Jakarta, InfoPublik – Kendala psikologis, seperti rasa malu, masih menjadi hambatan bagi sebagian perempuan dalam menjalani penanganan medis lanjutan setelah ditemukan kelainan pada organ leher rahim (serviks) maupun payudara.
Mencermati kondisi tersebut, Anggota Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Murti Utami, mendorong agar bidan di tingkat dasar (grassroot) bersama kader PKK untuk memperkuat pendekatan dari rumah ke rumah (door-to-door). Langkah ini bertujuan memberikan edukasi, memotivasi, serta mendampingi pasien agar tidak ragu mengakses pengobatan medis lanjutan yang dijamin oleh BPJS Kesehatan.
"Kadang-kadang seorang ibu itu malu apabila ditemukan ada kelainan di servikalnya atau di payudaranya. Makanya dengan adanya komitmen di grassroot, apalagi banyak kader PKK, saya titip untuk menggerakkan door-to-door, mengingatkan dan mengedukasi ibu-ibu untuk terus mendapatkan pengobatan," ujar Murti Utami dalam kegiatan Gebyar Pap Smear JKN 2026 di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (29/10/2026).
Bidan dan kader PKK diharapkan tidak berhenti pada tahap skrining, tetapi juga terus mendampingi pasien yang terdeteksi memiliki kelainan agar bersedia menjalani pengobatan hingga tuntas. BPJS Kesehatan membuka akses pelayanan pengobatan lanjutan bagi peserta.
Data BPJS Kesehatan mencatat, hingga September 2026, sebanyak 16,6 juta peserta JKN teridentifikasi berisiko kanker leher rahim. Namun, baru 2,27 persen yang menindaklanjuti hasil skrining melalui pemeriksaan Pap Smear atau inspeksi visual asam asetat (IVA). Karena itu, pendekatan aktif di lapangan menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan tindak lanjut pemeriksaan.
Murti Utami juga mendorong integrasi pemeriksaan Pap Smear dan USG payudara di puskesmas untuk memudahkan perempuan yang memiliki keterbatasan waktu. "Ibu-ibu itu sibuk, enggak bisa hari ini datang untuk pemeriksaan Pap Smear, besoknya payudara. Mungkin kalau bisa berkolaborasi dengan puskesmas, ya sekalian. Jadi bisa terdeteksi dua," ujarnya.
Selain pengobatan dan deteksi dini, lanjutnya, upaya pencegahan juga perlu diperkuat melalui vaksinasi HPV bagi remaja di atas usia 15 tahun.
Murti menegaskan bahwa kesehatan ibu merupakan fondasi penting bagi keberlangsungan dan kebahagiaan keluarga. Karena itu, hambatan emosional seperti rasa malu perlu diatasi bersama melalui pendekatan komunitas yang persuasif di tingkat desa. "Seorang ibu memiliki tanggung jawab yang besar membangun keluarga. Jadi harus sehat, kalau kita sendiri tidak sehat bagaimana bisa mengurusi keluarga kita," pungkasnya.