Jakarta, InfoPublik – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir menegaskan pemerintah akan mendorong transformasi olahraga nasional dari sektor yang selama ini dipandang sebagai beban biaya menjadi bagian dari investasi. Artinya kegiatan olahraga nasional mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat dan negara.
Hal tersebut disampaikan Erick Thohir kepada awak media seusai menghadiri penyelenggaraan Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Menurut Menpora Erick, pengembangan olahraga ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada prestasi atlet. Pemerintah juga perlu memperkuat tiga ekosistem sekaligus, yakni prestasi olahraga, olahraga masyarakat, dan sport industry serta sport tourism. “Kalau kita lihat, olahraga ini adalah investasi. Bukan selama ini setelah tahun 1962 sampai sekarang terus terjadi pemerosotan. Dia bawa olahraga itu biaya, biaya, biaya,” ujar Erick.
Ia mengatakan pemerintah mulai menghitung secara lebih komprehensif kontribusi industri olahraga dan sport tourism terhadap perekonomian nasional. Menurutnya, potensi ekonomi yang dimiliki sektor tersebut sangat besar dan belum sepenuhnya tergarap.
Satu hal, Erick Thohir menyebut potensi kue industri olahraga mencapai sekitar Rp8.000 triliun, sedangkan potensi sport tourism sekitar Rp9.700 triliun. Namun, kontribusi yang saat ini berhasil dihimpun dan terukur masih relatif kecil dibandingkan potensi tersebut. “Kalau kita komparasi dengan semua perputaran yang ada di Indonesia, itu baru sampai Rp40 triliun,” katanya.
Karena itu, pemerintah akan mulai membangun basis data bersama untuk menghitung secara lebih akurat nilai investasi dan dampak ekonomi dari industri olahraga serta sport tourism.
Erick mengatakan pemerintah menargetkan peningkatan investasi di sektor olahraga mulai tahun depan. Namun, pencapaian target tersebut sangat bergantung pada keterbukaan data dari seluruh pemangku kepentingan. “Kalau tadi ditanya target tahun depan berapa, sudah pasti. Dari Rp14 triliun, asal semua pihak mau membuka data, data mengompilasi menjadi satu database yang sama,” jelasnya.
Menurut Menpora, penyatuan data menjadi salah satu fondasi penting untuk mengembangkan industri olahraga. Dengan data yang terintegrasi, pemerintah dapat mengetahui besaran investasi, perputaran ekonomi, event olahraga, infrastruktur, hingga dampaknya terhadap masyarakat.
Ia menilai persoalan data dan regulasi selama ini menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan industri olahraga.
Menpora mencontohkan penyelenggaraan event olahraga yang membutuhkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Pemerintah kini berupaya menyederhanakan proses tersebut agar tidak menghambat penyelenggaraan kegiatan olahraga dan investasi. “Kalau kita setiap tahun ngurusin birokrasi, kapan majunya bangsa ini?” tegasnya.
Menurut Erick Thohir, pengembangan sport industry membutuhkan keterlibatan banyak sektor. Karena itu, Kemenpora tidak dapat bekerja sendiri.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat sinergi dengan kementerian dan lembaga lain, termasuk Kementerian Pariwisata, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, serta sektor swasta.
Erick mengatakan kerja sama lintas sektor diperlukan karena ekosistem olahraga memiliki banyak aspek, mulai dari pembinaan atlet, pendidikan, kompetisi, penyelenggaraan event, pariwisata, investasi, hingga mobilitas wisatawan dan atlet mancanegara.
Kerja Sama Kemenpora dan Kemenpar
Ia mencontohkan sinergi Kemenpora dengan Kementerian Pariwisata dalam pengembangan event olahraga. “Alhamdulillah hari ini kita sudah punya kesepakatan dari Bu Widi, Menteri Pariwisata, bekerja sama dengan kita. Domennya di kita,” ujarnya.
Namun, menurut Erick, kerja sama tersebut masih perlu diintegrasikan dengan sistem perizinan pemerintah sehingga proses penyelenggaraan event dapat dilakukan secara lebih cepat dan sederhana.
Ia menyebut pemerintah tengah melakukan sinkronisasi dengan sistem Online Single Submission (OSS) agar penyelenggaraan kegiatan olahraga tidak lagi terhambat proses administrasi yang panjang.
Transformasi digital juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mengembangkan sport tourism.
Lebih lanjut, Menteri Erick Thohir mengatakan Kemenpora telah membangun konektivitas dengan sistem keimigrasian untuk mendukung kemudahan kedatangan wisatawan dan pelaku olahraga ke Indonesia.
