Bungku Tengah, InfoPublik — Malam ke-27 Ramadan di Alun-alun Sangiang Kinambuka, Kelurahan Marsaoleh, Kecamatan Bungku Tengah, tak sekadar dipenuhi lantunan doa. Ribuan cahaya obor menyala serentak, membentuk lautan api kecil yang bergerak perlahan di tangan sekitar 2.000 siswa SMP. Inilah Festival Montunu Hulu 2026, sebuah tradisi yang terus hidup di tengah denyut modernisasi Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Langit malam menjadi saksi bagaimana cahaya-cahaya itu menari, berpadu dengan gemerlap lampu hias yang menghiasi area alun-alun. Di antara kerumunan, miniatur rumah Ndengu-ndengu berdiri anggun, merepresentasikan identitas budaya masyarakat Bungku yang tak lekang oleh waktu.
Bagi masyarakat setempat, Montunu Hulu bukan sekadar ritual membakar obor. Tradisi ini adalah simbol harapan, kebersamaan, sekaligus penghormatan terhadap warisan leluhur yang telah diwariskan lintas generasi. Setiap nyala obor seolah membawa pesan bahwa nilai-nilai budaya harus tetap dijaga, meski zaman terus berubah.
Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf, menegaskan bahwa tradisi ini adalah bagian penting dari jati diri masyarakat. Di usia Kabupaten Morowali yang kini menginjak 26 tahun, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak melupakan akar budaya yang menjadi fondasi kebersamaan.
“Tradisi Montunu Hulu harus terus kita kokohkan dan pertahankan agar generasi mendatang dapat melihat dan melanjutkan apa yang kita lakukan hari ini,” ujarnya di hadapan masyarakat yang memadati lokasi kegiatan.
Lebih dari sekadar seremoni, festival ini juga menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda. Keterlibatan ribuan pelajar dalam pawai obor menjadi bukti bahwa pelestarian tradisi tidak hanya menjadi tanggung jawab para tetua adat, tetapi juga generasi penerus.
Di tengah arus globalisasi yang kian deras, Montunu Hulu hadir sebagai pengingat bahwa kemajuan daerah tidak harus menghapus jejak tradisi. Justru, dari akar budaya yang kuat, karakter masyarakat dapat tumbuh kokoh.
Malam itu, saat obor-obor dinyalakan secara simbolis oleh Bupati bersama jajaran pimpinan daerah, suasana berubah menjadi haru dan khidmat. Api yang menyala bukan hanya menerangi gelap malam, tetapi juga menyalakan semangat untuk terus menjaga identitas budaya.
Festival Montunu Hulu 2026 pun menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia adalah cerita tentang cahaya—tentang tradisi yang tetap menyala, tentang generasi yang terus menjaga, dan tentang Morowali yang melangkah maju tanpa melupakan jati dirinya.