Pasaman Barat, InfoPublik – Rencana pembangunan kilang minyak (refinery) di Nagari Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatra Barat (Sumbar), masih menunggu keputusan Pemerintah Pusat. Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi mengenai kelanjutan proyek yang sebelumnya diwacanakan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan hal itu saat bersilaturahmi dengan pucuk adat dan ninik mamak Air Bangis di Kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) Air Bangis, Kamis (5/11/2026). Dalam pertemuan tersebut, sejumlah tokoh adat meminta kepastian mengenai kelanjutan rencana pembangunan kilang minyak yang menjadi perhatian masyarakat setempat.
“Hingga saat ini belum ada keputusan resmi dari pusat. Jika seandainya ada perkembangan, tentu nanti akan kami beritahukan dan mendiskusikannya dengan masyarakat untuk langkah selanjutnya,” tegas Mahyeldi.
Di tengah belum adanya kepastian proyek kilang minyak, Mahyeldi menyampaikan perkembangan pembangunan Pelabuhan Teluk Tapang yang berada di kawasan Air Bangis. Pembangunan lapangan penumpukan oleh Kementerian Perhubungan telah selesai dilaksanakan.
Selanjutnya, pada 2027 direncanakan pembangunan kawasan perkantoran pelabuhan dan pembenahan dermaga. Seluruh tahapan tersebut ditargetkan rampung agar Pelabuhan Teluk Tapang dapat mulai beroperasi pada 2028.
Menurut Mahyeldi, pelabuhan tersebut memiliki posisi strategis untuk memperpendek jalur distribusi barang sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi baru di kawasan pantai barat Sumatra.
Selama ini, sejumlah komoditas unggulan Pasaman Barat, seperti minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan bijih besi, untuk keperluan ekspor masih didistribusikan melalui Pelabuhan Belawan di Medan. Beroperasinya Pelabuhan Teluk Tapang diharapkan membuat jalur distribusi lebih efisien dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
Mahyeldi menegaskan, setiap kebijakan dan pelaksanaan pembangunan harus tetap memperhatikan aspirasi serta kepentingan masyarakat setempat. Karena itu, komunikasi dan dialog dengan pucuk adat, ninik mamak, serta tokoh masyarakat perlu terus dibangun agar rencana pembangunan dapat berjalan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sebelumnya, rencana pengembangan PSN Air Bangis mencakup kawasan sekitar 30.162 hektare yang dirancang untuk menampung industri petrokimia, kilang minyak, dan pelabuhan terpadu. Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sumatra Barat.
Jika terealisasi, pengembangan kawasan berpotensi menarik investasi berskala besar, mendorong industri hilir, mempercepat pembangunan infrastruktur, serta membuka lapangan kerja pada tahap konstruksi maupun operasional. Namun, berbagai potensi tersebut masih bergantung pada kepastian keputusan dan realisasi pembangunan. (adp/hm/Diskominfotik Sumbar)