Jakarta, InfoPublik - Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat, khususnya keluarga, untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan jiwa serta menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi individu neurodivergent atau individu dengan keragaman cara kerja otak.
Keluarga memiliki peran penting dalam menerima, memahami, dan memberikan dukungan sesuai kebutuhan individu neurodivergent agar dapat tumbuh, berkembang, dan berdaya sesuai potensinya.
Seperti yang dikutip Infopublik Kamis (15/10/2026), Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi mengatakan sekitar 3 juta orang dengan depresi, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan.
Hal tersebut disampaikan Endang saat Temu Media “Sehat Jiwaku, Unik Caraku: Keluarga Merangkul, Kesehatan Jiwa Terjaga, Neurodivergent Berdaya” dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada 10 Oktober, Bulan Peduli Disleksia, dan Bulan Kesadaran ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). "Artinya, 9 dari 10 orang dengan depresi belum terjangkau layanan kesehatan. Beban tertinggi justru berada pada kelompok anak muda usia 15 hingga 24 tahun,” ujar Endang.
Menurutnya, kesenjangan akses layanan dan stigma sosial masih menjadi tantangan dalam penanganan kesehatan jiwa. Karena itu, penguatan layanan kesehatan primer dan edukasi publik diperlukan agar masyarakat lebih mudah memperoleh bantuan serta tidak ragu mencari pertolongan profesional.
Perhatian juga perlu diberikan kepada individu neurodivergent, termasuk individu dengan ADHD dan disleksia. ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi perhatian dan kontrol diri, sedangkan disleksia merupakan gangguan belajar spesifik yang memengaruhi kemampuan membaca dan menulis. "Kondisi tersebut bukanlah bentuk kemalasan, kekurangan pribadi, ataupun akibat kesalahan pola asuh. Pemahaman yang tepat dari keluarga, sekolah, dan masyarakat diperlukan agar individu neurodivergent mendapatkan dukungan serta akomodasi sesuai kebutuhannya," ujar Endang.
Mengutip data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), gangguan jiwa menjadi penyebab kedua terbesar hilangnya tahun hidup sehat akibat disabilitas di Indonesia.
Sementara itu, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen atau sekitar 2,5 juta hingga 3 juta orang. Namun, dari jumlah tersebut, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan.