Jakarta, InfoPublik – Anak muda perlu membangun kebiasaan mengelola keuangan sejak dini agar mampu memenuhi kebutuhan, menyiapkan tabungan, dan mengendalikan pengeluaran sesuai prioritas. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membagi uang ke dalam tiga pos, yakni kebutuhan hidup (living), tabungan (saving), dan hiburan (playing).
Tips tersebut disampaikan financial trainer sekaligus Founder dan CEO Zap Finance, Prita Hapsari Ghozie, dalam talkshow bertajuk “Good Money Habit” pada Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Dalam sesi yang dipandu Puteri Indonesia Pariwisata 2022 Adinda Cresheilla itu, Prita menjelaskan bahwa pengelolaan keuangan yang sehat perlu dimulai dari kebiasaan sederhana, bukan langsung dengan membuat perencanaan yang rumit.
Langkah pertama yang ia sarankan adalah mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran. Catatan tersebut menjadi dasar untuk menyusun budget atau anggaran sehingga penggunaan uang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan finansial.
Prita memperkenalkan konsep assign your rupiah, yaitu membagi uang ke dalam tiga pos utama. Pos living digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti biaya kos, makan, transportasi, dan keperluan pribadi.
Pos saving dialokasikan untuk membangun dana penyangga atau cash buffer serta tabungan. Sementara itu, pos playing digunakan untuk kebutuhan rekreasi dan kehidupan sosial, seperti tiket mudik maupun jajan bersama teman.
Pembagian tersebut membantu anak muda mengetahui batas pengeluaran setiap pos dan menghindari penggunaan uang secara berlebihan.
Menurut Prita, pengaturan anggaran juga perlu didukung kebiasaan mindful spending, yakni kesadaran dalam membelanjakan uang dengan mempertimbangkan manfaat, kebutuhan, dan kemampuan finansial.
“Kebiasaan kecil dimulai lebih dulu, baru keuangan bisa dirapikan,” paparnya.
Hindari Membandingkan Kondisi Finansial
Selain kebiasaan belanja, Prita menyoroti social comparison atau kecenderungan membandingkan kondisi diri dengan orang lain sebagai salah satu kesalahan yang sering dilakukan anak muda pada usia 20-an.
Ia mengingatkan bahwa standar kehidupan yang terlihat di media sosial tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya. Paparan konten digital juga dapat membuat seseorang merasa harus mengikuti gaya hidup orang lain, meskipun tidak sesuai dengan kemampuan keuangannya.
Karena itu, Prita mengajak generasi muda untuk mengenali nilai dan kebutuhan diri sendiri. Membandingkan pencapaian finansial dengan orang lain, menurutnya, tidak akan pernah ada habisnya.
Prita juga menjelaskan bahwa pola pikir seseorang mengenai uang sering dipengaruhi kebiasaan keluarga. Namun, latar belakang keluarga bukan alasan untuk berhenti belajar mengelola keuangan.
Anak muda tetap memiliki kesempatan memperoleh pengetahuan dan membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat, termasuk bagi mereka yang tumbuh di lingkungan dengan keterbatasan pemahaman pengelolaan uang.
Bangun Kemandirian Finansial Sejak Dini
Dalam sesi tersebut, Prita turut menekankan pentingnya pola pikir financial independent atau kemandirian finansial. Ia menyampaikan tiga prinsip yang perlu diperhatikan generasi muda, yaitu tidak menjadikan orang tua sebagai dana darurat, tidak menjadikan anak sebagai dana pensiun, serta tidak menjadikan teman atau saudara sebagai fasilitas paylater.
Pesan tersebut mengingatkan pentingnya tanggung jawab setiap orang dalam mengelola kebutuhan dan risiko keuangannya sendiri, tanpa membebankan kewajiban finansial kepada orang lain.
Prita juga mengajak peserta untuk memeriksa kembali alasan di balik setiap keinginan sebelum mengeluarkan uang. Misalnya, ketika ingin bepergian atau traveling, seseorang perlu memastikan apakah kebutuhan tersebut memang untuk penyegaran diri atau sekadar mengikuti tren.
Dengan mengenali motif tersebut, anak muda dapat membedakan pengeluaran yang mendesak, kebutuhan penting, dan keinginan yang masih bisa ditunda.
Menutup sesi, Prita mengingatkan bahwa keputusan dalam mengelola keuangan berada di tangan masing-masing individu.
“The choice is always yours,” katanya.
Ia mengajak generasi muda memulai perubahan melalui satu kebiasaan baik, seperti mencatat pengeluaran, menyusun anggaran, dan membelanjakan uang secara sadar.
Talkshow “Good Money Habit” menjadi bagian dari Indonesia Youth Summit 2026 yang berlangsung pada 29–30 Oktober 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dan narasumber melalui berbagai diskusi di Teater Besar dan Teater Kecil sebagai rangkaian kegiatan menyongsong 100 tahun Sumpah Pemuda.