Jakarta, InfoPublik – Negara-negara ASEAN memperkuat kerja sama pengembangan teknologi modifikasi cuaca untuk menghadapi meningkatnya risiko cuaca dan iklim ekstrem. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mendukung pengelolaan sumber daya air, mitigasi bencana, serta penguatan ketahanan kawasan terhadap perubahan cuaca.
Upaya itu dibahas dalam ASEAN Workshop on Weather Modification Science and Emerging Technologies 2026 yang dibuka Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani di Auditorium BMKG, Kamis (10/9/2026). Workshop berlangsung secara hybrid pada 10–12 September 2026 dan mempertemukan pakar, peneliti, praktisi, serta pembuat kebijakan dari negara-negara ASEAN.
Teuku Faisal mengatakan tantangan cuaca dan iklim global mendorong pemerintah berbagai negara mengeksplorasi pendekatan baru untuk memperkuat ketahanan terhadap cuaca ekstrem, mengelola sumber daya air, dan mengurangi risiko bencana. “Seiring meningkatnya tantangan cuaca dan iklim global, pemerintah di berbagai negara terus mengeksplorasi berbagai pendekatan untuk memperkuat ketahanan, mendukung manajemen sumber daya air, memitigasi risiko bencana, serta menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya seperti disampaikan dalam keterangan BMKG.
Menurutnya, penguasaan sains, inovasi teknologi, dan kolaborasi internasional menjadi faktor penting untuk meningkatkan kapasitas modifikasi cuaca. Perkembangan teknologi juga membuka peluang bagi operasi modifikasi cuaca yang semakin efektif dan berbasis data ilmiah.
Kerja sama regional dinilai penting karena dampak cuaca dan iklim tidak mengenal batas negara. Dalam konteks tersebut, ASEAN Weather Modification Centre (AWMC) menjadi salah satu platform untuk memperkuat pertukaran pengetahuan, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, dan kolaborasi ilmiah antarnegara ASEAN.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG sekaligus Chairman ASEAN Weather Modification Centre Tri Handoko Seto mengatakan workshop tersebut menjadi bagian dari komitmen Indonesia memperkuat kerja sama regional di bidang sains dan teknologi modifikasi cuaca.
Indonesia saat ini memegang mandat sebagai Ketua AWMC periode 2026–2027. Salah satu prioritas dalam kepemimpinan tersebut ialah memperkuat capacity building, kolaborasi ilmiah, dan pertukaran pengetahuan di antara negara anggota.
“Workshop ini merupakan salah satu langkah konkret untuk merealisasikan komitmen tersebut. Kami berharap diskusi yang berlangsung dapat menghasilkan fondasi yang kuat bagi pengembangan kerja sama di bawah kerangka AWMC ke depan,” ujar Seto.
Ia menjelaskan, modifikasi cuaca kini berkembang menjadi bidang yang semakin didukung teknologi tinggi. Workshop tersebut membahas berbagai aspek, mulai dari observasi atmosfer, fisika awan, riset cloud chamber, pemodelan numerik, pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), hingga teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV).
Kerja Sama Berbasis Sains Meteorologi
Sementara itu, Direktur Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN Kementerian Luar Negeri RI Yuliana Bahar mengatakan kemampuan menghasilkan informasi dan prakiraan cuaca yang akurat telah membantu negara-negara ASEAN memperkuat pendekatan pencegahan dalam menghadapi bencana.
Menurutnya, kerja sama berbasis sains meteorologi berperan dalam mendukung mitigasi bencana, ketahanan pangan, serta penanganan kabut asap lintas batas. “Ilmu meteorologi memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan kawasan terhadap berbagai ancaman bencana yang dipicu oleh cuaca dan iklim,” katanya.
Yuliana menilai pengembangan teknologi modifikasi cuaca semakin relevan dengan kebutuhan kawasan. Teknologi tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung ketersediaan air, mengurangi dampak asap, melindungi infrastruktur vital, dan membantu pengelolaan dampak cuaca ekstrem.
Melalui workshop tersebut, BMKG berharap kerja sama antarnegara ASEAN tidak berhenti pada pertukaran informasi, tetapi berkembang menjadi kolaborasi riset, penguatan kapasitas, dan pengembangan teknologi modifikasi cuaca yang adaptif serta berbasis sains.
Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Kementerian Luar Negeri RI, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sekretariat ASEAN, AWMC, World Meteorological Organization (WMO), serta delegasi negara-negara anggota ASEAN dan mitra.