SLEMAN, InfoPublik - Seni memandu acara tradisional Jawa atau panatacara tidak sekadar menuntut kelancaran berbicara, melainkan membutuhkan penguasaan tata krama dan ketepatan membaca situasi publik.
Untuk mempertahankan warisan luhur tersebut, Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman menggelar Pelatihan Bahasa dan Sastra, Adiwicara, serta Pranatacara di Ruang Rapat Rukun, Selasa (20/10/2026).
Pakar keprotokolan sekaligus Ketua Forum Protokol PTNBH Indonesia, Haryanto, membedah kompetensi krusial pembawa acara melalui materi Sangune Panatacara.
Ia menganalogikan peran pemandu acara selayaknya seorang dirigen orkestra yang memikul tugas berat untuk menyatukan ritme emosi audiens sekaligus merawat kesakralan ritual keluarga penyelenggara.
Kompetensi utama yang wajib dikuasai peserta adalah penerapan prinsip kebahasaan Jawa yang mengutamakan aturan kepantasan ruang dan waktu.
Penggunaan kekayaan sastra lokal seperti tembung rinengga sangat diperbolehkan untuk memperindah tuturan, namun instruktur mewanti-wanti agar rangkaian kata estetis tersebut tidak mengaburkan kelugasan pesan bagi para tamu.
Profesionalisme seorang pemandu acara akan diuji secara nyata ketika mereka berhadapan dengan kendala teknis lapangan seperti pemadaman listrik atau pergeseran jadwal.
Dalam kondisi darurat tersebut, sang pembawa acara dituntut tampil sebagai sosok penenang yang mampu menyapa audiens dengan bahasa menyejukkan guna meredam kepanikan massa tanpa mengurangi wibawa acara.
Kepekaan batin dalam membaca dinamika situasi ini wajib diimbangi dengan sinergi lintas pihak bersama elemen pekerja teknis di lapangan.
Koordinasi taktis dengan panitia penyelenggara, penata rias, hingga teknisi suara menjadi fondasi utama dalam mengamankan kelancaran rangkaian upacara adat maupun forum pemerintahan resmi.
Penguasaan etika komunikasi komprehensif ini diproyeksikan menjadi instrumen pembelajaran karakter bagi generasi muda dalam berorganisasi di era komunikasi digital.
Para pakar kebudayaan mengingatkan bahwa pembentukan kompetensi pemandu acara yang andal mutlak menuntut dedikasi berlatih yang panjang agar nilai penghormatan warisan leluhur tetap lestari di tengah dinamika masyarakat modern. (MC Kab. Sleman/KIM Tempel/SBD)