SLEMAN, InfoPublik - Berbekal selembar peta kolonial Belanda terbitan tahun 1920, sejumlah pegiat sejarah berhasil menyingkap sisa struktur jalur kereta api pengangkut tebu masa lampau, Minggu (1/11/2026).
Penemuan berharga di area perkebunan Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan, ini diyakini sebagai urat nadi logistik menuju Pabrik Gula Sendang Pitu.
Penelusuran yang melibatkan petani setempat tersebut berhasil mengidentifikasi sebuah tugu setinggi lebih dari 10 meter yang berdiri kokoh di tengah aliran Kali Putih.
Selain pilar raksasa tersebut, tim penelusur turut menemukan sisa pondasi jembatan serta susunan bantalan rel lori selebar 165 sentimeter.
Pegiat sejarah lokal, Mei Anjar Wintolo, membenarkan bahwa temuan fisik ini selaras dengan penuturan lisan para tetua desa pada masa silam.
"Menurut cerita simbah dulu, ini adalah jembatan sepur tebu di mana kemungkinan besar ini adalah jalur lori pengangkut tebu menuju Pabrik Gula Sendang Pitu," ujar Mei.
Pabrik Gula Sendang Pitu tercatat sebagai pabrik pengolahan tebu terakhir yang dibangun pemerintah kolonial di Yogyakarta pada tahun 1922 silam.
Sayangnya, operasional pabrik yang berdiri di atas lahan bekas perkebunan tembakau tersebut terpaksa dihentikan permanen pada 1931 akibat hantaman krisis ekonomi global.
Lurah Margokaton, Anggir Bimanyu, menyambut positif inisiatif warganya dalam menyelamatkan kepingan memori kolektif perdesaan tersebut.
"Jejak sejarah di wilayah ini merupakan aset yang harus dijaga dan dilestarikan agar ke depannya dapat memberi manfaat bagi generasi mendatang, setelah melalui kajian dari pihak yang berwenang," tegas Anggir.
Keberadaan situs bersejarah ini diharapkan segera memperoleh pelindungan pelestarian resmi dari pemerintah daerah.
Intervensi dinas kepurbakalaan diyakini sanggup mengubah sisa reruntuhan industri kolonial ini menjadi ruang edukasi sejarah yang bernilai tinggi bagi generasi penerus Sleman. (MC Kab. Sleman/KIM Pararta Guna Gamping/Ony)