SLEMAN, InfoPublik - Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo, Kabupaten Sleman, menggelar Pelatihan Menjadi Panatacara (pembawa acara) dan Sesorah (pidato) guna menyelamatkan bahasa Jawa dan nilai tata krama dari ancaman degradasi akibat modernisasi, Senin (19/10/2026).
Sebanyak 25 peserta yang terdiri atas perwakilan Karang Taruna, pengurus rukun tetangga dan warga, hingga kader Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Padukuhan Kromodangsan digembleng langsung di Aula Kalurahan Lumbungrejo.
Pembiayaan program pelestarian identitas lokal ini ditopang sepenuhnya oleh instrumen Alokasi Dana Desa (ADD).
Lurah Lumbungrejo, Misbah Al Hakim, menetapkan pelatihan ini sebagai intervensi strategis untuk mengembalikan kecakapan bertutur bahasa Jawa krama yang santun, khususnya di kalangan pemuda.
Maraknya fenomena pencampuran bahasa dalam komunikasi harian mendesak otoritas desa untuk segera membekali warganya dengan standar etika berbahasa (unggah-ungguh) agar generasi muda tidak terputus dari akar budayanya.
Untuk memastikan standar pengajaran yang akurat, pemerintah desa menggandeng instruktur profesional dari Paguyuban Panatacara Yogyakarta (PPY).
Kepala Bidang Pendidikan dan Latihan SDM DPD PPY Kabupaten Sleman, Yuana Agus Dirgantara, bersama instruktur DPC PPY Kapanewon Tempel, Saryanto, turun langsung membedah konstruksi bahasa seorang pembawa acara secara teknis.
Kurikulum pelatihan disusun secara komprehensif, mulai dari penguasaan struktur dasar pembukaan, penyampaian maksud, hingga penutup yang presisi.
Para peserta juga dibekali empat prinsip dasar mentalitas pelaku panggung, yakni niat, semangat, nekat, dan ragat.
Dari sisi teknis penampilan, pengajaran difokuskan pada tiga pilar utama: wiraga (penguasaan gestur tubuh), wirama (kendali tempo dan intonasi), dan wirasa (kedalaman penghayatan suasana).
Seluruh konstruksi penampilan tersebut disempurnakan melalui latihan artikulasi, teknik pernapasan, serta penerapan tata bahasa (paramasastra) yang menghindari diksi tidak baku.
Pembekalan teknis ini ditargetkan mampu mencetak barisan pemuda yang cakap dan percaya diri saat memandu forum resmi kemasyarakatan maupun upacara adat perdesaan.
Penguasaan keterampilan berpidato tradisional ini pada akhirnya bermuara pada terjaminnya pewarisan budaya bertutur yang berkelanjutan bagi generasi mendatang. (MC Kab. Sleman/KIM Sleman/SBD)