Batu, InfoPublik – Langkah Iqbal terhenti di salah satu sudut Museum Angkut. Pria 54 tahun asal Palembang itu datang bersama keluarganya. Matanya menyusuri deretan kendaraan yang dipamerkan dalam berbagai zona tematik.
Tidak hanya melihat kendaraan, Iqbal dan keluarganya juga sibuk mengabadikan momen. "Anak dan Istri saya merasa senang, karena baru pertama kali ke Museum Angkut, ini sangat memberikan kesan yang sangat mendalam dan akan selalu dikenang," ujar Iqbal saat ditemui InfoPublik.
Ada yang berfoto, ada yang memperhatikan detail kendaraan, dan ada pula yang menikmati suasana setiap zona yang dibuat menyerupai berbagai tempat di dunia.
Bagi Iqbal, Museum Angkut memberikan pengalaman yang berbeda. Setiap sudut seperti membawa pengunjung pada cerita yang tidak sama.
Ada suasana Gangster Town, Batavia, Paris, hingga London yang menjadi bagian dari perjalanan pengunjung di dalam museum.
Ratusan kendaraan yang dipamerkan kemudian menjadi bagian penting dari cerita tersebut.
Mulai dari sepeda kuno, mobil klasik, hingga kendaraan dari berbagai era dapat ditemukan di tempat ini. Bagi penggemar otomotif, koleksi tersebut tentu menjadi daya tarik tersendiri.
Namun bagi keluarga seperti Iqbal, kendaraan-kendaraan itu juga menjadi media untuk mengenalkan sejarah kepada anak-anak dan generasi muda.
Museum Angkut memang dirancang bukan sekadar sebagai tempat menyimpan kendaraan.
Guest Relations Officer Museum Angkut, Vicky Andrian, menjelaskan museum tersebut berdiri pada 9 Maret 2014. Museum Angkut diresmikan oleh Menteri Pariwisata saat itu, Arief Yahya. "Museum ini berdiri di atas lahan hampir empat hektare, termasuk area parkir. Di dalamnya terdapat lebih dari 300 koleksi kendaraan yang mencakup transportasi darat, laut, dan udara, " kata Viky saat ditemui di Kota Batu, Jawa Timur, Rabu (16/9/2026).
Zona Tematik
Adapun, beragam koleksi tersebut ditempatkan dalam sejumlah zona tematik. Pengunjung dapat menjumpai Zona Edukasi, Zona Pecinan, Zona Inggris, Zona Gangster, Zona Prancis, hingga Zona Hollywood.
Penataan tersebut membuat perjalanan melihat koleksi kendaraan menjadi lebih berwarna.
Pengunjung tidak hanya berhadapan dengan benda koleksi, tetapi juga suasana yang dibangun untuk memberikan konteks pada kendaraan yang ditampilkan.
Salah satu koleksi yang menarik adalah kendaraan Amerika buatan 1910. Di sisi lain, terdapat pula Toyota Yaris yang telah dimodifikasi menjadi kendaraan cabriolet.
Perbedaan usia koleksi itu menunjukkan panjangnya perjalanan perkembangan kendaraan. Dari kendaraan yang lahir lebih dari satu abad lalu hingga kendaraan modern, semuanya berada dalam satu ruang.
Di situlah Museum Angkut memperlihatkan bahwa perkembangan transportasi merupakan bagian dari perjalanan kehidupan manusia. Kendaraan diciptakan untuk membantu manusia bergerak.
Namun seiring waktu, sebagian kendaraan kemudian menjadi bagian dari sejarah. Kendaraan yang pernah digunakan pada zamannya dapat berubah menjadi benda yang menyimpan kenangan.
Karena itu, Museum Angkut berupaya mempertahankan karakter asli sebagian besar koleksinya.
Vicky mengatakan sekitar 80 hingga 90 persen kendaraan yang ada masih berfungsi dengan baik. Bahkan, kondisi asli kendaraan tetap dipertahankan.
Jika terdapat bagian kendaraan yang sedikit berkarat, kondisi tersebut tidak selalu dihilangkan.
Hal itu menjadi bagian dari upaya mempertahankan orisinalitas koleksi. "Perawatan dilakukan secara berkala dengan sistem rolling.Tidak seluruh kendaraan selalu dioperasikan sehingga pemeliharaan dilakukan secara bergantian," ujar Vicky Andrian.
Tantangan muncul ketika kendaraan membutuhkan suku cadang tertentu. Beberapa suku cadang harus didatangkan dari luar dan prosesnya dapat membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Namun, berbagai upaya perawatan tersebut dilakukan untuk memastikan koleksi tetap terjaga dan kegiatan museum berjalan.
