Batu, Jawa Timur, InfoPublik – Merayakan kemerdekaan tidak selalu harus dilakukan dengan mengikuti upacara atau berbagai perlombaan. Mengenal kembali kekayaan budaya Indonesia juga menjadi cara sederhana untuk memahami makna Indonesia yang dibangun dari keberagaman.
Salah satu pilihan wisata edukasi yang menawarkan pengalaman tersebut dapat ditemukan di Museum Musik Dunia, Jatim Park 3, Kota Batu, Jawa Timur.
Museum ini tidak hanya menyimpan koleksi alat musik dari berbagai penjuru dunia, tetapi juga menghadirkan ruang khusus yang memperkenalkan kekayaan musik Nusantara.
Di Spot Indonesia, pengunjung dapat melihat beragam alat musik tradisional dari sejumlah daerah, mulai dari rindik, gamelan, sapek, kecapi, seruling hingga gula gending.
Koleksi tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki tradisi musik yang tumbuh dari latar budaya, lingkungan, dan masyarakat yang berbeda-beda.
Bagi keluarga maupun pelajar, kunjungan ke ruang tersebut dapat menjadi pengalaman belajar yang berbeda. Anak tidak hanya membaca nama alat musik, tetapi dapat melihat bentuknya secara langsung dan, pada instrumen tertentu, mencoba memainkannya.
Edukator Museum Musik Dunia Jatim Park 3, Sony Rosandi, mengatakan pengalaman langsung menjadi salah satu hal yang membuat pelajar antusias ketika berkunjung.
“Setelah mereka melihat museum, mereka antusias. Setelah itu mereka mengajak temannya,” ujar Sony kepada awak media, Senin (14/9/2026).
Menurut Sony, anak-anak umumnya menikmati pengalaman ketika diberi kesempatan berinteraksi dengan alat musik.
Mereka dapat mencoba memukul instrumen tertentu, memainkan alat musik, sekaligus mengenal cara menghasilkan suara.
“Di sini mereka belajar. Meskipun sekadar memukul, mereka berkarya, memainkan alat musik,” katanya.
Belajar Musik Tidak Harus di Ruang Kelas
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa museum dapat menjadi ruang pembelajaran alternatif.
Pelajaran mengenai kebudayaan tidak selalu harus berlangsung melalui buku atau penjelasan di ruang kelas. Melihat langsung benda budaya dan mencoba memainkannya dapat membuat proses belajar menjadi lebih konkret.
Ketika seorang anak melihat gamelan, misalnya, ia dapat mengetahui bentuk instrumennya. Ketika kemudian diberi kesempatan memainkan, ia memperoleh pengalaman mengenai karakter suara dan cara kerja alat musik tersebut.
Hal sederhana itu dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan rasa ingin tahu.
Dari rasa ingin tahu tersebut, anak dapat didorong untuk mencari tahu dari mana alat musik itu berasal, siapa yang memainkannya, dalam acara apa digunakan, serta bagaimana keberadaannya dalam kehidupan masyarakat.
Sony mengatakan target utama yang ingin diperkuat Museum Musik Dunia adalah kunjungan sekolah.
Menurutnya, masih terdapat pekerjaan rumah untuk membangun kesinambungan antara kunjungan siswa ke museum dengan proses pembelajaran di sekolah.
“PR-nya itu bagaimana dari pihak sekolah-sekolahan. Setelah anak-anak masuk museum, mereka senang, tetapi setelah itu kok tidak ada pergerakan lagi,” ujarnya.
Ia berharap kunjungan museum tidak berhenti sebagai kegiatan rekreasi satu hari.
Sekolah dapat mengembangkan pengalaman tersebut menjadi bahan pembelajaran lanjutan, misalnya dengan meminta siswa membuat laporan kunjungan, menggambar alat musik, mencari informasi tentang asal-usul instrumen, atau mendiskusikan fungsi musik tradisional di daerah masing-masing.
Dari Musik Tradisional hingga Musik Dunia
Museum Musik Dunia memiliki tiga lantai dengan koleksi alat musik dari berbagai negara dan periode.
