SLEMAN, InfoPublik - Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman menyelenggarakan pelatihan pranatacara atau pembawa acara adat Jawa di Resto Sendang Kumitir, Kapanewon Turi, Rabu (4/11/2026).
Agenda pelestarian tradisi lisan ini digagas untuk membekali masyarakat dengan tata krama, kesantunan, dan keindahan bertutur kata.
Ketua Forum Protokol PTNBH Indonesia, Jack Haryanto, memaparkan pentingnya keseimbangan antara bahasa sederhana yang lugas (basa prasaja) dan bahasa ungkapan sastra (basa rinengga).
"Kuncinya adalah ketepatan dan kepantasan, bahasa yang indah bukan berarti harus selalu menggunakan kalimat yang rumit," ungkap Jack.
Para peserta diperkenalkan dengan ragam ungkapan lisan seperti parikan, wangsalan, dan purwakanthi untuk memperkaya penyampaian makna filosofis dalam prosesi adat.
Praktisi keprotokolan tersebut juga menekankan penerapan prinsip empan papan agar setiap penutur mampu menyesuaikan diksi dengan situasi dan karakter audiens yang dihadapi.
Selain etika lisan (unggah-ungguh basa), pelatihan ini turut mengasah teknis olah suara yang mencakup kejelasan artikulasi, intonasi, hingga penguasaan perangkat pelantang suara.
Pemahaman tingkatan bahasa dari ngoko hingga krama inggil menjadi syarat mutlak guna memberikan penghormatan proporsional kepada para sesepuh dan pejabat pemerintahan.
Profesi pemandu acara menuntut ketepatan sikap dalam memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib tanpa menonjolkan ego personal.
"Panatacara harus memahami bahwa dirinya bukan pusat perhatian dalam sebuah acara, tugas utamanya adalah membantu seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib dan memastikan pesan tersampaikan dengan baik," tegas Jack. (MC Kab. Sleman/KIM Tempel/SBD)