Jakarta, InfoPublik - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji menegaskan bahwa penyiapan kualitas generasi muda di tengah tantangan peradaban baru (new civilization) dan era digital harus berakar dari penguatan ketahanan keluarga. Keluarga diposisikan sebagai hal paling mendasar yang menentukan kualitas pembangunan bangsa ke depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Wihaji saat membuka Pertemuan Nasional Puncak Pembinaan Akademi Keluarga Indonesia 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026). Menurut dia, perbaikan kualitas suatu negara tidak akan pernah terwujud tanpa membenahi unit paling dasar di dalam masyarakat yaitu keluarga.
"Keluarga adalah unit yang paling kecil dan terendah di sebuah negara. Maka kalau mau memperbaiki negara, perbaiki keluarga. Dimulai dari keluarga," tambah Mendukbangga.
Mendukbangga Wihaji juga memaparkan gambaran demografi Indonesia yang saat ini dihuni oleh 284 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 66,4 juta jiwa merupakan kelompok usia remaja dan muda. Gabungan antara Generasi Z (24 persen) dan Generasi Milenial (25 persen) kini mendominasi hingga 49 persen dari total populasi warga negara. "Kelompok inilah yang diproyeksikan bakal memegang pimpinan nasional dalam kurun 5 hingga 30 tahun mendatang," ungkapnya.
Ancaman Algoritma dan Gawai
Kendati demikian, penetrasi era informasi dan teknologi membawa disrupsi serius pada pola kehidupan para remaja. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa rata-rata anak usia remaja menghabiskan waktu berkisar 8 hingga 10 jam setiap hari untuk menggunakan gawai (smartphone).
Paparan algoritma media sosial secara berkelanjutan yang diakses sejak bangun tidur menstimulasi hormon dopamin secara berlebihan. Kondisi ini dinilai memengaruhi mekanisme kerja otak, pola pikir, hingga membentuk perilaku serta karakter anak.
Wihaji mengingatkan bahwa serbuan informasi yang tidak terfilter dapat memicu future shock (kaget masa depan) dan menjadi ancaman serius. "Kalau tidak kita hati-hati, ini penjajahan yang sesungguhnya. Dulu kita dibunuh dengan perang fisik, hari ini kalau tidak hati-hati lewat ini," katanya.
Selain itu menurutnya, dampak dari tingginya keterikatan pada gawai dan algoritma digital turut berimbas pada kondisi psikologis remaja. Data yang disampaikannya mencatat sebanyak 34,8 persen remaja di Indonesia mengarah pada gangguan kesehatan mental.
Di sisi lain, maraknya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi tempat meluapkan persoalan personal demi memvalidasi perasaan. Walau AI sanggup menyajikan beragam data dan pengetahuan secara instan, teknologi tersebut dinilai memiliki keterbatasan mendasar karena tidak dibekali empati. "Hari ini kalau bicara pengetahuan, tanya saja di AI semua ada. Butuh ilmu pengetahuan apa saja, rumus apa saja, semua ada. Tetapi ingat, AI tidak punya hati," tuturnya.
Atas dasar dinamika peradaban digital tersebut, pendekatan pembinaan remaja kini bergeser. Wihaji menekankan bahwa tolok ukur penyiapan generasi muda bukan lagi sekadar membuat mereka "siap kerja", melainkan lebih mendasar lagi, yaitu "siap hidup".
Sebagai langkah konkret jangka panjang dalam investasi infrastruktur sumber daya manusia (SDM), Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga meluncurkan wadah Akademi Keluarga.
Melalui wadah Bina Keluarga Remaja, pemerintah mengintegrasikan tiga program pembinaan yang sebelumnya berjalan secara terpisah, yakni Generasi Berencana (GenRe), Pusat Informasi dan Konseling (PIK), serta Sekolah Siaga Kependudukan (SSK). Program Akademi Keluarga ini dikembangkan secara berjenjang, mulai dari tingkat dasar (basic), menengah (intermediate), hingga mahir (advance).
Untuk memastikan edukasi ketahanan keluarga menjangkau hingga ke tingkat tapak, pelaksanaan program ini ditopang oleh 600.000 Tim Pendamping Keluarga (TPK) serta hampir 17.000 tenaga penyuluh. Seluruh elemen tersebut akan bergerak hingga ke tingkat kecamatan dan balai penyuluhan di seluruh wilayah Indonesia.
Mendukbangga Wihaji berharap, melalui penguatan yang komprehensif ini, seluruh generasi muda dapat membentengi diri sehingga apa pun profesi dan jabatan yang diemban di masa depan, mereka akan selalu kembali pada penguatan institusi keluarga.