Semangat Muda dan Integritas Warnai Penutupan Kejurnas Pordasi Equestrian 2025
Penutupan Kejurnas Pordasi Equestrian 2025. (Foto Humas KONI Pusat)
Penutupan Kejurnas Pordasi Equestrian 2025. (Foto Humas KONI Pusat)
Tangerang, InfoPublik — Suara sorakan memenuhi APM Equestrian Center, Tangerang, saat Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Equestrian 2025 resmi ditutup.
Ajang tahunan ini menjadi panggung bagi para atlet muda untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya, sekaligus menanamkan nilai sportifitas dan karakter berintegritas seperti tema besar yang diusung tahun ini.
Di balik kemeriahan acara, Kejurnas 2025 menyimpan banyak cerita—tentang persiapan panjang, proses pembinaan, hingga dinamika organisasi yang ingin memastikan olahraga berkuda Indonesia tetap berada di jalur prestasi.
Penyelenggaraan Kejurnas dipersiapkan selama setahun penuh melalui program kerja PP Pordasi Equestrian. Bukan hal mudah, tetapi tekad untuk menghadirkan kejuaraan yang kredibel membuat seluruh proses berjalan maksimal.
“Kita berkonsolidasi dengan Pengprov agar dapat mempersiapkan para atletnya. Hambatan pasti ada, seperti kecocokan atlet dengan kuda, namun semua bisa kita carikan solusi,” ujar Ketua Penyelenggara Kejurnas sekaligus Wakil Ketua Umum II PP.Pordasi Equestrian, Arifia Hamdani dalam siaran pers nya yang diterima InfoPublik, Kamis (4/12/2025).
Arifia menyebut, keberhasilan penyelenggaraan tahun ini membuktikan bahwa koordinasi antara pusat dan daerah menjadi kunci kuat dalam membangun ekosistem olahraga berkuda nasional.
Selama lima hari pelaksanaan, dari 26 sampai 30 November, arena APM Equestrian Center tak pernah sepi. Para atlet muda dari sembilan provinsi tampil dengan penuh percaya diri.
Provinsi yang turut serta yaitu Banten, Bali, Sulawesi Tengah, Sumatra Selatan, Jawa Tengah, Sumatra Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, dan DKI Jakarta.
Berbagai kelas pertandingan dipertandingkan, mulai dari Dressage U21 hingga Jumping kategori Open, menjadi ruang pembuktian kemampuan sekaligus panggung regenerasi atlet.
Di kelas Beregu Dressage U21 Preliminary, para atlet menunjukkan ketenangan dan keselarasan dengan kuda. Sementara di kelas Jumping 110 cm Open, ketangkasan dan keberanian menjadi penentu.
Kelas-kelas yang dipilih tahun ini sengaja difokuskan pada level pembinaan. Ketua Umum PP Pordasi Equestrian, Dewi Larasati, menegaskan bahwa Kejurnas kali ini bukan hanya kompetisi, tetapi wahana pembinaan jangka panjang. “Ini adalah Road to PON XXII/2028 NTT–NTB. Siapa yang ikut Kejurnas, sudah pasti masuk daftar pembinaan,” ujar Dewi.
Ia menambahkan, kelas yang dipilih tidak terlalu tinggi karena ingin memberikan kesempatan seluas mungkin bagi atlet muda untuk berkembang. “Karier mereka masih panjang. Kami ingin mereka melangkah ke level internasional,” lanjutnya.
Selain menjadi ajang pembinaan, Kejurnas 2025 juga menjadi momentum kolaborasi internasional dengan kehadiran juri Jumping FEI Katrina Holi Gores dan juri Dressage FEI Wan Ming Ong.
Kehadiran juri bertaraf internasional ini memperlihatkan keseriusan Pordasi Equestrian dalam menyelaraskan kualitas kompetisi dengan standar global.
