Jakarta, InfoPublik — Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan pentingnya penguatan kesadaran dan kewaspadaan seluruh sivitas akademika terhadap kasus kekerasan dan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi.
Pesan itu disampaikan Menteri Brian dalam Forum Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) di Universitas Negeri Surabaya, Sabtu (9/5/2026).
Menurut Brian, kampus tidak hanya menjadi ruang belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat pembentukan karakter generasi penerus bangsa. Karena itu, seluruh unsur perguruan tinggi harus memastikan terciptanya lingkungan akademik yang aman, sehat, dan berintegritas.
“Kampus adalah tempat persemaian kader masa depan, SDM unggul Indonesia, dan segala kemungkinan sangat bisa terjadi,” ujar Brian.
Ia menilai kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi masih menjadi persoalan serius yang harus menjadi perhatian bersama pimpinan kampus. Pencegahan, menurutnya, perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui penguatan edukasi dan sosialisasi kepada seluruh sivitas akademika, termasuk mahasiswa baru sejak awal memasuki lingkungan kampus.
Selain itu, Menteri Brian menekankan pentingnya optimalisasi peran Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT). Kehadiran satgas dinilai menjadi elemen penting untuk membangun rasa aman bagi korban dalam melaporkan kasus kekerasan yang dialami.
Dalam forum tersebut, Brian juga mengingatkan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam pembangunan nasional sebagai pusat ilmu pengetahuan, riset, dan peradaban. Karena itu, kampus diharapkan tidak hanya fokus membangun budaya akademik yang aman, tetapi juga memperkuat kontribusi nyata melalui riset dan inovasi.
Ia mendorong perguruan tinggi menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa, termasuk mendukung program-program strategis pemerintah melalui hasil penelitian yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Forum MRPTNI di Surabaya menjadi ruang konsolidasi bagi perguruan tinggi negeri untuk memperkuat komitmen membangun ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif, aman, dan bebas kekerasan. Di saat yang sama, kampus juga didorong semakin adaptif dalam menghasilkan inovasi dan sumber daya manusia unggul guna mendukung percepatan pembangunan nasional.