Festival Lembutan Bansari Hadirkan Transaksi Koin Kayu
Ilustrasi: MC Temanggung.
Ilustrasi: MC Temanggung.
Temanggung, InfoPublik- Festival Lembutan Bansari Kaping 7 akan kembali digelar di Desa Gentingsari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, pada 8–10 Agustus 2026. Mengusung tema "Udaya Sata Samriddhi" yang bermakna Mengembalikan Kemakmuran Tembakau, festival tahunan tersebut menghadirkan pengalaman unik dengan mewajibkan pengunjung bertransaksi menggunakan mata uang berbahan kayu serta menerapkan pasar bebas plastik.
Bupati Temanggung Agus Setyawan mengapresiasi kreativitas generasi muda Kecamatan Bansari yang mampu mengemas tradisi menjadi daya tarik wisata berbasis budaya dan ramah lingkungan.
Menurut dia, penggunaan mata uang kayu dan penerapan stan bebas plastik merupakan konsep yang unik karena berakar pada tradisi sekaligus mencerminkan kepedulian terhadap kelestarian alam.
"Menonton prosesi nganjang, mencicipi jajanan yang dibungkus daun, dan memegang koin kayu bukan sekadar aktivitas belanja biasa, melainkan sebuah diplomasi budaya yang mendalam. Karena kita tidak hanya merayakan hasil panen tembakau, tetapi juga merawat harmoni kehidupan dan kedaulatan ekonomi masyarakat lereng Gunung Sindoro," ujar Bupati Agus, Selasa (28/7/2026).
Ia juga mengajak masyarakat untuk meramaikan Festival Lembutan Bansari yang telah diselenggarakan sejak 2017 sebagai ajang pelestarian budaya, penguatan ekonomi kreatif, dan promosi potensi tembakau khas Temanggung.
Camat Bansari sekaligus Penanggung Jawab Kegiatan, Ika Utami Widjayanti, mengatakan Festival Lembutan Bansari menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenalkan tradisi tembakau lembutan kepada generasi muda maupun wisatawan.
Rangkaian kegiatan meliputi prosesi jamasan cacak atau pembersihan alat rajang tembakau tradisional hingga ritual nganjang, yakni menata atau menjemur rajangan daun tembakau secara massal.
"Tembakau lembutan bukan sekadar komoditas, tapi urat nadi kebahagiaan dan ekonomi warga kami. Lewat festival yang dikemas santai dan interaktif ini, kami ingin merangkul generasi muda dan wisatawan untuk ikut melestarikan warisan tradisi leluhur, sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif desa," kata Ika.
Sementara itu, Ketua Panitia Festival Lembutan Bansari, Yoga Listiawaan, menjelaskan seluruh pengunjung wajib menggunakan mata uang khusus berbahan kayu untuk bertransaksi selama festival berlangsung. Kepingan kayu tersebut tersedia dalam tiga nominal yang setara dengan Rp2.000, Rp5.000, dan Rp20.000, serta dapat ditukarkan di stan resmi yang berada di pintu masuk kawasan festival.
"Langkah anti mainstream ini sengaja dipilih untuk menghidupkan kembali atmosfer pasar tradisional zaman dulu yang guyub dan interaktif. Selain itu, ini adalah komitmen nyata kami menjaga kelestarian alam. Di area Pasar Jajan Desa dan UMKM nanti, seluruh kuliner tradisional dari 13 desa wajib dikemas menggunakan bahan alami, seperti daun pisang, dan penjaga standnya pun mengenakan busana adat Jawa lengkap," jelas Yoga.
© Copyright 2026, All Rights Reserved