Atambua, InfoPublik – Pemerintah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mencegah dan menanggulangi zoonosis serta Penyakit Infeksius Baru (PIB) melalui pendekatan One Health. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan deteksi dini, mempercepat respons terhadap ancaman penyakit, serta melindungi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Tim Koordinasi Daerah (TIKORDA) Zoonosis dan PIB di Aula Hotel Setia, Atambua, Selasa (20/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) One Health dan TIKORDA Zoonosis dan PIB yang berlangsung pada 19–20 Oktober 2026.
Pertemuan tersebut dihadiri jajaran perangkat daerah Kabupaten Belu dan berbagai pemangku kepentingan. Pembahasan difokuskan pada penguatan koordinasi, pertukaran data lintas sektor, pemantauan penyakit, serta penyusunan langkah penanganan yang terpadu.
Pendekatan One Health menempatkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai aspek yang saling berkaitan sehingga pencegahan dan pengendalian penyakit membutuhkan keterlibatan berbagai sektor.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Maria Elisabeth Anggreini, menegaskan bahwa ancaman penyakit yang melibatkan manusia, hewan, dan lingkungan tidak dapat ditangani secara terpisah.
“Ancaman lintas manusia, hewan, dan lingkungan tidak dapat ditangani oleh satu sektor saja,” tegas Maria.
Menurutnya, penguatan TIKORDA dan Tim Gerak Cepat (TGC) perlu didukung koordinasi yang solid, pertukaran data, surveilans penyakit, deteksi dini, serta investigasi bersama.
Langkah tersebut diperlukan agar potensi penyebaran penyakit dan kejadian luar biasa (KLB) dapat diketahui lebih awal dan ditangani secara cepat serta terkoordinasi. Edukasi kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dalam mencegah penyebaran penyakit sejak dini.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Melky Angsar, menyoroti pentingnya pemantauan kesehatan hewan, penyelidikan bersama, dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit. Tingginya lalu lintas manusia, barang, dan hewan perlu diimbangi pengawasan yang memadai untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit.
Ia juga menekankan perlunya dukungan anggaran untuk memperkuat koordinasi, pemeriksaan laboratorium, surveilans, dan logistik vaksinasi.
“Penanggulangan zoonosis dan PIB secara terpadu membutuhkan dukungan anggaran yang memadai, penguatan surveilans, investigasi bersama, serta kerja sama lintas sektor untuk mendeteksi dan merespons ancaman penyakit secara lebih cepat,” ujar Melky.
Dari sisi perencanaan pembangunan, Kepala Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam Bapperida Provinsi NTT, Yoseph H. Dahat, menekankan pentingnya memperkuat kelembagaan TIKORDA melalui pembagian tugas yang jelas, koordinasi berkelanjutan, serta integrasi program ke dalam perencanaan dan penganggaran daerah.
Menurutnya, setiap kesepakatan perlu ditindaklanjuti dengan rencana kerja, penanggung jawab, dukungan pembiayaan, dan mekanisme evaluasi agar dapat diwujudkan menjadi program nyata oleh masing-masing perangkat daerah.
“Koordinasi perlu ditindaklanjuti dengan rencana kerja yang jelas, penanggung jawab, dukungan pembiayaan, dan mekanisme evaluasi agar setiap kesepakatan dapat diwujudkan menjadi aksi nyata,” tegas Yoseph.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama untuk membahas tantangan dan kebutuhan daerah dalam pencegahan serta penanggulangan zoonosis dan PIB. Forum tersebut diharapkan memperkuat pemahaman bersama sekaligus mendorong tindak lanjut konkret dari setiap sektor terkait.
Bagi masyarakat Kabupaten Belu, penguatan koordinasi ini diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia, mempercepat deteksi potensi wabah, dan mendukung penanganan kasus secara lebih terarah.
Masyarakat juga diimbau menjaga kebersihan lingkungan, memperhatikan kesehatan hewan peliharaan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta melaporkan kepada petugas kesehatan atau instansi terkait apabila menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Melalui penguatan TIKORDA dengan pendekatan One Health, pemerintah daerah mendorong pencegahan, pemantauan risiko, deteksi dini, dan penanganan KLB berjalan secara terpadu dan berkelanjutan. Sinergi lintas sektor diharapkan memperkuat kesiapsiagaan Kabupaten Belu dalam menghadapi ancaman penyakit sekaligus melindungi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.