Menurutnya, pelayanan kesehatan yang disiapkan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo tidak hanya hadir pada saat pemeriksaan awal, tetapi juga terus siaga selama kegiatan berlangsung. Setiap laporan peserta yang mengalami gangguan kesehatan langsung direspons oleh tenaga kesehatan yang bertugas di lapangan.
“Ketika ada peserta yang mengeluhkan kondisi kesehatannya, kami cukup menghubungi tim kesehatan dan petugas langsung datang memberikan pelayanan. Respons cepat seperti ini sangat membantu peserta yang kelelahan setelah mengikuti berbagai kegiatan PENAS,” katanya.
Selain pelayanan kesehatan, Asep juga mengapresiasi keramahan masyarakat Gorontalo yang dinilainya menjadi nilai tambah dalam penyelenggaraan PENAS XVII.
Ia menyebutkan, peserta dari Jawa Barat merasa diterima dengan baik selama berada di Gorontalo, baik oleh panitia, petugas pendamping maupun masyarakat di sekitar lokasi kegiatan dan homestay.
Asep menilai, sinergi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, panitia, dan masyarakat berhasil menciptakan suasana yang nyaman bagi ribuan peserta dari berbagai provinsi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan nasional yang berlangsung di Kabupaten Gorontalo.
“Pelayanan yang diberikan sangat baik dan patut dipertahankan. Kami merasakan perhatian yang luar biasa, tidak hanya dari panitia dan tenaga kesehatan, tetapi juga dari masyarakat Gorontalo yang menyambut peserta dengan ramah. Ini menjadi kesan yang sangat positif bagi kami selama mengikuti PENAS XVII,” katanya.
Hingga 25 Juni 2026, sebagian besar anggota Kontingen Jawa Barat telah kembali ke daerah asal. Dari total 105 peserta yang mengikuti PENAS XVII di Gorontalo, sebanyak 94 orang telah bertolak ke Jawa Barat.
Sementara itu, 11 orang lainnya masih berada di Gorontalo dan dijadwalkan kembali pada 27 Juni 2026. (mcgorontaloprov/ilb/md)