Jakarta, InfoPublik — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid memiliki peran strategis sebagai pusat pemberdayaan umat, bukan hanya sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual. Gagasan tersebut disampaikan Menag dalam peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad saw 1447 H yang digelar di Masjid As-Syifa Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Dalam forum keagamaan yang diselenggarakan oleh Divisi Bedah Saraf Departemen Neurologi RSCM bersama jajaran staf terkait itu, Menag menekankan bahwa sejak masa Rasulullah SAW, masjid berfungsi sebagai jantung peradaban umat Islam.
Menurut Menag, fungsi masjid pada masa Nabi tidak terbatas pada aktivitas ibadah mahdhah. Masjid justru menjadi pusat pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, hingga pengambilan keputusan penting umat.
“Masjid pada masa Rasulullah hanya sekitar 10 sampai 15 persen digunakan untuk ibadah ritual. Selebihnya menjadi balai musyawarah, pusat pendidikan, pengadilan, tempat pemberdayaan keterampilan, bahkan sekretariat negara. Masjid adalah jantung peradaban umat Islam,” ujar Menag.
Ia menilai, semangat tersebut relevan untuk dihidupkan kembali pada konteks kekinian, termasuk di lingkungan rumah sakit. Menurutnya, masjid di kawasan layanan kesehatan seperti Masjid As-Syifa RSCM dapat berperan sebagai ruang penguatan spiritual bagi tenaga kesehatan, pasien, maupun keluarga pasien.
Menag juga mengulas makna kata “masjid” yang berasal dari akar kata sajada, yang berarti sujud. Namun, ia menekankan bahwa sujud sejati tidak sebatas gerakan fisik, melainkan totalitas penyerahan diri kepada Allah Swt.
“Banyak dari kita hanya ‘sajad’, menundukkan kepala, tapi belum ‘sujud’ secara utuh. Sujud adalah puncak penghambaan, ketika pikiran, hati, dan jiwa sepenuhnya berserah kepada Allah,” tuturnya.
Dalam tausiyahnya, Menag mengaitkan makna tersebut dengan ayat “Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin”, yang menegaskan bahwa seluruh aspek kehidupan manusia seharusnya berorientasi kepada Allah. Dari sinilah, masjid dipandang sebagai simbol perjalanan spiritual manusia menuju pembersihan diri.
Lebih lanjut, Menag mendorong agar masjid bertransformasi menjadi pusat solusi sosial. Ia mencontohkan peran masjid pada masa Rasulullah yang aktif mengidentifikasi warga yang membutuhkan bantuan, mengelola dana umat, serta mendistribusikan zakat dan sedekah secara terorganisasi.
“Masjid harus memberdayakan umat, bukan sebaliknya umat hanya memberdayakan masjid. Jika potensi zakat, wakaf, infak, dan sedekah dikelola optimal melalui masjid, umat Islam bisa mandiri secara ekonomi dan sosial,” tegasnya.
Menurut Menag, penguatan peran masjid menjadi semakin relevan menjelang bulan suci Ramadhan, sebagai pusat ibadah, pusat pembelajaran, sekaligus pusat kepedulian sosial.
Menutup tausiyahnya, Menag mengajak jamaah mempersiapkan diri menyambut Ramadhan sejak bulan Rajab dan Sya’ban, melalui taubat, peningkatan kualitas shalat, dan pendalaman Al-Qur’an.
“Ramadhan akan bermakna jika kita datang dengan hati yang telah disucikan. Mari menjadikan masjid sebagai rumah bagi jiwa-jiwa yang ingin kembali kepada Allah,” pungkasnya.
Kegiatan Tabligh Akbar 1447 H di Masjid As-Syifa RSCM berlangsung khidmat dan diakhiri dengan doa bersama sebagai ikhtiar spiritual keluarga besar RSCM dalam menyambut Ramadhan dengan semangat pelayanan dan kepedulian yang lebih kuat.