Jakarta, InfoPublik – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 jenjang SMA/MA/SMK dan sederajat menggunakan skala skor 200–800 untuk menggambarkan kemampuan akademik murid secara lebih informatif. Karena menggunakan pendekatan pengukuran tertentu, skor tersebut tidak dapat dibaca sebagai persentase jawaban benar ataupun dikonversi langsung ke skala nilai lama.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjelaskan bahwa skala tersebut dirancang untuk menyajikan hasil pengukuran dengan mempertimbangkan karakteristik soal yang dikerjakan peserta. Hasilnya diharapkan membantu murid memahami capaian akademik, mendukung sekolah memperbaiki pembelajaran, serta memberikan informasi tambahan bagi perguruan tinggi dalam proses seleksi sesuai ketentuan yang berlaku.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Toni Toharudin, menjelaskan bahwa jumlah jawaban benar saja belum tentu cukup untuk menggambarkan kemampuan akademik secara sebanding apabila soal yang dikerjakan memiliki tingkat kesulitan berbeda.
Sebagai ilustrasi, dalam tes yang terdiri atas 10 soal dengan bobot sama, delapan jawaban benar menghasilkan nilai 80. Namun, jika dua murid mengerjakan paket soal dengan tingkat kesulitan berbeda, jumlah jawaban benar yang sama belum tentu menunjukkan tingkat kemampuan akademik yang setara.
"Karena itu, TKA menggunakan pendekatan Item Response Theory (IRT) atau teori respons butir. Dalam model dua parameter, pengolahan jawaban mempertimbangkan tingkat kesukaran dan daya pembeda soal untuk memperkirakan kemampuan peserta. Hasil pengukuran kemudian dilaporkan menggunakan rentang skor 200–800," ujar Toni, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Senin (26/10/2026).
Salah satu hal penting yang perlu dipahami murid dan orang tua adalah perbedaan antara metode pengukuran dan skala pelaporan. Metode pengukuran digunakan untuk memperkirakan kemampuan akademik peserta berdasarkan respons terhadap soal. Sementara itu, skala pelaporan merupakan rentang angka yang digunakan untuk menyajikan hasil pengukuran tersebut.
Dengan demikian, skor 600 pada TKA tidak berarti peserta menjawab benar 60 persen soal. Angka itu merupakan skor pada skala pelaporan yang digunakan untuk menggambarkan kemampuan akademik berdasarkan model pengukuran yang diterapkan.
Perubahan skala juga tidak serta-merta menunjukkan bahwa soal menjadi lebih sulit atau kemampuan murid meningkat. Oleh sebab itu, skor TKA tidak dapat langsung dikonversi ke skala lama melalui pembagian atau perkalian sederhana.
Untuk menjaga keterbandingan hasil antartahun, penyetaraan dilakukan melalui estimasi kemampuan peserta menggunakan IRT dua parameter. Meski demikian, perbedaan skor yang kecil tetap perlu dimaknai secara hati-hati dengan mempertimbangkan galat pengukuran.
Pemahaman ini penting agar skor TKA tidak ditafsirkan secara keliru, baik sebagai ukuran tunggal keberhasilan belajar maupun sebagai dasar untuk membandingkan kemampuan murid tanpa memperhatikan konteks pengukuran.
Di tingkat satuan pendidikan, hasil TKA dapat digunakan bersama nilai penilaian kelas dan hasil pekerjaan murid untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar. Informasi tersebut membantu guru menentukan materi yang perlu diperkuat serta bentuk pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing murid.
Orang tua juga dapat memanfaatkan hasil asesmen untuk memahami area kemampuan anak yang masih perlu dikembangkan. Dengan dukungan yang tepat, hasil TKA dapat menjadi salah satu bahan evaluasi pembelajaran, bukan sekadar angka yang menentukan tinggi atau rendahnya prestasi.
Bagi perguruan tinggi, TKA menyediakan informasi capaian akademik melalui asesmen terstandar yang dapat melengkapi nilai rapor dalam seleksi jalur prestasi sesuai ketentuan yang berlaku. Kedua sumber informasi tersebut dapat dipertimbangkan secara bersama untuk memperoleh gambaran akademik calon mahasiswa yang lebih utuh.
Hasil TKA juga berpotensi dimanfaatkan sebagai salah satu dasar untuk merancang program persiapan dan pendampingan akademik bagi mahasiswa baru. Pemanfaatan ini perlu dievaluasi lebih lanjut berdasarkan hubungannya dengan perkembangan belajar mahasiswa.
Pembaruan skala pelaporan TKA perlu diikuti dengan penjagaan mutu soal, keamanan pelaksanaan, aksesibilitas, serta penyampaian informasi hasil yang mudah dipahami masyarakat. Kejelasan informasi menjadi penting agar murid, orang tua, guru, dan perguruan tinggi memiliki pemahaman yang sama mengenai arti skor dan batas penggunaannya. Dengan demikian, hasil asesmen dapat dimanfaatkan secara proporsional sesuai tujuan pengukuran.
Melalui pemahaman yang tepat terhadap skala skor 200–800, TKA diharapkan tidak berhenti sebagai instrumen untuk menggambarkan capaian akademik, tetapi juga menjadi sumber informasi untuk memperkuat proses pembelajaran dan membantu murid mempersiapkan diri menuju jenjang pendidikan berikutnya.