Selain koleksi Nusantara, pengunjung dapat menemukan alat musik dari Asia, Eropa, Afrika, Amerika Latin, dan kawasan lainnya.
Sony mengatakan koleksi yang dimiliki museum saat ini mencapai sekitar seribuan item. Namun, tidak seluruhnya dipajang secara bersamaan.
“Totalnya sekitar seribuan, tetapi yang terpajang sekitar 300 sampai 400,” katanya.
Koleksi tersebut juga tidak selalu berada di tempat yang sama.
Museum melakukan rolling koleksi sekitar tiga bulan sekali. Alat musik yang telah dipamerkan dapat ditarik untuk menjalani perawatan, kemudian digantikan dengan koleksi lainnya.
Cara tersebut membuat pengalaman kunjungan dapat berubah dari waktu ke waktu.
Pengunjung yang datang kembali memiliki kemungkinan menemukan alat musik yang berbeda dari kunjungan sebelumnya.
Memburu Koleksi yang Mulai Sulit Ditemukan
Mengumpulkan alat musik dari berbagai penjuru dunia bukan perkara mudah.
Sony mengatakan masih terdapat koleksi yang sulit diperoleh, terutama alat musik tradisional dari sejumlah wilayah Afrika.
“Yang paling susah alat musik tradisi Afrika,” ujarnya.
Sebagian koleksi juga masih dalam proses pengadaan dan perjalanan menuju museum.
Tantangan lain adalah keberadaan alat musik tradisional yang mulai kehilangan perhatian di daerah asalnya.
Kondisi tersebut membuat upaya pengumpulan alat musik memiliki nilai lebih dari sekadar memperbanyak koleksi.
Museum dapat menjadi salah satu ruang untuk mendokumentasikan benda-benda yang berkaitan dengan tradisi musik sebelum semakin sulit ditemukan.
Di Indonesia sendiri, Sony menilai masih banyak kekayaan musik tradisional yang perlu dieksplorasi.
Jawa Timur menjadi salah satu wilayah yang memiliki kekayaan musik tradisional yang masih dapat dikembangkan dalam koleksi museum.
“Indonesia banyak yang belum dieksplor. Contohnya dari Jawa Timur sendiri,” katanya.
Mengenal Indonesia dari Bunyi
Keragaman koleksi di Spot Indonesia memperlihatkan wajah Nusantara dari sisi yang berbeda.
Rindik membawa pengunjung mengenal tradisi musik Bali. Gamelan mengingatkan pada kekayaan tradisi musik Jawa dan Bali. Sapek memperkenalkan alat musik petik yang lekat dengan masyarakat Dayak di Kalimantan.
Ada pula kecapi dan seruling yang hadir dalam berbagai tradisi musik di sejumlah daerah.
Perbedaan bentuk, bahan, teknik memainkan, dan karakter suara menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki cara yang beragam dalam mengekspresikan kehidupan melalui musik.
Di sinilah museum dapat menjadi ruang perjumpaan budaya.
Anak dari Jawa dapat mengenal alat musik Kalimantan. Keluarga dari luar Jawa dapat melihat gamelan dan alat musik daerah lain. Pengunjung dari berbagai latar belakang dapat menemukan bahwa perbedaan budaya bukan alasan untuk terpisah.
Justru keberagaman tersebut menjadi bagian dari identitas Indonesia. Konsep interaktif menjadi salah satu pembeda Museum Musik Dunia.
Pada sejumlah area, pengunjung diperbolehkan mencoba instrumen tertentu. Pengalaman tersebut membuat museum tidak hanya menjadi ruang visual, tetapi juga ruang yang dapat didengar dan dirasakan.
Selain alat musik tradisional, terdapat pula Drum Experience yang memungkinkan pengunjung memainkan drum secara langsung.
Museum juga menyediakan area free trial gitar di lantai dua.
Bagi anak muda, konsep seperti ini membuat kunjungan museum terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari pengalaman bermusik.
