Jakarta, InfoPublik – Tidak semua cerita remaja mudah disampaikan kepada orang lain. Ada yang memilih diam karena orang tua terlalu sibuk, ada yang menyimpan ketakutan akibat perundungan, dan ada pula yang baru menyadari kesalahannya setelah pernah menyakiti orang lain.
Cerita-cerita itu muncul ketika Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji mengajak sejumlah pelajar berbicara tentang pengalaman hidup mereka dalam kegiatan memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Dalam suasana dialog yang berlangsung santai, Wihaji mengajak para siswa memejamkan mata dan mengingat pengalaman yang pernah membebani pikiran mereka. Mulai dari kecemasan saat belajar, pengaruh media sosial, ketakutan menghadapi masa depan, hingga kebiasaan memendam masalah seorang diri.
Salah seorang siswi, Nara, kemudian memberanikan diri bercerita. Ia mengaku sering ingin berbagi pengalaman tentang kegiatan di sekolah kepada orang tuanya. Namun, keinginan itu kerap tertunda karena kesibukan mereka.
"Saya sering ingin bercerita tentang kegiatan saya di sekolah. Tetapi Mama dan Papa hampir selalu bilang, 'Nanti saja ceritanya, Mama sama Papa lagi sibuk.' Karena selalu begitu, akhirnya saya memilih memendam semua cerita itu sendiri," tutur Nara.
Pengakuan tersebut menggambarkan bahwa persoalan yang dihadapi remaja tidak selalu berawal dari peristiwa besar. Terkadang, perasaan tidak memiliki kesempatan untuk bercerita saja sudah cukup membuat mereka memilih menyimpan kegelisahan sendiri.
Cerita serupa datang dari Adnan, seorang remaja penyandang disabilitas yang tinggal di panti asuhan. Ia mengungkapkan kesulitan belajar dan kebiasaannya bermain gawai hingga mendapat teguran dari guru.
Wihaji mendengarkan cerita Adnan dan mengapresiasi keberaniannya untuk berbicara. Sebagai bentuk dukungan, ia juga memberikan bantuan berupa dana perlengkapan sekolah.
Cerita lain disampaikan Cahya Malika atau Caca, siswi kelas 10 asal Kabupaten Tangerang. Ia mengingat pengalaman menjadi korban perundungan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.
Caca mengaku mengalami perundungan verbal dan fisik karena warna kulitnya. Ejekan dan perlakuan teman-temannya bahkan membuatnya takut datang ke sekolah. "Saya dikata-katain 'hitam', diselengkat. Saya merasa takut setiap kali harus masuk sekolah. Dalam satu bulan, saya sampai bolak-balik lima kali ke rumah sakit karena fisik dan mental saya sudah tidak kuat," ungkapnya.
Ia juga menceritakan kesulitan mendapatkan penyelesaian atas perundungan yang dialaminya. Namun, ketika memasuki jenjang SMA, Caca mulai menemukan lingkungan pertemanan yang lebih menerima dirinya.
Di tengah cerita para korban, dialog tersebut juga menghadirkan pengakuan dari Vincent, siswa kelas 11 SMK yang pernah menjadi pelaku perundungan ketika SMP. Ia mengaku pernah mengejek seorang siswa baru yang pendiam dengan sebutan Nobita.
Kini, Vincent menyadari bahwa perilaku tersebut dapat melukai perasaan orang lain. "Waktu SMP saya merasa nakal dan tidak peduli masa depan. Saat membully dulu saya merasa senang. Tapi sekarang saya sangat menyesal. Saya sadar bahwa setiap orang berhak menjadi dirinya sendiri dan tidak semua orang harus sama seperti kita," kata Vincent.
Pengakuan Vincent menunjukkan bahwa kesadaran untuk mengakui kesalahan juga menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pergaulan yang lebih sehat.
Menurut Mendukbangga Wihaji, pengalaman yang disampaikan para pelajar tersebut menjadi gambaran persoalan kesehatan mental yang perlu mendapat perhatian bersama.
Berdasarkan Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional (Indonesia Adolescent Mental Health Survey/I-NAMHS), sekitar 34,9 persen atau satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Sementara itu, sekitar satu dari 20 remaja mengalami gangguan mental.
Wihaji menyebut jumlah populasi remaja Indonesia mencapai sekitar 66 juta jiwa. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perhatian keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat terhadap kesehatan mental generasi muda.
Ia mengingatkan bahwa remaja yang tidak memiliki ruang aman untuk menyampaikan masalah berisiko mencari pelarian melalui perilaku yang membahayakan diri, seperti penyalahgunaan obat-obatan, paparan konten negatif di media sosial, hingga tindakan menyakiti diri sendiri.
Persoalan yang tampak sederhana, seperti rasa tidak percaya diri, takut ditolak lingkungan, dan kesepian, menurut Wihaji, perlu diperhatikan sejak dini agar tidak berkembang menjadi beban emosional yang lebih berat.
Bagi Wihaji, upaya menjaga kesehatan mental remaja perlu dimulai dari keluarga. Orang tua tidak hanya berperan memenuhi kebutuhan fisik dan pendidikan anak, tetapi juga perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan pengalaman dan perasaan mereka.
"Keluarga adalah unit terkecil dan terendah dalam sebuah negara. Jika kita ingin memperbaiki kualitas bangsa, perbaikilah keluarga terlebih dahulu. Kuncinya sederhana: komunikasi yang mau mendengar," tegas Wihaji.
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru menghakimi ketika anak mencoba menyampaikan persoalan. Sikap tersebut penting agar anak merasa aman untuk terbuka dan tidak mencari tempat bercerita yang berpotensi memberikan pengaruh negatif.
Selain keluarga, lingkungan pertemanan juga dapat menjadi ruang dukungan bagi remaja. Untuk itu, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga mendorong penguatan wadah edukasi dan konseling sebaya, seperti Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), Forum Generasi Berencana (Genre), serta program Akademi Keluarga.
Wihaji menilai, teman sebaya dapat berperan sebagai pendengar awal bagi remaja yang sedang menghadapi persoalan. Mereka mungkin belum selalu mampu memberikan solusi, tetapi kesediaan mendengarkan dapat membantu meringankan beban emosional.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak generasi muda untuk menghargai perbedaan dan tidak menjadikan keterbatasan fisik sebagai bahan perundungan. "Setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jangan pernah menjadikan keterbatasan atau perbedaan fisik sebagai bahan perundungan. Tugas remaja hari ini adalah belajar dan tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat," pesan Wihaji.
Dialog tersebut menyisakan pesan bahwa kesehatan mental remaja bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan atau pemerintah. Keluarga, sekolah, dan lingkungan pertemanan memiliki peran dalam menciptakan ruang yang aman bagi mereka untuk tumbuh.
Sebab, tidak setiap persoalan membutuhkan jawaban panjang. Ada kalanya, seorang remaja hanya membutuhkan orang dewasa yang bersedia meluangkan waktu, mendengarkan ceritanya, dan tidak langsung menghakimi.