Namun, di tengah prestasi yang diraih, Pordasi Equestrian menghadapi tantangan besar. Salah satunya terkait polemik seleksi atlet yang akan diberangkatkan ke SEA Games 2025 Thailand.
Sekjen PP Pordasi Equestrian, Budi Tulodo, menegaskan bahwa terdapat atlet yang diberangkatkan tanpa melalui prosedur resmi bersama induk cabor Pordasi dan KONI Pusat. “Tentu ini berdampak besar bagi organisasi. Keberangkatan atlet tidak bisa dilakukan tanpa mekanisme yang benar,” ujarnya.
Dewi Larasati memperkuat pernyataan itu dengan menekankan pentingnya keteraturan administrasi dan tata kelola organisasi yang baik.
Empat Federasi Nasional hasil transformasi Munas Pordasi XIV Tahun 2024—Equestrian, Polo, Pacu, dan Berkuda Memanah—kini menjadi satu-satunya induk organisasi di bawah pengakuan KONI.
Berdasarkan hasil Rakernas pada 30 Agustus 2025, seluruh daerah juga diarahkan untuk melakukan transformasi serupa. Transformasi ini diharapkan menciptakan tata kelola yang lebih modern, selaras dengan arah pembinaan olahraga nasional.
Di sisi lain, Kejurnas 2025 membuktikan bahwa meski ada tantangan organisasi, semangat pembinaan atlet tidak pernah berhenti.
Prestasi demi prestasi lahir dari arena pertandingan. Tahun ini, Provinsi Sulawesi Tengah keluar sebagai juara umum. “Selaku Ketua Umum, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak. Selamat kepada Sulawesi Tengah, semoga prestasi terus meningkat,” ujar Dewi.
Ia juga berharap atlet-atlet Equestrian Indonesia terus mencetak prestasi membanggakan di tingkat internasional.
Sebagai bentuk komitmen terhadap tertib organisasi, Pordasi Equestrian juga meminta dukungan Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Erick Thohir.
Mereka berharap Menpora dapat memberi himbauan kepada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, agar tidak mengatasnamakan organisasi selain Pordasi yang sah di bawah KONI.
Penutupan Kejurnas berlangsung hangat, diiringi rasa bangga para orang tua dan pelatih yang menyaksikan perkembangan atlet muda mereka.
Dari balik paddock, wajah-wajah penuh harapan tampak pada para atlet. Sebagian besar masih duduk di bangku sekolah, tetapi mimpi mereka melesat jauh ke depan.
Bagi sebagian atlet, Kejurnas ini adalah debut pertama mereka. Bagi yang lain, ajang ini menjadi batu loncatan menuju PON 2028.
Seorang atlet muda dari Jawa Tengah, Anya, mengungkapkan rasa bangganya. “Ini pengalaman pertama ikut Jumping 90 cm. Deg-degan, tapi seneng banget bisa tampil,” ujarnya.
Di sudut lain, seorang ayah tampak memeluk anaknya dengan bangga setelah turun dari arena. Momen-momen emosional seperti inilah yang membuat Kejurnas Equestrian selalu dinanti.
Kejurnas bukan hanya kompetisi. Ia adalah arena pembentukan karakter, tempat atlet belajar tentang keberanian, kegagalan, disiplin, dan kemanusiaan.
Para pelatih pun berharap agar pembinaan Equestrian terus berjalan dengan dukungan organisasi yang kuat dan profesional.
Dengan berakhirnya Kejurnas 2025, perjalanan panjang menuju PON 2028 kini resmi dimulai. Para atlet kembali ke daerah masing-masing membawa pengalaman berharga, motivasi baru, dan mimpi yang semakin utuh.
Sementara Pordasi Equestrian terus berupaya menata diri, memperkuat organisasi, dan memastikan setiap atlet mendapat ruang pembinaan yang layak.
Dari arena APM Equestrian Center, semangat itu bergema: “Sportivitas membentuk integritas, integritas melahirkan prestasi.