Semarang, InfoPublik – Di rumah mereka di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), lantunan ayat Al-Qur’an bukan sekadar suara yang terdengar pada waktu-waktu tertentu.
Bagi Alhamuddin dan Nindi Solihah, kakak-adik itu, lantunan ayat suci telah menjadi bagian dari perjalanan hidup sejak mereka masih kecil.
Alhamuddin mulai mengenal Al-Qur’an ketika berusia sekitar empat tahun. Saat itu, ia terbiasa mendengarkan lantunan ayat Al-Qur’an yang diputar keluarganya di rumah setiap waktu salat.
Zuhur, Asar, dan waktu-waktu salat lainnya menjadi kesempatan bagi Alhamuddin untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Ia mendengarkan berulang kali.
Tanpa banyak disadari, lantunan yang setiap hari didengarnya perlahan melekat dalam ingatan. “Dengar-dengar, kan di rumah itu kalau Zuhur, Asar, tiap waktu, diputar kaset-kaset ngaji dan sebagainya itu. Saya dengerin, dengerin, hafalin,” tutur Alhamuddin di Semarang, Kamis (17/9/2026).
Kebiasaan itu kemudian mendorong orang tua Alhamuddin melihat lebih jauh kemampuannya dalam membaca Al-Qur’an.
Ia mulai belajar dari orang-orang terdekat di lingkungan rumah. Salah seorang yang pertama kali mengajarinya adalah pamannya. “Yang pertama ngajarin itu ada sih. Bahasa saya di rumah itu Paman lah. Paman saya yang pertama ngajarin baca Al-Qur’an,” katanya.
Dari rumah itulah perjalanan Alhamuddin bersama Al-Qur’an perlahan berkembang.
Dari Rumah Menuju Panggung MTQ
Perjalanan Alhamuddin dalam dunia Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dimulai pada 2006. Saat itu usianya sekitar 11 tahun.
Sejak mengikuti ajang tersebut, ia terus berlatih dan mengikuti berbagai perlombaan. Tahun demi tahun berlalu. Pengalaman Alhamuddin pun bertambah.
Ia tidak hanya tampil di tingkat daerah, tetapi juga beberapa kali mendapatkan kesempatan tampil dalam ajang MTQ tingkat nasional. Dalam perjalanan tersebut, Alhamuddin pernah meraih juara dua tingkat nasional di Maluku.
Sebelumnya, ia juga pernah meraih juara satu di Aceh. Kini, ia kembali berada di panggung nasional. Alhamuddin menjadi peserta cabang Tilawah Golongan Disabilitas Netra Putra pada MTQ Nasional ke-31 Tahun 2026 di Kota Semarang. Ia membawa nama Provinsi NTB.
Bagi Alhamuddin, tampil dalam ajang nasional bukan sekadar kesempatan untuk berkompetisi. Ada harapan yang lebih panjang untuk terus membawa nama daerahnya melalui seni membaca Al-Qur’an.
Bahkan, ketika ditanya tentang cita-citanya, jawabannya melampaui panggung nasional. “Kalau bisa ya, lebih dari internasional,” katanya.
Keinginan itu menunjukkan bahwa perjalanan panjang yang dimulainya sejak usia belia belum ingin ia akhiri .Masih ada panggung yang ingin dituju. Masih ada kemampuan yang ingin diasah.
Dan masih ada kecintaan terhadap Al-Qur’an yang ingin terus dijaga.
Al-Qur’an Sebagai Panduan Hidup
Bagi Alhamuddin, Al-Qur’an tidak berhenti sebagai bacaan yang dilantunkan dalam perlombaan. Ia memandang Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan.
Ia menggunakan sebuah perumpamaan sederhana untuk menjelaskan bagaimana Al-Qur’an menjadi pedoman baginya. “Kalau Al-Qur’an itu ya ibarat buku panduan. Kita mau ke sini, kita baca panduan dulu. Kita mau ke sana, kita baca panduan. Panduan hidup lah,” katanya.
Bagi dia, manusia membutuhkan petunjuk dalam menentukan langkah. Dan Al-Qur’an menjadi salah satu pedoman yang ia pegang dalam menjalani kehidupan.
