SLEMAN, InfoPublik – Menguasai bahasa lisan Jawa nyatanya belum tentu berbanding lurus dengan kemampuan merangkai aksara tulisnya.
Fenomena tergerusnya literasi lokal inilah yang memantik langkah Akhmad Fikri untuk merumuskan sebuah terobosan edukatif melalui buku panduan bertajuk Gampang Eling Carangapak.
Saat diperkenalkan di Pondok Pesantren Bina Aksara Mulya, Gamping, Sleman, pada Minggu (4/10/2026), buku ini seketika menawarkan pendekatan segar bagi masyarakat yang ingin kembali mengakrabi peninggalan leluhur.
Panduan ini mengandalkan metode "Carangapak" yang telah dikembangkan sejak 2021, di mana pembelajarannya tidak membebani ingatan, melainkan mengasah proses penalaran dan pengenalan visual terhadap setiap lekuk aksara.
Melalui perpaduan daya visual tersebut, pembaca akan dipandu mengenali karakter huruf secara bertahap tanpa harus terjebak dalam hafalan buta yang membosankan.
Akhmad menegaskan, buku panduan ini didesain seluwes mungkin agar dapat diandalkan, baik sebagai modul belajar mandiri maupun referensi di bangku pendidikan formal.
“Penguasaan aksara Jawa tidak seharusnya menjadi sesuatu yang sulit dijangkau masyarakat. Dengan metode pembelajaran yang tepat, pengenalan aksara dapat dilakukan secara bertahap dan menyenangkan,” tuturnya meruntuhkan stigma rumitnya aksara Jawa.
Lebih dari sekadar buku teknis tata bahasa, Gampang Eling Carangapak membawa misi luhur untuk merekatkan kembali kepingan identitas peradaban yang kian pudar.
Menurut Fikri, aksara daerah merupakan medium autentik yang merekam jejak pengetahuan, pemikiran, serta ekspresi kebudayaan masyarakat Jawa dari masa ke masa.
Berbekal kemudahan teknik menghafal yang disajikan secara gamblang di setiap halamannya, buku panduan ini diharapkan sanggup mengubah pembelajaran aksara Jawa dari sekadar kewajiban akademis menjadi kesadaran kultural yang lahir dari hati sanubari masyarakat. (MC Kab. Sleman / KIM Parartaguna Gamping / Adnan Nurtjahjo)