Batam, InfoPublik — Kesalahan komunikasi dan penyampaian informasi tanpa konteks dapat menimbulkan kepanikan publik dan menghancurkan lembaga besar dalam waktu singkat.
Hal itu disampaikan Tenaga Ahli Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (Dirjen KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Latief Siregar, dalam forum CommuniAction di Batam, Kepulauan Riau, Kamis (27/11/2025), yang mengulas bagaimana kesalahan komunikasi dapat mengakibatkan runtuhnya Silicon Valley Bank (SVB) di Amerika Serikat dalam waktu 48 jam.
Latief Siregar menjelaskan bahwa Silicon Valley Bank yang tumbuh sebagai bank modern berkapital besar tiba-tiba runtuh hanya karena pernyataan direksi mengenai kesulitan likuiditas disebarkan secara tidak utuh oleh salah satu pemodal. Ajakan menarik dana yang viral di media sosial memicu penarikan dana besar-besaran hanya dalam satu hari, yang kemudian menjatuhkan bank tersebut.
“Hanya gara-gara potongan kalimat, sebuah bank besar runtuh. Itu bukti bahwa kesalahan komunikasi di era digital dapat menghancurkan reputasi dan stabilitas institusi,” jelasnya.
Lebih jauh, Latief juga menyoroti fenomena framing opini di media sosial yang sering memicu polarisasi, termasuk dalam isu nasional seperti polemik kewajiban pendaftaran platform digital, serta contoh perhatian publik yang lebih fokus pada sensasi dibanding risiko nyata seperti kasus radiasi Cesium-137 di Serang yang minim menjadi pembahasan publik. “Publik lebih memilih isu yang menyentuh emosi daripada fakta yang berdampak langsung. Inilah tantangan komunikasi publik hari ini,” tegasnya.
Terkait itu, ia menekankan urgensi media monitoring untuk membaca gelombang isu, mengelola sentimen publik, dan menentukan momen yang tepat untuk memberikan klarifikasi. “Kalau radarnya mati, kita terlambat merespons dan reputasi sudah jatuh. Di situlah pentingnya komunikasi cepat, tepat, dan terukur,” tutup Latief Siregar.