Jakarta, InfoPublik – Pencegahan kebakaran lahan gambut perlu dimulai jauh sebelum api muncul. Karena itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mempertemukan peneliti, akademisi, kementerian, dan lembaga terkait untuk merumuskan pengelolaan gambut berbasis ilmu pengetahuan.
Pembahasan berlangsung melalui Focus Group Discussion (FGD) Lahan Gambut di Jakarta, Kamis (24/9/2026). Forum tersebut membahas pengelolaan, pencegahan, deteksi dini, hingga mitigasi kebakaran lahan gambut dengan memanfaatkan hasil riset dan data.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto mengatakan pengelolaan gambut perlu dibangun melalui tiga aspek utama. Ketiganya mencakup pemanfaatan lahan, pemantauan dan deteksi dini, serta penanganan ketika kebakaran terjadi. “Jadi ada tiga aspek. Pertama, bagaimana pemanfaatan lahan gambut. Yang kedua, bagaimana mendeteksi dini, bagaimana monitoring sehingga tidak terlalu lama. Yang ketiga adalah bagaimana ketika sudah melakukan pemadamannya,” ujar Brian.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena Indonesia memiliki salah satu ekosistem gambut tropis terbesar di dunia. Dalam bahan pembahasan FGD disebutkan luas gambut Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 13,43 juta hingga 24,67 juta hektare.
Ekosistem gambut memiliki fungsi penting sebagai penyimpan karbon dan pengatur tata air. Namun, perubahan kondisi hidrologis akibat kanalisasi serta konversi lahan dalam skala besar dapat meningkatkan kerentanan gambut terhadap kekeringan dan kebakaran.
Peneliti Universitas Riau, Sigit Sutikno, menekankan bahwa pengelolaan air merupakan kunci pencegahan kebakaran gambut. Menurutnya, karakteristik gambut yang banyak mengandung air membuat kondisi muka air menjadi salah satu faktor penting yang harus terus dipantau dan dikelola. “Kita semua tahu bahwa gambut 90 persen air. Jadi permasalahan kebakaran itu permasalahan air, bagaimana kita menjaga gambut tetap basah,” ujar Sigit.
Pengelolaan air, lanjutnya, tidak hanya dilakukan ketika kebakaran telah terjadi. Ketersediaan air perlu dijaga sejak awal agar gambut tidak mengalami kondisi terlalu kering yang meningkatkan risiko kebakaran.
Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat prinsip bahwa penanganan karhutla tidak semata-mata mengandalkan operasi pemadaman. Pengelolaan tata air, pemantauan kondisi lahan, dan respons cepat menjadi rangkaian yang saling berkaitan.
Aspek lain yang dibahas dalam FGD ialah pengembangan sistem untuk mendeteksi tingkat kerentanan gambut terhadap kebakaran. Bagus Muljadi dari Nottingham University memaparkan pengembangan model yang menggunakan sejumlah variabel, antara lain suhu udara, kelembaban, tinggi muka air, dan curah hujan. Kombinasi data tersebut dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi perubahan kondisi gambut dan mendukung sistem peringatan dini.
Pemanfaatan data menjadi semakin penting untuk mempercepat pengambilan keputusan di lapangan. Ketika perubahan kondisi gambut dapat diketahui lebih awal, langkah pencegahan dan penanganan dapat dilakukan sebelum api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Karena itu, FGD juga menyoroti perlunya mengintegrasikan data dan sistem pemantauan yang telah dikembangkan berbagai kementerian/lembaga (K/L) serta institusi penelitian. Integrasi tersebut diharapkan membuat data penelitian tidak berhenti sebagai informasi akademik, tetapi dapat digunakan untuk kebutuhan operasional, termasuk menentukan lokasi yang membutuhkan pemantauan dan intervensi lebih cepat.
FGD menghadirkan sejumlah peneliti, akademisi, dan perwakilan kementerian/lembaga, antara lain Bagus Muljadi dari Nottingham University, Ati Dwi Nurhayati dari Institut Pertanian Bogor, Atekan dari Kementerian Pertanian, Yulianto S. Nugroho dari Universitas Indonesia, serta Sigit Sutikno dari Universitas Riau.
Pertukaran pengetahuan dalam forum tersebut diarahkan untuk mempertemukan hasil riset dengan kebutuhan penanganan gambut di lapangan. Pendekatan ini mencakup pemanfaatan lahan secara tepat, pemantauan kondisi gambut, deteksi dini risiko kebakaran, pengelolaan tata air, hingga pemadaman ketika terjadi kebakaran.
Melalui FGD Lahan Gambut, Kemdiktisaintek mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, peneliti, kementerian/lembaga, dan pemangku kepentingan lainnya. Hasil riset dan data diharapkan menjadi pijakan dalam membangun pengelolaan gambut yang lebih terintegrasi dan berbasis bukti.
Dengan pendekatan tersebut, upaya pencegahan karhutla diarahkan tidak hanya pada respons ketika api telah muncul, tetapi dimulai dari memahami kondisi gambut, menjaga keseimbangan air, memantau perubahan secara berkala, serta membangun sistem deteksi dini yang dapat mendukung respons cepat di lapangan.