pesantren telah diperiksa. Kemenkes turut menggandeng kementerian/lembaga lain dan sektor swasta, termasuk memeriksa 8.914 karyawan dan mitra layanan transportasi daring seperti Gojek dan Grab.
Dari sisi pengobatan, Kemenkes memperpendek durasi terapi melalui regimen obat modern. Indonesia juga ikut dalam uji klinis tahap 3 kandidat vaksin TB M72 yang ditargetkan mulai diproduksi pada awal 2029.
“Dulu TB ini minum obatnya panjang sekali, bisa sampai lebih dari 1 tahun dia minum obat setiap hari. Sekarang turun jadi 12 bulan, turun lagi jadi 6 bulan, yang terakhir kita sudah bisa ada yang bisa 4 bulan. Jadi dengan demikian, obat-obatan TB-nya makin lama makin mudah diterima oleh masyarakat” tandas Menkes Budi.