Pandangan tersebut tumbuh seiring perjalanan panjangnya belajar dan membaca Al-Qur’an. Namun, kecintaan terhadap Al-Qur’an ternyata tidak hanya tumbuh dalam diri Alhamuddin.
Di rumah yang sama, adiknya, Nindi Solihah, juga menjalani perjalanan yang serupa.
Sang Adik Mengikuti Jejak Sang Kakak
Nindi kini berusia 15 tahun. Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara dan bersekolah di SLB Negeri 2 Lombok Tengah. Seperti sang kakak, Nindi mulai mengenal Al-Qur’an sejak masih kecil.
Ia mulai belajar membaca Al-Qur’an ketika berusia enam tahun. Dalam proses belajar tersebut, Nindi mendapatkan bimbingan dari Alhamuddin.
Sebagai kakak, Alhamuddin tidak hanya berbagi pengalaman. Ia juga menjadi guru bagi adiknya.
Bagi Nindi, cara sang kakak mengajarkan Al-Qur’an meninggalkan kesan tersendiri. Ia menggambarkan kakaknya sebagai sosok yang lembut dan sabar. “Beliau itu ngajarinya lembut, terus sopan. Terus, kalau belum bisa, ya diulang-ulang. Sabar beliau,” ujar Nindi.
Kesabaran itu menjadi bagian penting dalam proses belajar Nindi. Sebab perjalanan untuk menguasai bacaan Al-Qur’an bukan sesuatu yang selalu mudah.
Apalagi, Nindi juga harus mempelajari Al-Qur’an menggunakan huruf Braille.
Belajar Al-Qur’an dengan Braille
Dalam proses pembelajarannya, Nindi tidak hanya mengandalkan hafalan. Ia terlebih dahulu menghafal surah-surah pendek hingga maqra’-maqra’ untuk keperluan MTQ.
Setelah itu, ia belajar membaca Al-Qur’an menggunakan huruf Braille. “Pertamanya menghafal, menghafal terus. Menghafal surah-surah pendek sampai maqra'-maqra' buat MTQ. Yang kedua, belajar membaca Al-Qur’an Braille,” katanya.
Belajar membaca Al-Qur’an Braille menjadi pengalaman tersendiri bagi Nindi. Ia mengakui proses tersebut tidak mudah. Ada ayat yang harus dibaca berulang kali. Ada bagian yang belum langsung dikuasai.
Namun, sang kakak tidak membiarkannya terburu-buru berpindah ke ayat berikutnya. Setiap kali Nindi belum mampu membaca sebuah ayat, ia diminta mengulanginya sampai benar. “Susah. Tapi karena kakak mengajarnya itu, kalau Nindi belum bisa, ‘Ayo diulang-ulang,’ gitu. ‘Ayo diulang-ulang sampai bisa. Kalau belum bisa, nggak usah lanjut ke ayat lain,’” tuturnya.
Bagi Nindi, metode tersebut mungkin terasa sederhana. Namun, dari pengulangan itulah kemampuan perlahan terbentuk. Satu ayat dikuasai.
Kemudian berlanjut ke ayat berikutnya. Begitu seterusnya hingga kemampuan membaca dan menghafalnya berkembang.
Dari Latihan ke Panggung Nasional
Perjalanan latihan tersebut akhirnya membawa Nindi ke panggung MTQ Nasional.
Ia mengaku senang mendapatkan kesempatan tampil di ajang tingkat nasional sekaligus membawa nama NTB. “Alhamdulillah, senang,” katanya.
Bukan kali ini saja Nindi berada di panggung nasional. Sebelumnya, ia pernah mengikuti ajang nasional di Kalimantan Timur dan meraih peringkat 13.
Kini, kesempatan kembali datang di MTQ Nasional ke-31 di Semarang. Bagi Nindi, kesempatan tersebut menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan yang selama ini dilatihnya. Ada pengalaman baru yang didapat. Ada pula tantangan yang harus dihadapi.
Namun, perjalanan belajar yang sudah dijalaninya membuat Nindi terus melangkah.
