Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menegaskan, keberhasilan penanganan TB tidak cukup hanya dengan mengobati pasien yang telah sakit. Pencegahan melalui TPT dan pemeriksaan kontak erat perlu diperkuat agar kasus TB tidak terus berulang setiap tahun.
“Mengobati pasien yang sakit TB itu penting. Capaian pengobatan TB di Indonesia juga sudah sangat baik. Namun, kalau pencegahan melalui TPT dan pelacakan kontak erat tidak kita jalankan secara agresif, angka kasus TB tahun depan akan terus berulang,” ujar Benjamin dalam acara Hospital Leadership for TB Elimination: Jakarta Menuju Eliminasi TBC 2030 di Ruang Pola, Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Ia meminta setiap rumah sakit dan puskesmas memastikan kontak serumah pasien TB menjalani pemeriksaan dan mendapatkan TPT sesuai indikasi.
“Oleh karena itu, kita ubah paradigma berpikir kita. Setiap rumah sakit dan Puskesmas harus memastikan kontak serumah diperiksa dan mendapatkan TPT demi melindungi masa depan keluarga masyarakat,” tegasnya.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus TB terbanyak. Indonesia menyumbang sekitar 10 persen kasus TB global, dengan perkiraan 1,08 juta orang jatuh sakit dan 126.000 orang meninggal akibat TB setiap tahun.
Di DKI Jakarta, capaian memulai pengobatan TB telah melampaui 90 persen. Namun, cakupan pemberian TPT bagi kontak serumah masih berkisar 40 persen. Kondisi ini menjadi tantangan dalam memutus rantai penularan, terutama apabila kontak erat tidak segera diperiksa dan mendapatkan terapi pencegahan.
Sebanyak 62–64 persen kasus TB di DKI Jakarta juga pertama kali ditemukan di rumah sakit. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya peran rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta, termasuk rumah sakit TNI/Polri, dalam penanganan TB yang terintegrasi dengan puskesmas dan layanan kesehatan lainnya.
Untuk memperkuat penemuan kasus dan pencegahan penularan, Kemenkes memastikan seluruh puskesmas di DKI Jakarta dilengkapi alat Tes Cepat Molekuler (TCM). Selain itu, tersedia alokasi 32 unit portable X-ray yang dapat dibawa ke permukiman padat penduduk untuk mendukung pemeriksaan kontak erat.
Kemenkes juga memastikan ketersediaan obat TPT secara gratis di seluruh rumah sakit pemerintah maupun swasta.
TPT merupakan terapi pencegahan bagi orang yang berisiko tinggi atau memiliki kontak erat dengan pasien TB aktif, tetapi belum mengalami sakit TB. Terapi ini bertujuan mencegah infeksi TB berkembang menjadi penyakit TB aktif.
Pelaksanaan pencegahan di lapangan turut melibatkan kader TB dan tim kesehatan yang menelusuri kontak erat dengan mendatangi rumah warga. Pemeriksaan dan pendampingan diharapkan membantu keluarga pasien memperoleh layanan kesehatan sekaligus mengurangi kecemasan terhadap risiko penularan di lingkungan tempat tinggal.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menekankan pentingnya mengoptimalkan jaringan 197 rumah sakit dan ratusan puskesmas di Jakarta. Ia juga meminta agar akses layanan kesehatan tidak dibatasi berdasarkan kepemilikan KTP, mengingat tingginya mobilitas penduduk di wilayah metropolitan.
“Saya memberikan dukungan sepenuhnya agar pada 2030 eliminasi TB di Jakarta benar-benar bisa terwujud. Upaya ini tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Saya berharap kebijakannya tetap berlanjut meskipun terjadi pergantian kepemimpinan,” ujar Pramono.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Ani Ruspitawati menekankan pentingnya integrasi layanan antarfasilitas kesehatan untuk memastikan pasien mendapatkan pendampingan hingga pengobatan selesai dan kontak erat memperoleh tindak lanjut.
“Penemuan kasus di rumah sakit Jakarta sangat besar. Integrasi pelacakan kontak antara rumah sakit, Puskesmas, dan kader komunitas adalah kunci utama untuk memastikan setiap pasien didampingi hingga sembuh tuntas dan rantai penularan di lingkungan sekitar dapat kita putus sepenuhnya,” kata Ani.