Jakarta, InfoPublik - Lebih dari seabad lampau, tepatnya pada 1913, sentra niaga Surabaya menjadi saksi bisu lahirnya Koperasi Setia Usaha besutan Haji Oemar Said Tjokroaminoto.
Kini, semangat perlawanan terhadap ketimpangan penguasaan modal tersebut dihidupkan kembali dengan strategi yang jauh lebih tajam dan terstruktur.
Kementerian Koperasi memosisikan warisan historis tersebut sebagai fondasi utama untuk merombak tata kelola ekonomi kerakyatan masa kini.
Kebangkitan ini ditandai secara simbolis melalui peresmian gedung baru Pimpinan Pusat Syarikat Islam (SI) di Jakarta, seperti dikutip InfoPublik, Senin (19/10/2026), yang berlanjut pada perumusan cetak biru ekonomi di Kongres Nasional Surabaya.
Bangunan fisik tersebut tidak sekadar difungsikan sebagai ruang rapat administratif, melainkan ditahbiskan sebagai pusat komando pemberdayaan finansial umat.
Menteri Koperasi sekaligus Sekretaris Jenderal SI, Ferry Juliantono, memaparkan, arah kebijakan pemerintah saat ini menyasar lima pilar utama: ekonomi syariah, perkoperasian, tata kelola zakat, bisnis berkelanjutan, dan kewirausahaan.
Wujud paling konkret dari pilar ini adalah pendirian Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) secara massal, yang ditopang oleh aktivasi koperasi berbasis pesantren dan masjid.
Kehadiran ratusan ribu titik niaga mikro ini ditargetkan mampu menyapu bersih praktik pinjaman ilegal yang selama ini mencekik leher rakyat kecil. "Kami akan mengaktifkan seluruh cabang untuk membebaskan masyarakat dari jeratan pinjaman ilegal, memberikan bantuan pangan, serta menyelesaikan persoalan warga yang miskin," ujar Menkop Ferry merinci peta jalan institusinya.
Masjid Baitur Rahman di Jakarta menjadi salah satu proyek percontohan fungsionalisasi rumah ibadah.
Melalui intervensi Kementerian Koperasi, fungsi masjid diperlebar dari pusat spiritual menjadi sentra perputaran modal produktif bagi jemaah sekitarnya.
Transformasi ini dirancang agar masyarakat mendapatkan akses permodalan yang sehat dan mudah, tanpa harus menggadaikan masa depan kepada lintah darat.
Visi besar ini bermuara pada satu keyakinan teguh bahwa kekuatan ekonomi sejati hanya bisa dibangun di atas fondasi kerakyatan.
Koperasi diproyeksikan sebagai senjata pamungkas untuk memastikan keadilan distribusi kekayaan, sejalan dengan amanat konstitusi dan cita-cita pengentasan kemiskinan dalam Asta Cita. "Koperasi bukan sekadar usaha mencari untung, melainkan wujud solidaritas tertinggi. Inilah nilai yang mutlak kita kembangkan kembali saat ini," tegas Presiden Syarikat Islam, Hamdan Zoelva, memberikan kesimpulan filosofis atas arah baru perekonomian bangsa. (Humas Kemenkop)