Banyuwangi, InfoPublik - Pagi itu, halaman sebuah balai desa Kemiren di Banyuwangi dipenuhi suara riuh. Kursi plastik disusun berderet, sementara antrean warga mengular hingga ke luar gerbang. Mereka datang dengan satu tujuan: mendaftarkan diri dalam program uji coba terbatas digitalisasi perlindungan sosial (Perlinsos), sistem digital terbaru untuk penyaluran bantuan sosial (bansos).
Di antara wajah-wajah itu, ada Musrifah (75) perempuan paruh baya yang mengenakan jilbab biru muda. Tangannya memegang map plastik berisi fotokopi KTP dan kartu keluarga. Sesekali ia mengusap keringat di dahi. “Alhamdulillah sekarang lebih gampang. Cuma duduk sebentar, langsung didaftarkan,” ucapnya dengan senyum lega.
Musrifah sudah akrab dengan Program Keluarga Harapan (PKH) sejak 2009. Baginya, bantuan ini bukan sekadar uang, tapi penopang untuk menyekolahkan anak. Kini, lewat portal Perlinsos, ia merasa prosesnya jauh lebih transparan. “Dulu sering bingung, sekarang jelas sekali, tinggal lihat layar,” katanya.
Suasana di ruang pendaftaran cukup hangat. Beberapa petugas duduk di meja, membuka smart phone /HP, sementara pendamping sosial menuntun warga satu per satu. Di layar HP, nama dan data warga langsung muncul. Tak ada lagi pertanyaan berulang soal kelayakan sistem yang menilai, bukan pendamping.
Koordinator PKH Banyuwangi, Mansur Mustafa, sibuk mondar-mandir. Sesekali ia menghampiri warga yang kebingungan, lalu membantu menjelaskan. “Dengan Perlinsos ini, kita tidak bisa lagi dihapus atau ditipu. Kalau punya sawah, kalau terdaftar punya mobil, semua sudah terbaca sistem,” ujarnya.
Bagi Mustafa, sistem ini adalah jawaban atas keresahan lama. “Sering ada warga bilang tidak punya apa-apa, ternyata punya aset. Sekarang tidak bisa lagi. Semua lebih terbuka,” tegasnya.
Di pojok ruangan, seorang nenek bernama Sumiati duduk ditemani cucunya. Ia tidak punya ponsel pintar, sehingga bergantung pada agen pendamping. “Nggak ngerti HP, tapi syukur ada yang bantuin. Cepat sekali, tidak sampai satu menit sudah selesai,” katanya sambil tertawa kecil.
Ekspresi lega tampak jelas dari wajah Sumiati. Seakan beban yang selama ini menempel di pundaknya sedikit terangkat. Ia menggenggam erat lengan cucunya, seolah memastikan masa depan keluarga kecilnya tidak akan terlewat dari perhatian negara.
Antrean tetap bergerak. Warga yang sudah selesai terlihat menenteng selembar kertas tanda bukti pendaftaran. Beberapa di antaranya berfoto bersama, menunjukkan layar ponsel dengan aplikasi Perlinsos yang baru saja aktif.
“Yang bikin beda, sekarang semua transparan. Kita hanya input data, yang menentukan sistem. Jadi tidak ada pilih kasih,” terang Mustafa lagi.
Keterbukaan ini memberi rasa aman bagi pendamping. “Biasanya kita repot kalau ditanya, kenapa si A dapat, si B tidak. Sekarang cukup tunjukkan, ini loh, sistem yang menilai,” katanya.
Mustafa menuturkan, di kegiatan hari itu ada sekitar 130 warga undangan. Namun jumlah yang datang hampir dua kali lipat, lebih dari 200 orang. “Kami tetap layani semua. Mau penerima lama, mau yang baru daftar, semua difasilitasi,” jelasnya.
Keramaian siang itu tidak hanya soal antrean. Ada pedagang kecil yang memanfaatkan momen, menjajakan es teh, kerupuk, dan kacang rebus. Anak-anak berlarian di halaman, sementara ibu-ibu saling bertukar cerita tentang pengalaman mereka dengan bantuan sosial.
Di balik hiruk-pikuk itu, terselip rasa optimis. Warga merasa mereka tidak lagi sekadar nomor dalam daftar panjang, melainkan bagian dari sistem yang bisa dipantau langsung.
Ratna, yang anaknya kini kuliah di Malang, menyebut sistem ini sebagai jembatan masa depan. “Kalau lancar begini, saya yakin bantuan bisa lebih tepat. Tidak ada lagi iri-irian antar tetangga,” ujarnya.
Di kursi lain, Sunaryo, seorang bapak berusia 50 tahun, menatap layar ponsel pendamping dengan mata berbinar. “Cepat sekali, Mas. Baru masukin data, langsung keluar statusnya. Rasanya kayak dunia baru,” katanya sambil tersenyum.
Mustafa menekankan pentingnya momentum ini. “Selama sebulan penuh, mari maksimalkan. Jangan sampai ada warga yang berhak tapi terlewat,” ujarnya lantang di hadapan para pendamping.
Ia juga mengingatkan bahwa pilot project di Banyuwangi ini bisa menjadi contoh nasional. “Kalau sukses di sini, nanti bisa dipakai untuk program lain, bukan hanya bansos. Bisa untuk subsidi pendidikan, kesehatan, bahkan energi,” katanya.
Bagi warga, perubahan ini terasa nyata. Dari sekadar antre panjang tanpa kepastian, kini mereka pulang dengan keyakinan: datanya sudah masuk, statusnya akan dinilai sistem.
Matahari semakin condong ke barat, tapi antrean belum habis. Para pendamping tetap sabar melayani, mengetikkan data, memandu warga yang baru pertama kali menyentuh sistem digital.
Di wajah mereka terpancar rasa puas. “Capek sih, tapi puas, karena lebih cepat dan jelas,” ujar salah satu pendamping.
Sementara itu, Mustafa tampak duduk sebentar, menghela napas, lalu kembali berdiri membantu warga. “Ini kesempatan emas. Kita buktikan bahwa digitalisasi bisa mempermudah rakyat,” katanya.
Bagi Musrifah, Sumiati, Sunaryo, dan ratusan warga lain, hari itu bukan sekadar pendaftaran. Itu adalah hari ketika teknologi dan keadilan sosial bertemu, menyalakan harapan di tengah tantangan hidup.
Meski sederhana, momen itu membuktikan satu hal: di balik layar komputer dan aplikasi digital, ada wajah-wajah manusia yang mencari kepastian, keadilan, dan masa depan.
Dan di Banyuwangi, wajah-wajah itu tampak lebih lega dari biasanya.