Jakarta, InfoPublik – Transformasi digital tidak hanya membangun jaringan internet dan pengembangan teknologi. Lebih dari itu, digitalisasi diharapkan membuka akses pendidikan dan kesehatan, memperluas peluang ekonomi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta memberikan perlindungan kepada masyarakat di ruang digital.
Perjalanan dan capaian transformasi tersebut dirangkum Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) dalam buku Rajut Kehidupan Digital Nusantara, yang diterbitkan pada Selasa (20/10/2026). Publikasi ini merekam perjalanan transformasi digital Indonesia selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, periode 20 Oktober 2024 hingga 20 Oktober 2026.
Buku ini disusun bukan sekadar sebagai laporan program dan angka capaian kementerian, melainkan juga menghadirkan kisah masyarakat yang merasakan perubahan dari pemanfaatan teknologi digital. Pembaca dapat memahami hubungan antara kebijakan pembangunan infrastruktur, pengembangan kapasitas digital, dan perlindungan masyarakat dengan kebutuhan sehari-hari.
“Dalam dua tahun terakhir, Kemkomdigi bekerja melalui satu arah besar – Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga,” jelas Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid dalam pengantar buku tersebut.
Menurut Meutya Hafid, setiap jaringan yang dibangun, layanan yang diperbaiki, talenta yang diperkuat, dan ruang digital yang dilindungi merupakan bagian dari upaya merajut kehidupan digital Nusantara.
Rajutan itu tumbuh melalui berbagai cara, termasuk hal-hal sederhana. Warga yang tidak lagi harus mencari sinyal ke tempat lain, guru yang mulai menggunakan keterampilan digital di ruang kelas, pengurus koperasi yang perlahan meninggalkan pencatatan manual, layanan pemerintah yang mulai saling bertukar data atau keluarga yang memperoleh lebih banyak lapisan perlindungan ketika anak-anak mereka berada di ruang digital.
Laporan ini merekam sebagian dari perubahan itu. Ada capaian yang sudah dapat diukur dengan jelas, ada perubahan yang mulaiterlihat, dan ada pula dampak yang masih membutuhkan waktu serta evaluasi lebih lanjut.
“Karena itu, angka-angka dalam buku ini tidak kami tempatkan sebagai titik akhir, melainkan sebagai penanda sejauh mana sebuah proses telah bergerak,” jelas Meutya Hafid.
Tiga Pilar Transformasi Digital
Buku Rajut Kehidupan Digital Nusantara menguraikan tiga pilar utama yang menjadi arah kebijakan transformasi digital nasional.
Pilar Terhubung membahas pemerataan konektivitas melalui pembangunan jaringan telekomunikasi, penyediaan akses internet di fasilitas publik, layanan darurat 112, serta penguatan infrastruktur pemerintahan digital. Buku ini mencatat jaringan 4G telah menjangkau 98,96 persen populasi nasional. Hingga 2026, akses internet Komdigi juga menjangkau 31.864 lokasi fasilitas publik.
Pilar Tumbuh mengulas pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan membuka peluang ekonomi. Cakupannya meliputi digitalisasi perlindungan sosial, literasi dan talenta digital, digitalisasi koperasi, pengembangan kecerdasan artifisial, serta ekosistem startup dan industri gim. Sejak 2024 hingga September 2026, tercatat 871.133 peserta mengikuti program Digital Talent Scholarship dan pelatihan mikroketerampilan. Program literasi digital telah menjangkau 5,72 juta masyarakat.
Sementara itu, pilar Terjaga membahas keamanan dan kepercayaan masyarakat di ruang digital, termasuk perlindungan identitas, penanganan perjudian daring, keamanan platform, dan perlindungan anak. Buku ini mencatat 28,02 juta pelanggan telah terdaftar melalui registrasi biometrik, 5,15 juta konten negatif telah ditangani, serta 252 layanan digital telah melakukan penilaian risiko terkait perlindungan anak.
Menghadirkan Pengalaman Masyarakat
Untuk memperlihatkan dampak kebijakan secara konkret, buku ini menghadirkan sejumlah kisah dari berbagai daerah. Di Desa Jeruk Manis, Lombok Timur, perbaikan konektivitas membantu masyarakat memperoleh informasi dan memasarkan hasil pertanian tanpa harus menempuh perjalanan jauh mencari akses internet.
Di SD YPK Netar, Jayapura, ketersediaan internet membantu sekolah menyelenggarakan ujian berbasis komputer tanpa harus membawa siswa ke lokasi lain yang memiliki sinyal. Sementara di Puskesmas Camplong, Kupang, konektivitas mendukung tenaga kesehatan mengakses aplikasi untuk menunjang pelayanan.
Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan digital berkaitan langsung dengan penghematan waktu dan biaya, kemudahan memperoleh informasi, serta peningkatan akses terhadap layanan dasar.
Buku ini juga terbuka mencatat sejumlah pekerjaan yang belum selesai, mulai dari pemerataan konektivitas, perluasan digitalisasi perlindungan sosial, kebutuhan tenaga digital, hingga risiko kecerdasan artifisial seperti penipuan deepfake dan eksploitasi anak. Aspek kebutuhan energi, air, dan dampak lingkungan dari pembangunan pusat data turut menjadi bagian pembahasan.
Bisa Dibaca melalui Microsite Interaktif
Selain buku digital dalam format PDF, masyarakat dapat membaca Rajut Kehidupan Digital Nusantara melalui microsite rajutdigital.komdigi.go.id/.
Microsite ini menyediakan 14 kisah yang dikelompokkan berdasarkan tiga pilar transformasi digital. Pengunjung dapat memilih cerita, membaca data pendukung, menyimak kesaksian penerima manfaat, serta melihat keterkaitan antarkebijakan melalui visualisasi kain digital.
Tersedia pula sembilan angka kunci yang merangkum capaian transformasi digital dan sepuluh kesaksian masyarakat dari berbagai daerah.
Melalui dua format tersebut, masyarakat dapat membaca perkembangan transformasi digital sesuai kebutuhan. Microsite memberikan gambaran ringkas dan interaktif, sedangkan buku digital menyediakan dokumentasi yang lebih lengkap untuk pembacaan mendalam.
Publikasi ini diharapkan menjadi referensi masyarakat untuk memahami arah kebijakan, menilai perkembangan, sekaligus mengenali tantangan transformasi digital Indonesia ke depan.