Probolinggo, InfoPublik — Sebanyak 50 santri dan santriwati mengikuti pelatihan membatik dasar. Selain memperoleh keterampilan, peserta mendapat dukungan peralatan praktik untuk mengembangkan kegiatan produktif di pesantren masing-masing.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Probolinggo, Evariani Aminuddin, membuka kegiatan tersebut di Ruang Promosi Batik Manggur, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, Minggu (1/11/2026).
Pelatihan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional itu merupakan kolaborasi Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Probolinggo. Setiap pesantren mengirimkan lima peserta.
Evariani mengatakan keterampilan membatik dapat menjadi bekal kemandirian ekonomi bagi santri. Karena itu, peserta perlu memanfaatkan pelatihan untuk mengembangkan kemampuan secara berkelanjutan.
“Selagi kita tumbuh, sejak usia kecil hingga mencapai kedewasaan, kita harus menyerap berbagai macam ilmu. Baik membatik, menjahit, memasak, maupun ilmu lainnya. Semua itu menjadi bekal untuk kehidupan kita,” ungkapnya.
Ia berharap setiap pesantren dapat mengembangkan batik dengan ciri khas masing-masing. Produk tersebut diharapkan dapat diproduksi secara mandiri dan dipasarkan untuk mendukung ekonomi pesantren serta masyarakat sekitar.
“Ketika kita membuat inovasi yang berbeda daripada yang lain, sesuatu yang tidak ditemukan di tempat lain, dan memiliki satu syarat yaitu fokus, maka hasilnya akan maksimal dan bisa dinikmati, termasuk oleh diri kita sendiri,” tegasnya.
Evariani juga membuka peluang pendampingan bagi peserta yang menunjukkan kemampuan membatik. Karya terbaik akan direkomendasikan untuk ditampilkan di Rumah Batik Kota Probolinggo.
“Nanti siapa yang paling bagus, hasilnya disetorkan kepada saya. Akan saya gandeng untuk ditampilkan di Rumah Batik. Sebentar lagi kita juga memiliki ruang workshop di Rumah Batik yang bisa digunakan untuk mengedukasi dan meningkatkan keterampilan hingga peserta mampu mandiri,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Baznas Kota Probolinggo, Imanudin Abil Fida, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah untuk kegiatan produktif.
“Paradigma pengelolaan zakat saat ini bukan hanya untuk hal-hal yang bersifat konsumtif, tetapi juga produktif. Bagaimana mengembangkan inovasi dan kreativitas, mengembangkan usaha masyarakat, utamanya generasi muda,” jelasnya.
Imanudin meminta peserta menerapkan keterampilan yang diperoleh setelah kembali ke pesantren. Dukungan peralatan praktik diharapkan membantu mereka melanjutkan proses belajar dan menghasilkan karya.
“Kami berharap adik-adik semuanya tidak hanya datang, belajar membatik, kemudian setelah itu alat-alatnya disimpan di gudang. Kami ingin keterampilan ini dikembangkan di pesantren. Syukur-syukur masing-masing pesantren memiliki batik khas sendiri,” harapnya.
(mir/fa)