Pengalaman pengunjung kemudian tidak berhenti pada melihat kendaraan. Museum Angkut menghadirkan pertunjukan yang membuat suasana semakin hidup.
Salah satunya pertunjukan drifting yang digelar setiap hari pukul 15.00. Pada Sabtu, pengunjung juga dapat menyaksikan parade kendaraan dan pertunjukan malam.
Kehadiran pertunjukan tersebut menjadi bagian dari konsep edutainment yang diterapkan Museum Angkut.
Edukasi dipadukan dengan hiburan agar pengunjung tidak merasa sedang mengikuti pembelajaran yang kaku. “Kita bukan cuma mengedukasi masyarakat tentang kendaraan, tapi supaya tidak bosan, kita kasih show,” ujar Vicky.
Wahana Wisata Segala Usia
Konsep itu pula yang membuat museum dapat dinikmati oleh berbagai kelompok usia. Anak-anak dapat mengenal kendaraan.
Orang dewasa dapat melihat koleksi yang mungkin mengingatkan mereka pada masa lalu .Penggemar otomotif dapat memperhatikan detail kendaraan.
Sementara keluarga dapat menikmati waktu bersama dalam satu perjalanan.
Bagi Iqbal dan keluarganya, pengalaman tersebut menjadi salah satu hal yang membuat kunjungan bersama keluarga terasa menyenangkan.
Ia mengapresiasi detail zona yang menurutnya menarik sebagai lokasi berfoto. Namun bukan hanya latar tempat yang menjadi perhatian.
Keberagaman koleksi kendaraan juga menjadi bagian yang membuatnya menikmati kunjungan. Pengalaman melihat kendaraan dari berbagai zaman memberikan kesan tersendiri. Pertunjukan parade dan drift show juga menjadi hiburan yang melengkapi perjalanan.
Museum Angkut pun tidak hanya dikunjungi wisatawan domestik.
Menurut Vicky, wisatawan mancanegara juga menjadi bagian dari pengunjung museum. Cukup banyak pelancong dari Malaysia, Singapura, dan China yang menikmati koleksi dan wahana di Museum Angkut. Pada hari biasa, jumlah pengunjung disebut mencapai ratusan orang.
Ketika akhir pekan, jumlahnya dapat mencapai ribuan orang. Sejumlah komunitas otomotif dari pelbagai daerah juga rutin datang.
Hampir setiap hari, Museum Angkut menerima kunjungan komunitas yang berbeda. Bagi komunitas tersebut, museum menjadi ruang untuk melihat lebih dekat kendaraan dan sejarah otomotif.
Vicky Angkut menyebut Museum Angkut dapat menjadi rumah bagi para petrolhead, khususnya mereka yang memiliki ketertarikan terhadap kendaraan.
Di balik ramainya pengunjung, ada banyak orang yang bekerja memastikan pengalaman tersebut tetap berlangsung.
Sekitar seratus karyawan bekerja di Museum Angkut. Mereka dibantu anak-anak magang untuk menunjang kegiatan sehari-hari.
Ada petugas yang berinteraksi langsung dengan pengunjung. Ada pula mereka yang bekerja di balik layar, memastikan kendaraan, area, dan berbagai kegiatan tetap dapat berjalan.
Pekerjaan tersebut mungkin tidak selalu terlihat oleh wisatawan. Namun tanpa pekerjaan mereka, sebuah museum tidak akan mampu menjaga koleksi sekaligus melayani pengunjung dalam jumlah besar.
Museum Angkut juga memperoleh dukungan dari pemerintah pusat maupun daerah setempat dalam pengembangan promosi pariwisata.
Menurut Vicky, dukungan pemerintah antara lain dilakukan melalui promosi di media sosial dan media pengguna.
Museum Angkut juga menjadi bagian dari ekosistem pariwisata Kota Batu. Sebagian pengunjung datang melalui paket wisata yang menggabungkan kunjungan ke destinasi lain dalam Jatim Park Group dengan Museum Angkut.
Pola tersebut membuat wisatawan memiliki lebih banyak pilihan pengalaman dalam satu perjalanan. Namun pada akhirnya, kekuatan Museum Angkut tidak hanya berada pada jumlah koleksinya.
Nilai yang lebih penting terletak pada bagaimana benda-benda tersebut mampu menghubungkan manusia dengan masa lalu.
Ia menjadi kesempatan untuk melihat masa lalu, memahami perkembangan transportasi, sekaligus menciptakan kenangan baru bersama keluarga.