SLEMAN, InfoPublik - Relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) Banyuraden, Sleman menggelar simulasi edukatif penanganan satwa liar di sela-sela perhelatan bazar usaha mikro dan kecil, Senin (26/10/2026).
Kegiatan di Lapangan Sepak Bola Banyuraden, Kapanewon Gamping, ini dirancang khusus agar warga mampu menyikapi kemunculan ular di kawasan permukiman secara tenang dan terukur.
Fasilitator edukasi sekaligus anggota Destana, Kahana, menegaskan, mitigasi konflik satwa menuntut penguasaan wawasan spesifik agar tidak membahayakan nyawa manusia.
"Edukasi ini diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan warga sekaligus membangun pemahaman bahwa penanganan satwa liar membutuhkan pengetahuan, bukan sekadar keberanian," ucap Kahana saat memandu interaksi aman menggunakan ular sanca kembang.
Kehadiran reptil tersebut secara ekologis berfungsi krusial sebagai predator alami pengendali populasi hama tikus pertanian, sehingga pembunuhan satwa secara sembarangan sangat tidak dianjurkan.
Warga juga dibekali wawasan ilmiah terkait tiga karakteristik mematikan dari gigitan ular berbisa, mulai dari kerusakan sistem saraf, gangguan pembekuan darah, hingga kerusakan jaringan sel tubuh.
Guna menekan risiko fatal, masyarakat diinstruksikan untuk menjaga kebersihan pekarangan, memastikan penerangan malam hari memadai, dan segera menghubungi petugas terlatih.
"Ular tidak boleh dipegang atau ditangkap sendiri termasuk ketika jenisnya dianggap tidak berbisa, karena identifikasi berdasarkan warna dan bentuk tubuh saja dapat menyesatkan," tegas Kahana merumuskan protokol keselamatan.
Pendekatan persuasif di tengah keramaian pameran ekonomi ini terbukti efektif dalam menyebarluaskan kesadaran mitigasi kebencanaan secara inklusif.
Peningkatan literasi ekologi tersebut diproyeksikan sanggup menekan angka kecelakaan fatal sekaligus merawat keseimbangan rantai makanan di wilayah perdesaan Sleman. (MC Kab. Sleman/KIM Pararta Guna Gamping/Adnan Nurtjahjo)