Seperti sang kakak, ia tidak ingin Al-Qur’an berhenti pada sebuah perlombaan. Ia memiliki cita-cita yang ingin diwujudkannya kelak. Nindi ingin menjadi guru tilawah. “Insya Allah saya ingin menjadi guru tilawah,” katanya.
Cita-cita itu membuat perjalanan belajarnya memiliki arah yang lebih jauh. Kemampuan yang kini ia pelajari diharapkan suatu saat dapat dibagikan kepada orang lain.
Jika Alhamuddin menjadi orang yang membimbingnya sejak kecil, Nindi pun ingin kelak menjadi orang yang membimbing anak-anak lain dalam membaca Al-Qur’an.
Kakak-adik dalam Satu Kafilah
Di panggung MTQ Nasional ke-31, perjalanan Alhamuddin dan Nindi kembali bertemu. Keduanya menjadi bagian dari kafilah NTB dalam cabang Tilawah Golongan Disabilitas Netra.
Kakak dan adik sama-sama membawa nama daerah. Pelatih kafilah NTB Riyadi mengatakan kemampuan Alhamuddin dalam seni baca Al-Qur’an telah tumbuh sejak usia dini.
Proses panjang berupa latihan dan pembelajaran membuatnya mampu berkembang hingga tampil di tingkat nasional.
Menurut Riyadi, seni baca Al-Qur’an memiliki keterkaitan erat dengan kemampuan mengolah seni dalam lantunan ayat. “Jadi yang namanya seni baca Al-Qur’an itu erat hubungannya dengan seni. Bagaimana seni itu bisa diaplikasikan ke dalam Al-Qur’annya,” ujar Riyadi.
Ia berharap semakin banyak anak-anak yang belajar Al-Qur’an, khususnya mereka yang memiliki bakat dalam seni baca Al-Qur’an.
Menurut dia, dukungan pemerintah daerah juga penting untuk memberikan semangat kepada para peserta agar terus berkembang. “Dan mudah-mudahan ke depan anak-anak kita akan semakin banyak yang belajar Al-Qur’an, dan khususnya yang punya seni. Sehingga mereka bisa berkembang di tingkat yang lebih tinggi,” pungkasnya.
Dari Satu Rumah, Tumbuh Dua Perjalanan
Kisah Alhamuddin dan Nindi bermula dari tempat yang sederhana. Al-Qur’an diperdengarkan di rumah. Seorang anak mendengarkan. Kemudian belajar. Lalu mengajarkan kepada adiknya.
Dari kebiasaan kecil tersebut, tumbuh dua perjalanan yang akhirnya sampai ke panggung MTQ Nasional.
Alhamuddin memulainya ketika berusia empat tahun. Nindi menyusul ketika berusia enam tahun. Keduanya memiliki proses masing-masing.
Alhamuddin tumbuh melalui pengalaman panjang dalam berbagai ajang MTQ.
Nindi belajar melalui hafalan dan huruf Braille dengan ketekunan yang terus dilatih. Namun, ada satu hal yang mempertemukan keduanya. Kecintaan kepada Al-Qur’an.
Bagi Alhamuddin, Al-Qur’an adalah panduan hidup. Bagi Nindi, Al-Qur’an menjadi sesuatu yang ingin terus dipelajari hingga suatu saat dapat diajarkan kepada orang lain.
Kini, mereka berdiri di panggung yang sama. Bukan hanya sebagai kakak dan adik. Mereka hadir sebagai dua peserta yang membawa nama NTB dengan kemampuan yang tumbuh dari rumah, keluarga, guru, dan latihan panjang.
Perjalanan itu menunjukkan bahwa proses belajar tidak selalu dimulai dari tempat yang besar. Kadang, ia bermula dari suara lantunan Al-Qur’an yang diputar di rumah.
Dari telinga seorang anak yang mendengarkan. Dari tangan seorang paman yang mulai mengajarkan.
Dari seorang kakak yang sabar mengulang ayat bersama adiknya. Kemudian, perlahan, perjalanan tersebut menemukan jalannya sendiri. Dari Lombok Tengah menuju panggung MTQ Nasional di Semarang.