Sanur, InfoPublik — Bali Tech Week 2026 membuka peluang kolaborasi bagi pelaku industri teknologi digital di Bali untuk memperluas jaringan bisnis dari tingkat nasional hingga internasional. Forum tersebut juga menjadi wadah bagi perusahaan lokal untuk memperkenalkan inovasi teknologi yang mendukung pengembangan sektor pariwisata.
Direktur Utama Perumda Kerthi Bali Santhi, I Gede Sumardika, mengatakan keikutsertaan dalam Bali Tech Week memberikan kesempatan bagi perusahaan daerah untuk menjalin hubungan dengan mitra baru. Sekaligus memperkenalkan kemampuan industri teknologi digital Bali kepada khalayak yang lebih luas.
“Terus terang, dalam beberapa hari ini kami cukup banyak mendapat masukan dan jaringan baru. Kami juga semakin dikenal secara nasional, bahkan internasional,” ujar Sumardika saat ditemui dalam rangkaian Bali Tech Week 2026 di Bali Beach Convention Center, Sanur, Kota Denpasar, Provinsi Bali, Rabu (21/10/2026).
Ia berharap Bali Tech Week dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun dengan melibatkan lebih banyak perusahaan teknologi dan pengembang lokal.
“Mudah-mudahan acara ini rutin diadakan setiap tahun. Ke depan, kami berharap partisipasi teman-teman dari Bali lebih banyak. Kami juga ingin menunjukkan kepada masyarakat nasional maupun internasional bahwa Bali memiliki ekosistem IT dan digital yang kuat,” katanya.
Sumardika menilai penguatan ekosistem teknologi lokal penting karena perkembangan industri pariwisata saat ini semakin bergantung pada layanan digital.
Mulai dari pemesanan perjalanan, akomodasi, hingga berbagai kebutuhan wisatawan, aktivitas pariwisata kini banyak memanfaatkan platform berbasis teknologi.
Karena itu, perusahaan teknologi lokal diharapkan dapat mengambil peran lebih besar dalam mendukung transformasi digital sektor pariwisata Bali.
Perumda Kerthi Bali Santhi Kembangkan Dewata Cloud
Dalam kesempatan tersebut, Sumardika menjelaskan bahwa Perumda Kerthi Bali Santhi tengah mengembangkan infrastruktur teknologi digital melalui produk Dewata Cloud. Layanan tersebut disiapkan sebagai fondasi untuk pengembangan berbagai aplikasi dan solusi digital yang dapat mendukung kebutuhan masyarakat maupun industri pariwisata.
“Kami bergerak di industri IT dan digital, terutama untuk mendukung pariwisata di Bali. Saat ini kami sedang mengembangkan dan merilis produk Dewata Cloud. Kami siapkan terlebih dahulu infrastrukturnya, kemudian di atasnya akan dikembangkan berbagai aplikasi,” jelasnya.
Menurut Sumardika, pengembangan Dewata Cloud melibatkan kolaborasi dengan penyedia teknologi dalam negeri, termasuk pengembang dari Bali, Yogyakarta, dan Jakarta. Ia menegaskan bahwa teknologi yang digunakan dalam kerja sama tersebut berasal dari produk lokal.
Langkah itu diarahkan untuk memperkuat keterlibatan pelaku teknologi Indonesia dalam penyediaan infrastruktur dan layanan digital.
Sumardika mengatakan Perumda Kerthi Bali Santhi mengembangkan bisnis teknologi karena melihat besarnya peluang bagi perusahaan daerah untuk terlibat dalam ekosistem pariwisata digital.
Selama ini, menurutnya, berbagai layanan digital yang digunakan wisatawan telah berkembang pesat. Namun, keterlibatan perusahaan daerah dalam sektor tersebut masih perlu diperluas. “Kami melihat seluruh aktivitas pariwisata sekarang semakin digital, mulai dari pemesanan hingga perjalanan wisata. Karena itu, pemain lokal juga seharusnya ikut berada dalam ekosistem pariwisata Bali, bukan hanya pemain dari luar,” ujarnya.
Siapkan Layanan Perencanaan Wisata Berbasis AI
Selain itu, Perumda Kerthi Bali Santhi juga merencanakan layanan digital berbasis kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) untuk membantu wisatawan menyusun perjalanan di Bali.
Sumardika menjelaskan layanan tersebut dirancang agar wisatawan dapat memperoleh rekomendasi destinasi, akomodasi, dan kebutuhan perjalanan sesuai dengan waktu kunjungan maupun anggaran yang dimiliki.
Sebagai contoh, wisatawan yang berencana tinggal selama tiga hari di Bali dapat memasukkan kebutuhan perjalanannya melalui perintah atau prompt kepada sistem AI. Sistem tersebut nantinya diharapkan mampu memberikan pilihan destinasi wisata, penginapan, serta layanan pendukung yang relevan.
“Misalnya, seseorang belum pernah ke Bali dan ingin tinggal selama tiga hari. Dia tinggal memasukkan permintaan mengenai tempat yang bagus untuk dikunjungi, penginapan yang sesuai anggaran, dan kebutuhan lainnya. Itu yang nanti kami arahkan menggunakan AI,” jelas Sumardika.
Ia menambahkan pengembangan layanan tersebut juga direncanakan terhubung dengan penyedia layanan perjalanan, termasuk agen perjalanan daring atau online travel agent (OTA). Selain itu, perusahaan mempertimbangkan penyediaan fasilitas lokapasar (marketplace) untuk mendukung pemasaran produk lokal, termasuk oleh-oleh khas Bali.
"Wisatawan diharapkan dapat merencanakan berbagai kebutuhan perjalanan melalui satu layanan digital, mulai dari transportasi, penginapan, destinasi wisata, hingga pembelian produk lokal,"pungkasnya.