Surabaya, InfoPublik – Pemerintah Provinsi Jawa Timur memetakan 3.849 takson unik flora dan fauna melalui penyusunan Profil Keanekaragaman Hayati (Kehati) 2026. Data tersebut menjadi dasar penguatan konservasi dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan melalui Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati (RIP Kehati) 2026–2030.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Timur Nurkholis menjelaskan, Profil Kehati 2026 mencatat 1.939 takson unik flora dan 1.910 takson unik fauna. Data tersebut mencakup sejumlah spesies yang memiliki nilai konservasi tinggi, antara lain rusa Bawean, banteng, elang Jawa, dan merak hijau.
Menurut Nurkholis, keanekaragaman hayati tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan, ketersediaan air, kesehatan, perekonomian, dan kesejahteraan masyarakat.
“RIP Kehati Jatim 2026–2030 mengusung visi mewujudkan Jawa Timur yang lestari melalui pengelolaan keanekaragaman hayati secara terintegrasi, berkelanjutan, dan inklusif. Dokumen ini diharapkan memperkuat ketahanan ekosistem sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah,” kata Nurkholis di Surabaya, Selasa (20/10/2026).
Ia menjelaskan bahwa pengelolaan keanekaragaman hayati di Jawa Timur menghadapi berbagai tantangan, mulai dari alih fungsi lahan, fragmentasi habitat, pencemaran, dan perubahan iklim hingga tekanan terhadap spesies dan sumber daya genetik. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang terarah untuk memperkuat perlindungan ekosistem dan menjamin keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam.
Penyusunan Profil Kehati 2026 dan RIP Kehati 2026–2030 dilakukan DLH Jawa Timur bersama Anwar Muhammad Foundation (AMF), dengan dukungan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) serta Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) melalui program Global Biodiversity Framework Implementation (GBFI).
Pelaksana Harian (Plh.) Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur R. Heru Wahono Santoso mengatakan, kedua dokumen tersebut menjadi landasan untuk memetakan kekayaan alam sekaligus menentukan arah pengelolaannya.
“Sudah punya profil sekaligus juga rencana induk pengelolaan. Jadi, kita punya peta datanya keanekaragaman hayati, sekaligus kita juga punya jalan untuk pengelolaannya,” kata Heru.
Pihaknya menegaskan bahwa pelestarian lingkungan merupakan bagian dari komitmen Pemprov Jawa Timur yang diwujudkan melalui berbagai upaya, termasuk penanaman mangrove bersama masyarakat. Menurutnya, sumber daya alam di kawasan pegunungan, hutan, pesisir, dan laut perlu dijaga dari sisi kuantitas maupun kualitas agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Heru juga menekankan, pentingnya keterlibatan seluruh unsur pentaheliks, yaitu pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media, untuk memperkuat pelestarian lingkungan.
Salah satu upaya konkret Pemprov Jawa Timur ialah mengembangkan Taman Kehati seluas sekitar 27 hektare di Cerme, Kabupaten Gresik. Dalam pengelolaannya, DLH Jawa Timur bekerja sama dengan sejumlah perusahaan swasta untuk menanam dan melestarikan tumbuhan endemik serta langka.
Pada kesempatan yang sama,Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas A. A. Leonardo Teguh Sambodo mengatakan, Jawa Timur merupakan satu dari empat provinsi percontohan penyusunan rencana pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia. Tiga provinsi lainnya ialah Kalimantan Timur, Aceh, dan Papua Barat Daya.
Menurut Leonardo, Jawa Timur memiliki potensi besar untuk mengembangkan upaya konservasi yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Potensi tersebut antara lain ditunjukkan oleh ekosistem mangrove di Jawa Timur yang mencakup sekitar 48 persen dari total mangrove di Pulau Jawa.
“Konservasi sumber daya alam bukan merupakan misi yang terpisah dengan bagaimana pemerintah akan meningkatkan pertumbuhan dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Deputy and Manager Global Biodiversity Framework Implementation Indonesia Karen Alburs mengapresiasi Pemprov Jawa Timur, DLH, Bappenas, dan seluruh mitra yang terlibat dalam penyusunan kedua dokumen tersebut.
Ia berharap Profil Kehati dan RIP Kehati dapat mendorong aksi nyata, memperkuat kolaborasi, serta mendukung perencanaan dan pendanaan jangka panjang untuk menjaga keanekaragaman hayati.
Perwakilan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Laila Yunita Widiastuti juga mendorong pemerintah provinsi serta kabupaten/kota lainnya menyusun profil dan rencana induk serupa. Dokumen tersebut diharapkan menjadi dasar perencanaan konservasi dan pemulihan ekosistem di daerah masing-masing.
Selain menyusun dokumen perencanaan konservasi, DLH Jawa Timur memberikan penghargaan kepada masyarakat dan lembaga yang berkontribusi dalam menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan.
Melalui Program Desa Berseri, penghargaan diberikan kepada Kelurahan Mojo di Surabaya, Kelurahan Arjowinangun di Malang, Desa Balerejo di Blitar, Kelurahan Sumbang di Bojonegoro, Desa Banyubang di Lamongan, Desa Balongasem di Nganjuk, dan Kelurahan Bandar Lor di Kediri. Para penerima memperoleh sertifikat dan kendaraan roda tiga.
Penghargaan Program Eko-Pesantren diberikan kepada Pondok Pesantren Darul Fikri, Islamic Center (LC), Fama Pasuruan, Bahrul Maghfiroh, Al-Umm Malang, Gading Mangu Jombang, dan Ar-Rahmah. Penghargaan berupa sertifikat dan empat drop box yang diserahkan secara simbolis diberikan untuk mendukung pengelolaan sampah di lingkungan pesantren.
Pada kategori kebersihan masjid dan musala, penghargaan diberikan kepada Masjid Nurul Hidayah di Dinas ESDM Jawa Timur; Masjid An-Nur di RSUD Dr. Soetomo Surabaya; Masjid Asy-Syifa di RSUD Dr. Soedono Madiun; Masjid Al-Hikmah di Bakorwil III Malang; Masjid Al-Hidayah di Perhutani Rimba Wana; Masjid Al-Huda di BPSDM Jawa Timur; Masjid Al-Furqon di BKD Jawa Timur; Musala An-Nur di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Jawa Timur; Masjid Ibnu Sina di RSUD Dr. Saiful Anwar; serta Masjid Al-Qomar di Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur.
Penghargaan tersebut berupa sertifikat serta penyerahan simbolis drop box dan komposter untuk mendukung pengelolaan sampah.(MC Prov. Jatim/moko/Eyv)