Jakarta, InfoPublik — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong penguatan kerja sama internasional yang berdampak nyata bagi pembangunan nasional.
Komitmen tersebut diperkuat melalui pertemuan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie dengan Duta Besar Yordania untuk Indonesia Sudqi Atallah Abd Alkader Al Omoush, Rabu (7/1/2026).
Pertemuan ini menegaskan penguatan hubungan bilateral Indonesia–Yordania yang telah terjalin sejak 1950 dan terus berkembang, khususnya di bidang pendidikan, sosial-budaya, serta pengembangan sumber daya manusia. Pendidikan tinggi diposisikan sebagai pilar strategis untuk menjawab tantangan nasional, terutama penguatan kualitas SDM dan riset.
Penguatan kolaborasi tersebut sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi, memperkuat sains dan teknologi, serta mendorong perguruan tinggi Indonesia agar berdaya saing global dan berkontribusi langsung pada pembangunan.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak sepakat bahwa kerja sama internasional harus melampaui penandatanganan nota kesepahaman dan diwujudkan dalam implementasi konkret, terukur, dan berkelanjutan. Fokus awal diarahkan pada bidang ilmu kedokteran dan kesehatan, mengingat kebutuhan Indonesia terhadap tenaga medis, dokter spesialis, serta penguatan riset kesehatan nasional.
“Yang terpenting saat ini adalah implementasi. Untuk tahap awal, kami sepakat memfokuskan kerja sama pada ilmu kedokteran karena penguatan sektor ini menjadi prioritas strategis nasional,” ujar Stella.
Yordania dinilai memiliki posisi strategis dan pengalaman panjang dalam pengembangan pendidikan kedokteran yang diakui secara internasional. Hal ini menjadikan negara tersebut mitra penting bagi Indonesia dalam memperkuat kapasitas pendidikan dan riset kesehatan.
“Yordania merupakan salah satu pusat pengembangan ilmu kedokteran di kawasan Timur Tengah. Banyak mahasiswa dari berbagai negara belajar di sana. Ini peluang baik bagi Indonesia,” tambah Stella.
Ruang lingkup kerja sama meliputi pertukaran mahasiswa dan dosen, program visiting professor, penelitian bersama, serta pengembangan kapasitas institusi pendidikan kedokteran. Selain pendidikan dokter, kolaborasi juga membuka peluang pelatihan tenaga kesehatan, termasuk perawat, agar memiliki kompetensi dan daya saing global.
Sebagai tindak lanjut, kedua pihak sepakat membentuk gugus tugas (task force) untuk menyusun peta jalan kerja sama, mengidentifikasi program prioritas, serta memastikan keterlibatan perguruan tinggi negeri dan swasta. Gugus tugas ini akan didukung oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) guna memperluas jangkauan dan dampak kolaborasi.
Duta Besar Yordania menyambut positif penguatan kerja sama tersebut dan menyatakan kesiapan universitas-universitas di Yordania untuk memperluas kemitraan dengan perguruan tinggi Indonesia, termasuk berbagi praktik baik pengelolaan pendidikan tinggi, riset terapan, dan keterkaitan universitas dengan layanan kesehatan serta kebutuhan masyarakat.
Penguatan kolaborasi ini menegaskan komitmen Diktisaintek Berdampak, yakni kerja sama pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas SDM, penguatan riset, dan pembangunan nasional.