Langgur, InfoPublik — Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2026 di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, berlangsung meriah dengan anggaran sekitar Rp300 juta. Penyelenggaraan festival yang dinilai memiliki skala kegiatan lebih besar dari anggaran tersebut tidak terlepas dari tradisi Yelim, yakni budaya gotong royong dan saling membantu yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Kei.
Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, mengatakan semangat kebersamaan masyarakat, dukungan organisasi perangkat daerah (OPD), sponsor, serta berbagai mitra menjadi kekuatan utama dalam menyukseskan festival hingga puncak acara di Pantai Ngurbloat, Sabtu (24/10/2026).
Menurut Thaher, tradisi Yelim memungkinkan berbagai pihak berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing sehingga kegiatan berskala besar dapat terlaksana dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
“Itulah kami orang Kei yang punya tradisi Yelim, tradisi gotong royong, saling bantu. Barusan saja saya ngobrol-ngobrol dengan Bapak Gubernur. Bapak Gubernur tanya, ini anggarannya berapa? Ketika saya bilang kurang lebih Rp300 juta, beliau terheran-heran. Kok bisa? Kalau lihat kegiatan seperti ini berarti kurang lebih di atas Rp1 miliar,” ujar Thaher.
Ia menjelaskan, kemeriahan FPMK 2026 merupakan hasil kerja sama pemerintah daerah dan berbagai unsur masyarakat yang turut berpartisipasi dalam persiapan hingga pelaksanaan festival.
Partisipasi tersebut mencerminkan kuatnya solidaritas masyarakat Kei dalam mendukung kegiatan bersama, termasuk agenda pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata daerah.
Bagi masyarakat Kei, Yelim merupakan tradisi saling membantu yang diwariskan secara turun-temurun. Nilai tersebut tidak hanya diterapkan dalam kehidupan sosial, tetapi juga menjadi landasan kebersamaan dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan masyarakat.
Thaher menilai tradisi tersebut menjadi salah satu modal sosial yang perlu terus dijaga karena mampu memperkuat hubungan antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak yang mendukung pembangunan daerah.
Melalui semangat gotong royong, FPMK 2026 dapat menghadirkan rangkaian kegiatan budaya dan pariwisata dengan melibatkan berbagai unsur tanpa hanya bergantung pada anggaran pemerintah daerah.
Keterlibatan OPD, sponsor, mitra, dan masyarakat juga menunjukkan bahwa penyelenggaraan festival membutuhkan kolaborasi yang kuat agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.
Selain mendukung keberhasilan kegiatan, tradisi Yelim menjadi salah satu identitas budaya yang diperkenalkan kepada pengunjung dan wisatawan yang menghadiri FPMK 2026.
Nilai kebersamaan dan keramahan masyarakat Kei melengkapi daya tarik alam Kepulauan Kei, termasuk Pantai Ngurbloat yang menjadi lokasi puncak festival.
Thaher berharap semangat Yelim terus dipelihara dan diterapkan dalam berbagai kegiatan pembangunan maupun promosi daerah.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada media cetak dan elektronik yang turut mendukung penyebarluasan informasi mengenai potensi wisata dan kekayaan budaya Kabupaten Maluku Tenggara.
Menurutnya, publikasi media memiliki peran penting dalam memperkenalkan destinasi wisata Kepulauan Kei kepada masyarakat nasional maupun internasional.
Melalui FPMK 2026, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara berupaya memperkuat promosi pariwisata dengan mengangkat keindahan alam, fenomena meti, serta kekayaan tradisi yang menjadi identitas masyarakat Kei.
MC.Maluku Tenggara/Adolof Labetubun