Semarang, InfoPublik – Gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah, tidak hanya menghadirkan kompetisi dan syiar Al-Qur’an. Pengunjung juga mendapat kesempatan mengenal astronomi dan ilmu falak melalui pameran perangkat teleskop computerized dan theodolite di Stan Bimas Islam Kementerian Agama.
Pameran tersebut merupakan hasil kolaborasi Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama dengan Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo Semarang.
Kehadiran perangkat astronomi tersebut mendapat perhatian masyarakat. Lebih dari 100 pengunjung telah mendatangi stan, mulai dari siswa, mahasiswa, peserta dan pendamping MTQ hingga masyarakat umum.
Pengunjung tidak hanya melihat perangkat yang dipamerkan, tetapi juga mendapatkan penjelasan mengenai fungsi, cara kerja, dan pemanfaatannya dalam astronomi serta ilmu falak.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, mengatakan ilmu falak memiliki keterkaitan dengan sejumlah aspek pelaksanaan ibadah umat Islam. “Rukyatulhilal menjadi salah satu bentuk pengamatan langsung terhadap fenomena astronomis yang memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan ibadah umat Islam,” kata Arsad saat dihubungi, Kamis (17/9/2026).
Menurut Arsad, pemahaman mengenai ilmu falak perlu terus diperkuat karena sejumlah kebutuhan keagamaan berkaitan dengan fenomena astronomi.
Salah satunya penentuan awal bulan Hijriah yang membutuhkan ketelitian dalam proses hisab dan rukyat. Ilmu falak juga berkaitan dengan kebutuhan umat Islam dalam menentukan waktu salat, arah kiblat, kalender Hijriah, serta pelaksanaan rukyatulhilal.
Kenalkan Fungsi Teleskop dan Theodolite
Salah satu perangkat yang diperkenalkan dalam pameran adalah teleskop computerized. Perangkat tersebut dilengkapi sistem pengendalian terkomputerisasi yang membantu mengarahkan teleskop ke objek langit tertentu.
Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan dalam pengamatan benda-benda langit, termasuk mendukung kegiatan rukyatulhilal.
Melalui perangkat tersebut, pengunjung diperkenalkan pada proses pengamatan objek astronomi sekaligus bagaimana teknologi digunakan untuk membantu kegiatan observasi.
Selain teleskop, pengunjung juga dapat melihat theodolite. Perangkat ini digunakan untuk mengukur sudut dan dapat dimanfaatkan dalam pengukuran arah kiblat maupun kegiatan rukyatulhilal.
Penggunaan perangkat tersebut membantu proses pengukuran posisi dan arah secara lebih presisi dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan ilmu falak.
Tidak berhenti pada perangkat observasi, pameran juga menghadirkan sejumlah media edukasi mengenai astronomi dan tata surya.
Melalui media tersebut, pengunjung diajak mengenal benda-benda langit, fenomena astronomi, rukyatulhilal, serta hubungan ilmu falak dengan pelaksanaan ibadah umat Islam.
Kepala Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo Semarang, Muh. Arif Royyani, mengatakan keterlibatan Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo dalam pameran MTQ Nasional menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi astronomi dan ilmu falak kepada masyarakat.
“Kami ingin menghadirkan astronomi dan ilmu falak dengan cara yang lebih dekat, menarik, dan mudah dipahami masyarakat. Momentum MTQ Nasional juga sangat strategis untuk menunjukkan bahwa antara Al-Qur’an, khazanah keislaman, dan perkembangan sains memiliki ruang dialog yang sangat luas,” ujar Arif.
Menurut Arif, edukasi astronomi akan lebih mudah dipahami ketika masyarakat tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori, tetapi juga dapat melihat secara langsung perangkat yang digunakan dalam kegiatan observasi.
Interaksi langsung dengan teleskop, theodolite, dan media edukasi astronomi memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Terlebih, sebagian pengunjung merupakan pelajar dan mahasiswa yang dapat memperoleh gambaran mengenai penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan keagamaan.
Arif menjelaskan Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo tidak hanya dikembangkan sebagai tempat pertunjukan langit.
Lembaga tersebut juga diarahkan menjadi pusat edukasi, observasi, penelitian, serta literasi sains dan keislaman bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum.\
Kolaborasi Kemenag, Planetarium, dan UIN Walisongo
Kolaborasi antara Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama dengan Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo mempertemukan edukasi keagamaan dengan perkembangan sains.
Ilmu falak menjadi salah satu bidang yang memperlihatkan hubungan tersebut. Fenomena astronomi tidak hanya dipelajari untuk kepentingan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki penerapan dalam berbagai kebutuhan umat Islam.
Penentuan arah kiblat, waktu salat, kalender Hijriah, hingga rukyatulhilal membutuhkan pemahaman terhadap posisi dan pergerakan benda-benda langit.
Melalui pameran di MTQ Nasional XXXI, masyarakat dapat melihat secara lebih konkret bagaimana perangkat teknologi digunakan untuk mendukung kegiatan tersebut.
Antusiasme lebih dari 100 pengunjung menunjukkan bahwa perangkat astronomi dapat menjadi media pembelajaran yang interaktif untuk mengenalkan ilmu falak kepada masyarakat.
Pameran tersebut sekaligus memperluas pengalaman pengunjung MTQ Nasional. Selain menyaksikan perlombaan dan berbagai kegiatan keagamaan, masyarakat dapat memperoleh pengetahuan mengenai astronomi dan teknologi observasi.
Bagi pelajar dan mahasiswa, pengenalan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami ilmu falak secara lebih dekat.
Sementara bagi masyarakat umum, kehadiran teleskop dan theodolite memberikan gambaran bahwa ilmu falak memiliki penerapan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari umat Islam.
Dengan demikian, MTQ Nasional XXXI tidak hanya menjadi ruang untuk memperkuat kecintaan terhadap Al-Qur’an, tetapi juga membuka ruang edukasi yang mempertemukan khazanah keislaman, sains, teknologi, dan kebutuhan masyarakat.
Pameran astronomi di Stan Bimas Islam menjadi salah satu bentuk bagaimana pengetahuan tentang langit dan ilmu falak dapat disampaikan secara lebih interaktif, sehingga semakin mudah dipahami oleh masyarakat dari berbagai kalangan.