SLEMAN, InfoPublik - Suara raungan mesin memecah heningnya kawasan persawahan Dusun Plumbon, Kalurahan Mororejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman.
Di bawah terik matahari pertengahan tahun, aroma khas jerami segar melayang di udara saat musim panen raya menyapa area persawahan dekat Masjid Baitul Qowwam Plumbon Kidul.
Di tengah hamparan petak sawah yang menguning, Maksum sibuk bergulat dengan waktu.
Dengan gerakan terampil, tangannya meraih rumpun jerami berpadi lalu memasukkannya ke dalam corong mesin perontok (thresher) roda tiga.
Dalam hitungan detik, bulir-bulir gabah terlepas sempurna dari tangkainya dan meluncur bersih ke dalam wadah penampungan.
Dari Tradisi "Ngiles" Menuju Kepraktisan Mesin
Bagi warga lokal, kehadiran mesin thresher modifikasi milik Maksum menjadi simbol perubahan besar dalam cara bertani.
Jika merunut kenangan masa lalu, proses merontokkan padi merupakan pekerjaan fisik yang amat menguras energi melalui tradisi ngiles.
Kala itu, para petani harus memotong rumpun padi lalu memijat dan menginjak-injak jerami secara manual dengan kaki telanjang di atas alas terpal agar bulir gabah terlepas.
Metode tradisional ini tak hanya memakan waktu hingga berhari-hari, tetapi juga menyisakan kelelahan hebat serta risiko gabah bercampur kotoran.
Kini, gambaran kerja keras yang melelahkan itu berganti dengan kepraktisan mesin tiga roda yang lincah bermanuver di jalan setapak persawahan.
Layanan perontokan keliling ini menawarkan solusi yang jauh lebih cepat, bersih, dan hemat biaya.
Kerja fisik berhari-hari yang dahulu menuntut puluhan pasang kaki kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan jam oleh mesin bermotor, tanpa mengorbankan kebersihan bulir gabah yang dihasilkan.
"Zaman sekarang sudah tidak ada lagi ngiles padi. Jasa mesin thresher jauh lebih praktis, cepat, bersih, dan murah," tutur Maksum ramah saat ditemui di sela aktivitasnya, Jumat (24/7).
Pacuan Waktu Demi Kualitas Beras Terbaik
Lebih dari sekadar memangkas waktu dan tenaga, keberadaan thresher keliling menjadi kunci utama dalam menjaga mutu hasil bumi.
Padi yang baru dipotong memiliki tingkat kelembapan tinggi dan harus segera dirontokkan pada hari yang sama.
Penundaan proses perontokan akan membuat tumpukan jerami basah mengalami pemanasan alami, yang memicu kelembapan berlebih dan merusak kualitas bulir beras.
Dengan kecepatan mesin Maksum, gabah yang baru saja dipanen dapat langsung dipisahkan dan dijemur di bawah sinar matahari sebelum sore menjelang.
Kecepatan alur pascapanen ini memastikan bulir padi mengering secara optimal, sehingga menghasilkan beras yang tidak kusam, tahan lama, dan memiliki nilai jual tinggi di pasaran.
"Padi yang baru dipotong harus segera dirontokkan. Kalau terlambat, gabah yang menumpuk akan cepat lembap sehingga dapat menurunkan kualitas beras," jelas Maksum menegaskan pentingnya efisiensi waktu.
Menjaga Kebersamaan dan Senyum Petani Desa
Dengan patokan tarif yang terjangkau, jasa perontokan keliling yang dijalankan Maksum bukan sekadar layanan usaha mandiri, melainkan bentuk bantuan nyata bagi komunitas petani desa.
Beban fisik para petani berkurang drastis, risiko kerugian akibat cuaca buruk dapat ditekan, dan keharmonisan ruang bertani tetap terjaga.
Saat deru mesin roda tiga itu perlahan mereda menjelang petang, karung-karung gabah bersih siap diangkut menuju pelataran penjemuran, meninggalkan senyum lega para petani Plumbon yang menyambut musim panen dengan penuh rasa syukur. (KIM Senyum Tempel/Sadhono Hadi)