SLEMAN, InfoPublik - Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan menggelar pelatihan pranatacara atau pembawa acara adat Jawa pada 3-4 November 2026.
Agenda pelestarian tradisi yang dipusatkan di Sendang Kumitir, Kapanewon Turi, ini melibatkan 25 peserta lintas kecamatan untuk mendalami nilai tata krama dan penguasaan bahasa leluhur.
Praktisi kebudayaan, Erwin Rizki Nur Rofiq, memaparkan, profesi pembawa acara menuntut penguasaan empat unsur utama, yakni wicara, wiraga, wirasa, dan wirama.
Keempat fondasi tersebut mengharuskan penutur untuk sanggup memadukan kejelasan pelafalan, keanggunan bahasa tubuh, penghayatan suasana, hingga ketepatan tempo berbicara.
Keterampilan teknis ini menuntut penempaan pernapasan, olah vokal, dan kepercayaan diri yang konsisten.
"Seorang pranatacara tidak boleh terburu-buru, tidak boleh megap-megap kekurangan napas, dan harus memiliki ketangguhan mental agar suara yang keluar kung, gandhem, dan marem di telinga audiens," jelas Erwin.
Kehormatan seseorang sejatinya tercermin dari tutur kata dan perilakunya sesuai falsafah ajining dhiri gumantung saka lathi.
Oleh karena itu, komunikasi publik dalam tradisi Jawa bukan sekadar sarana penyampaian pesan, melainkan instrumen penghormatan tertinggi terhadap martabat lawan bicara.
Para peserta diinstruksikan untuk segera mengimplementasikan keahlian linguistik tersebut dalam berbagai perhelatan kemasyarakatan di wilayahnya masing-masing.
"Peserta harus siap tampil, tangguh, saguh, mrabawa, mrantasi ing karya, serta siap menghadapi tantangan zaman tanpa melupakan akar budaya," ungkap Erwin menyuntikkan motivasi. (MC Kab. Sleman/KIM Tempel/SBD)