Surabaya, InfoPublik — Eksekutif Produser Narasi TV, Mufti A. Sholih, mengingatkan pentingnya etika digital dalam menciptakan ruang daring yang sehat, aman, dan produktif.
Pesan ini disampaikan saat menjadi narasumber dalam Sohib Berkelas Surabaya, sebuah workshop pengenalan konten informasi publik serta pengelolaan akses dan aset konten pemerintah yang digelar oleh Ditjen Komunikasi Publik dan Media, Kementerian Komunikasi dan Digital (KPM Kemkomdigi) di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (20/11/2025).
Dalam pemaparannya, Mufti menegaskan bahwa etika merupakan prinsip moral yang mengatur perilaku individu maupun organisasi dalam lingkungan digital yang semakin terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari. “Etika dibutuhkan untuk menjaga sikap, tindakan, serta interaksi agar sesuai nilai moral di ruang digital,” ujarnya.
Mengapa Etika Digital Penting?
Menurut Mufti, ada dua alasan utama mengapa masyarakat harus bijak bermedia sosial: pertama, Menghargai sesama, termasuk meminimalkan kekerasan verbal dan menghindari pelecehan online. Kedua, Menjaga tanggung jawab digital, yaitu mencegah penyebaran misinformasi maupun disinformasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Ia menilai bahwa ruang digital kini menjadi arena diskusi publik yang memengaruhi demokrasi. Tanpa etika dan kontrol diri, percakapan daring dapat berubah menjadi serangan pribadi, stigmatisasi, hingga kekerasan berbasis gender.
Mufti memberi contoh fenomena “isu bau ketek” yang viral beberapa waktu lalu. Ia menilai kasus itu menunjukkan adanya kekerasan simbolik dan seksual yang kerap tidak disadari publik. “Banyak orang tidak peka bahwa ada tindakan merendahkan martabat yang dibungkus sebagai candaan,” tegasnya.
Cara Mendeteksi Hoaks: Verifikasi dan Falsifikasi
Mufti mengajak peserta memahami perbedaan misinformasi (kesalahan informasi tanpa niat jahat) dan disinformasi (kesalahan informasi yang sengaja disebarkan). Untuk mengatasinya, ia menekankan dua langkah utama:
Verifikasi sumber informasi, Cek kredibilitas media, Lihat rekam jejak pembuat konten.. Telusuri siapa saja pengikut atau pendukung akun.
Validasi konten: Cocokkan klaim dengan isi video/gambar. Gunakan alat pengecekan gambar seperti TinEye, Google Image, atau Yandex. Lakukan pengecekan manual seperti melihat tanggal unggahan, konteks, dan komentar sekitar.
Mufti juga membahas perbedaan verifikasi dan falsifikasi: Verifikasi mencari kebenaran dari informasi. Falsifikasi mencari kesalahan dari klaim atau konten yang diuji.
Menurutnya, falsifikasi sering digunakan dalam metode penelitian untuk menguji kekuatan sebuah argumen maupun data.
Etika sebagai Fondasi Empat Pilar Literasi Digital
Mufti menyambungkan pemaparannya dengan empat pilar literasi digital nasional digital skills, digital culture, digital ethics, digital safety. Menurutnya, pilar-pilar tersebut selalu bermuara pada etika. “Skill harus punya etika, culture harus punya etika, dan safety adalah wujud dari etika,” tegasnya.
Karena itu, ia mendukung tema workshop “Netizen Beretika: Konten Cerdas, Medsos Sehat” sebagai fondasi membangun kebiasaan digital yang lebih beradab.
Di sesi interaktif, Mufti juga mengajak peserta membaca desain visual, memahami konteks simbolik, serta mengidentifikasi bias dalam konten digital. Ia mengingatkan bahwa asumsi umum (common sense) sering tidak cukup untuk menilai apakah sebuah konten benar atau manipulatif.
Mufti menegaskan bahwa setiap pengguna memiliki peran penting menjaga ruang digital tetap aman dan sehat. “Kalau kita sadar tanggung jawab digital, kita bisa mencegah misinformasi menyebar lebih jauh,” ujarnya.
Paparan Mufti menjadi salah satu sesi kunci dalam workshop Sohib Berkelas Surabaya, yang digelar untuk memperkuat literasi digital, profesionalisme produksi konten publik, serta integritas informasi di era keterbukaan digital.