SLEMAN, InfoPublik - Ancaman pudarnya eksistensi bahasa Jawa di kalangan generasi muda menjadi sorotan utama dalam perayaan hari ulang tahun keempat Paguyuban Pranatacara Yogyakarta (PPY) Kapanewon Tempel, Sleman.
Momentum perenungan budaya tersebut dieksekusi secara mandiri oleh para pegiat literasi tradisional di Warung Kopi Sormindi, Kalurahan Sumberrejo, Minggu (25/10/2026).
Dominasi penggunaan bahasa nasional dalam komunikasi harian dinilai mulai menggerus kecakapan anak-anak lokal dalam merangkai kalimat krama.
Panewu Tempel, Rasyid Ratnadi Sosiawan, menuntut seluruh elemen masyarakat untuk menyediakan ruang aman bagi anak muda berekspresi tanpa bayang-bayang ketakutan akan kesalahan tata bahasa.
"Kalau belum bisa menggunakan bahasa Jawa dengan baik, setidaknya kita mulai dari memahami dan berani berbicara, jangan sampai karena takut salah akhirnya tidak ada lagi yang berani menggunakan bahasa Jawa," urai Rasyid memacu keberanian generasi penerus.
Penasihat PPY Kapanewon Tempel, Abdullah Shodiq, turut mengingatkan, esensi pelestarian budaya tidak boleh dikerdilkan sebatas pergelaran kesenian seremonial semata.
Nilai luhur warisan leluhur tersebut harus tercermin secara utuh dalam budi pekerti serta kepatuhan tata krama terhadap kalangan yang lebih tua.
Di tengah masifnya tantangan modernisasi, organisasi kebudayaan ini terus berupaya menjaga roda program kerja melalui sistem pendanaan swadaya dari para anggota.
Ketua PPY Kapanewon Tempel, Sih Budi Daryanto, menegaskan, komunitasnya tetap membutuhkan intervensi strategis dari pemerintah daerah untuk merawat napas pelestarian tradisi.
"Kami memahami pemerintah sedang mencanangkan efisiensi anggaran, namun kami berharap dukungan kepada organisasi kebudayaan tetap diberikan secara materiil agar program kerja dapat berjalan dengan lancar," pungkas Sih. (MC Kab. Sleman/SBD)