Beberapa perangkat musik yang tersedia juga pernah dicoba oleh musisi dan drummer, termasuk Funky Kopral dan Boomerang serta musisi dari Australia yang pernah berkunjung.
Bisa Jadi Pilihan Wisata Keluarga
Museum Musik Dunia dapat menjadi salah satu pilihan bagi keluarga yang ingin menggabungkan rekreasi dan edukasi.
Tidak ada batasan usia untuk mengunjungi museum. Namun, beberapa aktivitas interaktif memiliki ketentuan tertentu, termasuk persyaratan tinggi badan untuk menjaga keamanan pengunjung.
Untuk tiket, harga reguler yang disampaikan pihak museum sekitar Rp50.000, sementara pada akhir pekan sekitar Rp100.000. Tersedia pula pilihan tiket paket dengan ketentuan harga berbeda.
Jumlah kunjungan juga cenderung meningkat pada masa liburan.
Menurut Sony, pada hari biasa jumlah pengunjung dapat berada di kisaran 50 orang, sekitar 100 orang pada akhir pekan, dan dapat meningkat hingga sekitar 200–250 orang untuk tiket reguler ketika musim liburan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap wisata edukasi masih memiliki ruang untuk dikembangkan.
Peluang Kerja Sama dengan Sekolah
Salah satu tantangan yang masih perlu diperkuat adalah menjadikan museum sebagai bagian dari agenda pembelajaran sekolah secara berkelanjutan.
Sony mengatakan selama ini terdapat pula kunjungan dari sekolah musik dan perguruan tinggi.
Beberapa pengunjung datang untuk belajar, penelitian, maupun mengenal koleksi musik lebih jauh.
Pengunjung dari lembaga pendidikan musik seperti Purwacaraka dan Yamaha Musik disebut pernah datang, demikian pula mahasiswa dari institusi pendidikan seni dan musik di Jawa Timur maupun daerah lain.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa museum memiliki potensi sebagai sumber pembelajaran dan penelitian.
Potensi tersebut dapat diperluas melalui program kunjungan sekolah, kelas musik, lokakarya alat musik tradisional, hingga proyek dokumentasi kebudayaan yang melibatkan siswa.
Dengan demikian, museum tidak hanya menjadi destinasi yang dikunjungi sekali, tetapi dapat menjadi mitra pembelajaran.
Memaknai Merdeka Lewat Kebudayaan
Kemerdekaan Indonesia tumbuh dari keberagaman.
Bahasa, tradisi, kesenian, dan musik dari berbagai daerah menjadi bagian dari identitas yang menyatukan masyarakat dalam satu bangsa.
Karena itu, mengenal alat musik tradisional dapat menjadi cara sederhana untuk mengenal Indonesia.
Ketika seorang anak memainkan gamelan, melihat sapek, atau mendengarkan suara rindik, ia sebenarnya sedang berkenalan dengan bagian dari kehidupan masyarakat yang berbeda dari lingkungan sehari-harinya.
Pengalaman tersebut dapat menumbuhkan penghargaan terhadap perbedaan.
Semangat inilah yang membuat Spot Indonesia relevan dikunjungi dalam momentum kemerdekaan.
Bukan hanya untuk melihat benda lama, tetapi untuk memahami bahwa kebudayaan Indonesia masih hidup dan terus berkembang.
Museum Musik Dunia Jatim Park 3 mempertemukan pengalaman wisata, pendidikan, musik, dan kebudayaan dalam satu ruang.
Dari lantai yang menyimpan alat musik tradisional Nusantara hingga koleksi dari berbagai belahan dunia, pengunjung diajak melihat bahwa setiap bunyi memiliki cerita.
Dan dari cerita itulah generasi muda dapat belajar bahwa Indonesia tidak dibangun dari keseragaman.
Indonesia tumbuh karena keberagamannya.
Mengenal musik Nusantara pun menjadi salah satu cara sederhana untuk merawat keberagaman tersebut—sambil menikmati liburan yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga menambah pengetahuan.