Menurutnya, integrasi tersebut diharapkan dapat membuat proses kedatangan peserta maupun wisatawan olahraga lebih sederhana. “Kita sebagai agregator untuk tadi sport visa. Beli tiket, sudah bisa nyambung. Beli tiket di Mandalika, MotoGP, sudah bisa nyambung,” katanya.
Menpora Erick menegaskan pemerintah tidak ingin membangun sistem digital baru yang justru menambah tahapan birokrasi. Sebaliknya, sistem yang telah tersedia harus dihubungkan agar masyarakat memperoleh layanan secara lebih mudah. “Bukan berarti memperpanjang birokrasi lagi. Sekarang ini sudah sistem kemudahan, apalagi nanti ada AI, lebih mudah lagi,” ujarnya.
Dalam pengembangan ekosistem olahraga, Kemenpora juga meluncurkan kalender besar olahraga Indonesia yang memuat berbagai event olahraga nasional dan internasional.
Diingatkan Erick Thohir, kalender tersebut tidak sekadar menjadi daftar kegiatan, tetapi juga menjadi sarana untuk mempromosikan potensi olahraga dan infrastruktur Indonesia kepada masyarakat serta dunia internasional.
Ia mengatakan Indonesia memiliki banyak potensi olahraga yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari industri dan sport tourism.
Selain cabang olahraga modern, pemerintah juga perlu mengangkat olahraga dan permainan tradisional yang memiliki nilai budaya, seperti pencak silat dan karapan sapi. “Kita sendiri sudah masuk kepada sektor olahraga itu dari tahun 1948. 1948 ketika kita melihat bangsa kita sudah berlari tanpa track, sudah berenang di sungai, itu bagian dari sejarah bangsa kita,” tutur Erick.
Menurutnya, kekayaan sejarah, budaya, olahraga, dan destinasi wisata dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru apabila dikelola secara terintegrasi.
Menpora Erick juga menegaskan bahwa pembangunan industri olahraga harus didukung ketersediaan infrastruktur yang memadai.
Namun, keterbatasan anggaran membuat pemerintah harus menentukan cabang olahraga dan fasilitas yang menjadi prioritas hingga 2028–2029.
Ia mengatakan pendekatan pembangunan tidak lagi semata-mata berdasarkan pembangunan fisik, tetapi harus mempertimbangkan manfaat ekonomi, prestasi, pemanfaatan masyarakat, serta potensi sport tourism. “Yang harus kita lakukan, kita mencoba sebuah prestasi, olahraga di masyarakat, sport tourism, sport industri,” katanya.
Karena itu, infrastruktur olahraga yang telah tersedia juga perlu dipromosikan dan dimanfaatkan secara optimal, termasuk melalui penyelenggaraan event nasional dan internasional.
Dalam konteks pembinaan prestasi, Erick menjelaskan Kemenpora juga tengah membangun sistem pemusatan latihan nasional (pelatnas) yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Pelatnas tidak hanya dipersiapkan untuk menghadapi satu event, tetapi diarahkan untuk membangun kesinambungan prestasi menuju berbagai ajang internasional.
Menurutnya, Kemenpora memiliki fokus utama pada pembinaan atlet yang diproyeksikan tampil dalam multi-event seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade.
Sementara pembinaan atlet pada single event menjadi domain masing-masing induk cabang olahraga, dengan tetap memperoleh dukungan pemerintah sesuai kebijakan yang ditetapkan.
Sinergi juga diperlukan dalam pembinaan atlet pelajar dan mahasiswa. Erick Thohir menyebut Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi telah memberikan dukungan melalui pemberian beasiswa bagi student athletes. “Makanya tadi Menteri Dikti sudah mengasih 100 beasiswa untuk tahun depan yang dimulai November ini,” ungkapnya.
Keterlibatan Banyak Pihak
Karena itu, Menpora menilai perubahan paradigma olahraga menjadi investasi membutuhkan keterlibatan pemerintah, dunia usaha, komunitas, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.
Kemenpora, kata dia, tidak ingin sektor olahraga hanya bergantung pada anggaran pemerintah. Ekosistem olahraga harus mampu menarik investasi swasta sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Karena itu, intervensi kebijakan diarahkan untuk menciptakan ekosistem yang memungkinkan sektor swasta dan masyarakat menjadi bagian dari pembangunan olahraga nasional. “Artinya, hari ini kita harus mengintervensi segala kebijakan yang tadi sudah disepakati. Salah satunya dengan melibatkan semua stakeholder yang lebih besar, yaitu private sector dan masyarakat untuk menjadi bagian daripada pembangunan olahraga secara menyeluruh,” ujar Erick.
Penguatan industri olahraga tersebut juga sejalan dengan agenda pembangunan nasional yang menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi sebagai bagian penting dalam mewujudkan Indonesia yang maju.