SLEMAN, InfoPublik - Pemenuhan kebutuhan fisik anak tidak lagi cukup untuk mencetak generasi yang peduli, tangguh, dan percaya diri menghadapi dinamika zaman.
Merespons tantangan tersebut, program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) Kapanewon Tempel membedah konsep pengasuhan responsif di pendopo setempat, Selasa (20/10/2026).
Agenda ini menyasar Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD), kader KB pria, serta aparatur pembina keamanan seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas.
Pemilihan peserta lintas sektor ini sengaja dirancang agar edukasi mengenai ketahanan mental keluarga dapat tersebar luas hingga menjangkau tingkat akar rumput.
Penyuluh Keluarga Berencana Kapanewon Tempel, Chalimah Candra Dewi, menggarisbawahi, pola asuh responsif menuntut kepekaan orang tua dalam mengawal kondisi emosional anak.
Pendekatan ini tidak semata-mata mengamankan rutinitas harian, melainkan membangun ikatan rasa aman yang memfasilitasi anak untuk bertumbuh dan belajar secara optimal.
Chalimah meluruskan kekeliruan umum di masyarakat bahwa pengasuhan responsif bukan berarti memanjakan anak dengan menuruti seluruh keinginannya tanpa batas.
Orang tua dituntut mampu memberikan kasih sayang yang seimbang dengan arahan rasional agar anak tetap teguh dan mandiri.
Metode pengasuhan ini terbukti sangat krusial ketika anak terbentur pada krisis kehidupan, seperti kesulitan akademis, konflik sebaya, hingga kekecewaan akibat kegagalan.
Keterlibatan orang tua untuk sekadar mendengarkan dan memvalidasi perasaan tersebut akan mencegah munculnya rasa terabaikan atau hilangnya kepercayaan diri anak.
Orang tua sangat dianjurkan untuk membuka ruang dialog guna mencari jalan keluar bersama dengan tetap menegakkan batasan perilaku yang disesuaikan pada perkembangan usianya.
Pembiasaan empati melalui tugas rumah tangga sederhana hingga kepedulian terhadap teman juga wajib ditanamkan agar anak memahami realitas sosial di luar dirinya.
Optimalisasi pengasuhan responsif ini pada akhirnya menggeser paradigma lama yang menilai kualitas keluarga hanya dari aspek kecukupan materi dan pemenuhan gizi semata.
Keterlibatan aktif aparatur sipil dan keamanan desa diharapkan sanggup mengubah wajah pengasuhan komunitas demi mencetak sumber daya manusia masa depan yang tangguh. (MC Kab. Sleman/KIM Tempel/SBD)