Banda Aceh, InfoPublik – Pemerintah Kota Banda Aceh memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi dengan meningkatkan saluran drainase, memelihara jalan, serta mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal meninjau sejumlah titik pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur tersebut, Jumat (2/10/2026). Peninjauan meliputi peningkatan saluran drainase Khairil Anwar dan Lamgugop, pembangunan drainase Lamdom, serta pemeliharaan Jalan Sisingamangaraja dan Jalan Kebun Raja.
Illiza juga meninjau sejumlah Waste Collecting Point (WCP) di Gampong Alue Deah Teungoh, Rusunawa Keudah, dan Gampong Lingke untuk melihat pengelolaan serta pemilahan sampah yang dilakukan masyarakat.
Menurut Illiza, pembenahan drainase dan kebersihan lingkungan menjadi bagian penting dalam mengantisipasi dampak hujan dengan intensitas tinggi yang berpotensi memicu genangan dan banjir.
“Antisipasi kita adalah dengan membersihkan lingkungan, drainase, dan sampah yang ada di kota. Ini bagian dari upaya kita menghadapi hidrometeorologi. Tadi pagi bersama Forkopimda kita juga melakukan gotong royong bersama,” ujar Illiza.
Ia mengatakan, sepanjang 2026 Pemko Banda Aceh telah melakukan peningkatan dan pembangunan saluran drainase serta pemeliharaan jalan. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat membantu mengendalikan limpasan air ketika hujan dengan intensitas tinggi.
“Selain kita melihat jalan yang sudah kita perbaiki persentasenya sudah mencapai 90%. Kita juga melihat drainase kita ini masih ada sedimen dan sampah yang harus dibersihkan. Ini bagian dari perilaku masyarakat kita yang harus terus kita perbaiki,” katanya.
Menurut Illiza, kesiapsiagaan menghadapi musim hujan tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Sampah plastik, kaleng, dan berbagai jenis kemasan lainnya perlu dibuang dan dipilah pada tempat yang telah disediakan.
Pemko Banda Aceh juga mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui bank sampah. Peninjauan WCP dilakukan untuk melihat langsung proses pemilahan sampah sekaligus pemanfaatan lahan untuk kegiatan pangan yang dilakukan masyarakat.
“Kalau kota itu konsumsi sampahnya cukup tinggi, tetapi ketika membuang sampah tidak menempatkan sampah pada tempatnya, inilah akibatnya kita harus ekstra. Kita juga mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui bank sampah,” ujar Illiza.
Selain pembangunan dan pemeliharaan drainase, Pemko Banda Aceh telah memiliki lima titik sistem deteksi dini banjir atau Early Warning System (EWS). Sistem tersebut diharapkan membantu pemerintah memantau kondisi dan memberikan peringatan lebih dini terhadap potensi banjir akibat hujan dengan intensitas tinggi.
Illiza mengajak masyarakat ikut menjaga kebersihan lingkungan, terutama memasuki musim hujan. “Mari kita bersihkan daerah kita, kota kita karena ini sudah masuk musim hujan. Kita juga membangun dan meningkatkan saluran drainase agar tidak banjir. Didukung juga dengan keberadaan lima titik sistem deteksi dini banjir atau Early Warning System (EWS), sehingga mampu membantu mengontrol dan meminimalkan dampak yang ditimbulkan akibat curah hujan tinggi. Mudah-mudahan itu tidak terjadi,” katanya.