Sidoarjo, InfoPublik — Penyakit jantung tidak hanya mengancam kelompok lanjut usia, tetapi juga mulai ditemukan pada kalangan muda. Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Sidoarjo mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pencegahan penyakit kardiovaskular melalui pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, dan pengendalian faktor risiko sejak dini.
Ketua YJI Cabang Sidoarjo, Sriatun Subandi, mengatakan penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Kondisi tersebut memerlukan perhatian serius karena faktor risiko penyakit jantung berkaitan erat dengan kebiasaan sehari-hari.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk semua umur tercatat sebesar 0,85 persen. Sementara itu, pada kelompok usia 25–34 tahun, prevalensinya mencapai 0,15 persen.
Sriatun menjelaskan, data tersebut menunjukkan pentingnya membangun kesadaran menjaga kesehatan jantung sejak usia muda, bukan hanya ketika seseorang telah memasuki usia lanjut.
Menurutnya, kebiasaan kurang bergerak, rendahnya konsumsi buah dan sayur, merokok, serta konsumsi gula, garam, dan lemak secara berlebihan menjadi sejumlah faktor risiko yang perlu diperhatikan masyarakat.
“Karena itu, upaya promotif dan preventif perlu terus dilakukan. Masyarakat harus semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan jantung melalui pola hidup sehat. Termasuk rutin bergerak dan memperhatikan asupan makanan sehari-hari,” ujar Sriatun dalam seminar peringatan Hari Jantung Sedunia bertema “45 Tahun Menjaga Masa Depan Negeri” di Pendopo Delta Wibawa, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, Kamis (22/10/2026).
Selain berdampak terhadap kesehatan masyarakat, penyakit kardiovaskular juga menimbulkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan yang besar.
Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat pembiayaan penyakit jantung dan stroke melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada 2023 mencapai Rp22,8 triliun.
Sriatun menilai, besarnya beban penyakit dan pembiayaan kesehatan tersebut memperlihatkan pentingnya memperkuat langkah pencegahan melalui edukasi masyarakat dan pembiasaan perilaku hidup sehat.
Upaya menjaga kesehatan jantung dapat dimulai dari aktivitas sederhana, seperti rutin berolahraga, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, menghindari rokok, serta membatasi makanan yang mengandung gula, garam, dan lemak berlebihan.
Sriatun mengapresiasi peran YJI dalam mengedukasi masyarakat untuk menjaga kesehatan jantung melalui berbagai kegiatan promotif dan preventif.
Menurutnya, pencegahan penyakit jantung membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah, keluarga, hingga masyarakat.
“Kami bangga dengan adanya YJI ini. Karena, menjaga kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya pencegahan dan membiasakan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ia berharap kegiatan edukasi dan pemeriksaan kesehatan dapat mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya, termasuk mengenali faktor risiko penyakit jantung sebelum berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius.