Jakarta, InfoPublik – Kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, ke dua kampus di Kalimantan Utara bukan sekadar agenda protokoler atau tinjauan infrastruktur. Di baliknya, ada misi strategis: membangun fondasi pendidikan unggulan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) dan memperkuat ekosistem riset di wilayah perbatasan yang selama ini kerap luput dari sorotan pembangunan nasional.
Kehadiran Stella Christie di Universitas Kaltara (Unikaltar) dan Universitas Borneo Tarakan (UBT) membawa pesan kuat: inovasi dan sumber daya manusia unggul harus tumbuh dari seluruh pelosok Indonesia, bukan hanya dari pusat-pusat kota besar di Jawa.
“Presiden Prabowo Subianto percaya bahwa talenta tersebar di seluruh negeri. Sekolah Garuda adalah jembatan untuk mengubah potensi itu menjadi kekuatan bangsa,” ujar Wamen Stella dalam sesi dialog di Unikaltar, Tanjung Selor, Selasa (15/7/2025).
Peninjauan Wamen Stella ke tiga calon lokasi pembangunan Sekolah Garuda Baru di Kalimantan Utara mencerminkan orientasi pemerataan kualitas pendidikan. Salah satu titik terkuat berada di kawasan bukit dekat Kantor DPRD, direncanakan seluas 20 hektare dan siap menampung hingga 480 siswa, dengan pendekatan pembelajaran berbasis STEM, kepemimpinan, dan kearifan lokal.
Langkah ini tidak hanya soal membangun gedung sekolah, tapi membentuk ekosistem pendidikan elite yang tetap membumi, sekaligus mencetak pemimpin masa depan dari daerah yang selama ini berada di garis depan geopolitik Indonesia.
Wamen Stella mengapresiasi visi riset jangka panjang kampus, yang menargetkan Unikaltar sebagai Center of Excellence 2031. Fokus pada kemandirian pangan, energi terbarukan, serta pengembangan lahan basah dan SDG Center menjadi bukti bahwa kampus ini tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga menjawab tantangan lokal dan global.
Di UBT, meski masih tergolong muda, Stella menyebut bahwa kampus ini telah menunjukkan transformasi yang signifikan, terutama melalui pengembangan Science Techno Park, riset rumput laut, serta program Desa Energi Berdikari.
“UBT sedang dalam jalur yang tepat untuk menjadi pusat inovasi. Kita harus membuka akses data riset dan menjembatani kolaborasi dengan industri,” tegasnya.
Salah satu pendekatan analitis dalam kunjungan ini adalah penekanan pada hilirisasi riset dan keterbukaan kampus terhadap mitra industri. Dengan tambahan anggaran Rp1,8 triliun untuk riset nasional pada 2025, pemerintah ingin memastikan bahwa hasil-hasil penelitian tidak lagi terjebak di jurnal, melainkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat dan perekonomian lokal.
Wamen Stella juga mendorong agar mahasiswa juga menjadi bagian dari ekosistem riset. Bukan sekadar pelengkap, tapi aktor utama dalam membentuk karakter problem-solver dan pemikir kritis—kompetensi kunci dalam dunia kerja global yang terus berubah cepat.
Penegasan bahwa Sekolah Garuda bukan hanya soal infrastruktur, melainkan simbol keadilan pendidikan dan penguatan identitas lokal, menjadi benang merah dari seluruh agenda Wamendiktisaintek di Kalimantan Utara.
Dengan potensi alam, kekayaan etnis, dan letak strategis di perbatasan Malaysia, Kaltara adalah laboratorium masa depan Indonesia—di mana sains, teknologi, dan budaya lokal bisa tumbuh harmonis.
“Jika terwujud, kami ingin Unikaltar dan UBT bukan hanya jadi mitra teknis, tapi juga rumah bagi ekosistem pendidikan yang menyatu dengan masyarakat,” ujar Stella Christie.
Dengan agenda seperti ini, Kemdiktisaintek menunjukkan perubahan paradigma: wilayah perbatasan bukan lagi dianggap sebagai wilayah pinggiran, tetapi pusat baru pertumbuhan ilmu pengetahuan dan pendidikan berkualitas.
Kalimantan Utara tidak hanya disiapkan sebagai kawasan industri hijau dan gerbang ekonomi, tetapi juga pusat lahirnya SDM unggul yang berakar pada keunikan lokal dan berdaya saing global. Sekolah Garuda di Kaltara adalah langkah awal menuju arah itu.